logo

04/04/19

Petani Keluhkan Pupuk Kurang, Jokowi Dapat Laporan Stok Aman

Petani Keluhkan Pupuk Kurang, Jokowi Dapat Laporan Stok Aman

NUSANEWS - Petani dan penjual pupuk di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengeluhkan ketersediaan pupuk kepada Presiden Joko Widodo. Keluhan itu disampaikan saat silaturahmi Jokowi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) serta Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi).

Gapoktan menyampaikan stok pupuk subsidi selalu kurang.

Paniyo, salah satu petani asal Kecamatan Ngrampal, Sragen, mengatakan dirinya saat ini menggunakan pupuk tambang. Dia memiliki lahan seluas satu hektare untuk ditanam padi.

"Saya pakai pupuk tambang karena pupuk subsidi itu kurang, jatah pupuk subsidi kurang. Kami pakai pupuk tambang sehingga bisa menghasilkan lebih," kata Paniyo kepada Jokowi di atas panggung GOR Diponegoro, Kabupaten Sragen, Rabu (3/4).

Paniyo mengatakan pihaknya sekali panen bisa menghasilkan padi sebanyak 9,5 ton. Menurut Paniyo, penghasilan bersih sekali panen sekitar Rp32,5 juta.

"Berarti urusan pupuk masih kurang," ujar Jokowi menimpali.

Sementara, Slamet Riyadi, penjual pupuk asal Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, mengatakan stok pupuk subsidi selalu kurang, sementara pupuk nonsubsidi aman. Para petani menitipkan keluhan itu kepada Slamet untuk disampaikan ke Jokowi.

"Kelihatannya selalu kurang terus, Pak (pupuk subsidi). Itu saya juga dapat titipan para petani pada mengeluh kekurangan pupuk," ujarnya.

Bahkan, kata Slamet, selama musim tanam tahun ini jatah pupuk subsidi dikurangi sampai 1/3. Namun, ia tak mengetahui alasan pengurangan pupuk subsidi tersebut.

"Terutama untuk musim ini Pak, jatahnya dikurangi hampir satu per tiga," tutur Slamet.

Jokowi langsung merespons keluhan petani dan penjual pupuk tersebut. Menurut mantan Wali Kota Solo itu, selama ini dirinya menerima laporan dari produsen pupuk bahwa ketersediaan selalu aman. Namun, kenyataan di lapangan berbeda.

"Kalau saya tanya ke produsen pupuknya, melimpah Pak, melimpah, minta berapa kita beri. Begitu tanya ke penjual pupuk kurang Pak, tanya ke petani kurang Pak. Ini yang bener yang mana," kata Jokowi.

"Saya ini langsung berhubungan dengan petani itu sudah tiap hari, pasti terima protes, (pupuk) selalu kurang," ujar Slamet menimpali.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu kemudian bertanya alasan petani tak memakai pupuk nonsubsidi. Menurut Slamet, hal tersebut lantaran harga pupuk nonsubsidi mahal bagi petani.

Slamet menjelaskan harga pupuk subsidi jenis urea per 50 kilogram sebesar Rp90 ribu, sedangkan pupuk nonsubsidi dalam kemasan 10 kilogram sebesar Rp60 ribu. Dengan demikian, harga pupuk subsidi dengan sebanyak 50 kilogram bisa mencapai Rp300 ribu.

"Ya, memang kalau harganya terpaut sangat jauh itu pasti larinya beli subsidi," kata Jokowi.

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN Untuk Like dan Follow sosial media dibawah ini agar bisa mengetahui berita terbaru Nusanews.

Komentar Pembaca

loading...