logo

06/04/19

Kampanye Akbar di GBK, Barometer Kemenangan Rakyat Indonesia

Kampanye Akbar di GBK, Barometer Kemenangan Rakyat Indonesia

Oleh: Tjahja Gunawan
wartawan senior

Berbagai persiapan kampanye akbar 7 April 2019 sudah dilakukan panitia. Persiapan teknis di lapangan terus diupdate perkembangannya dan diinformasikan ke berbagai platform media sosial terutama grup-grup WA.

Sementara masyarakat sudah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk berangkat menuju Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Tidak hanya dari Jabodetabek, tapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Tanah Air akan hadir dalam kampanye akbar di GBK. Mereka datang berbondong-bondong untuk ikut memutihkan Kota Jakarta.

Bahkan rombongan longmarch Surabaya-Jakarta pendukung Prabowo-Sandi, sampai hari Sabtu pagi ini (6/4), sudah sampai Kota Karawang, Jawa Barat.

Kampanye Akbar ini merupakan barometer bagi kemenangan Prabowo-Sandi sekaligus kemenangan Rakyat Indonesia. Antusiasme dan histeria masyarakat yang menyambut kedatangan Prabowo-Sandi di berbagai daerah, menunjukkan besarnya kehendak rakyat akan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Tanda-tanda kemenangan Prabowo-Sandi terlihat jelas saat pasangan ini turun langsung ke masyarakat. Animo rakyat kepada kedua tokoh sangat besar. Rakyat datang secara sukarela tanpa tekanan dan paksaan. Mereka juga datang bukan karena sembako atau sebagainya.

Bahkan di beberapa tempat, rakyat yang datang justru menyumbang uang kepada Prabowo-Sandi. Di Danau Cimpago, Kawasan Pantai Padang Sumatera Barat, Prabowo Subianto sempat menangis ketika menerima sumbangan uang yang diberikan secara spontan oleh seorang pendukungnya ketika sedang melakukan orasi politik diatas panggung, Selasa (2/4).

Seorang lelaki dengan pakaian berlumuran oli bekas, tiba-tiba naik ke atas panggung, kemudian menyodorkan segepok uang receh. Prabowo sempat menitikkan air mata, merasa terharu dengan keikhlasan dukungan masyarakat. Belakangan diketahui, yang menyumbangkan uangnya itu bekerja sebagai montir.

Uang itu diniatkan sebagai bagian dari usaha untuk membantu perjuangan Prabowo-Sandi.

Sandiaga Uno juga menerima sumbangan uang dari ulama, emak-emak dan milenial di Kota Medan, Sumatera Utara, bulan Desember tahun lalu.

Sandi sempat terharu ketika melihat ketulusan masyarakat yang memberikan sejumlah uang dengan nominal yang beragam. Ada yang memberikan dua ribu hingga seratus ribu. Mereka spontan mengeluarkan uang yang ada di dompetnya masing-masing.

Sandi nyaris mengeluarkan airmata ketika Ustad Heriansyah merogoh uang satu juta rupiah dari dompetnya. “Jangan dilihat dari jumlah uangnya Bang Sandi, tapi kami juga akan memberikan do’a dalam tiap sujud kami,” kata Heriansyah kepada Sandi.

Melihat aliran donasi tersebut, Mantan wakil Gubernur DKI itu tidak bisa lagi menahan emosinya. Air mata pun menitik dari kelopak matanya. Sandi berjanji, akan memberikan yang terbaik kepada masyarakat Sumut jika terpilih sebagai pemimpin mendatang.

Dari berbagai peristiwa kampanye terbuka dan sejumlah pertemuan lain yang dilakukan Prabowo-Sandi dengan masyarakat di berbagai daerah di Tanah Air, dapat diketahui besarnya getaran hati rakyat yang menginginkan perubahan di negeri ini.

Mereka yang datang ke acara-acara Prabowo-Sandi tanpa dimobilisasi tetapi atas kesadaran sendiri. Di balik gelombang dukungan pada Prabowo-Sandi, rakyat sangat mendambakan hadirnya pemimpin baru yang bisa membawa perubahan dalam kehidupan mereka.

Gelombang perubahan ini semakin besar dan tidak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu kontestasi Pemilu 2019 ini bukan semata kompetisi antara Jokowi-Maruf Amin dengan Prabowo-Sandi, tetapi perjuangan rakyat melawan rezim dzolim.

Menurut politisi senior Dr Ahmad Yani, kampanye akbar 7 April 2019, akan menjadi titik penentu, apakah Ibukota sudah “takluk” atau tidak. Menaklukkan ibukota itu adalah modal utama untuk menguasai negara.

Diakui atau tidak, senang atau tidak, saya harus katakan bahwa sejak Indonesia dipimpin Jokowi banyak menimbulkan kegaduhan terutama kerukunan hidup beragama dan hubungan sosial.

Selain itu orang-orang tidak kompeten masuk di jajaran kabinet, sehingga Indonesia semakin amburadul.

Jika ditarik benang merahnya, kegaduhan itu berawal dari ketidakmampuan Jokowi menjabat sebagai presiden Indonesia. Dia tidak mampu mengendalikan pendukungnya yang gila kekuasaan. Akibatnya, sistem tatanan negara menjadi berantakan tidak karuan. Penegakan hukum tajam ke bawah tumpul keatas, sementara kehidupan masyarakat makin menderita karena harga-harga kebutuhan sehari-hari naik.

Penegakan hukum yang tebang pilih mengakibatkan kegaduhan di masyarakat, apalagi aparat hukum juga ikut bermain berpolitik karena sudah menjadi alat kekuasaan. Belum lagi dengan besarnya utang dari China yang dibungkus melaui proyek infrastruktur, akan membawa pada runtuhnya kedaulatan ekonomi bangsa.

Semoga negara dan bangsa ini bisa segera diselamatkan. Rakyat Indonesia butuh pemimpin baru yang bisa membawa Indonesia menjadi negara adil dan makmur. Wallahu’alam. (*)

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN Untuk Like dan Follow sosial media dibawah ini agar bisa mengetahui berita terbaru Nusanews.

Komentar Pembaca

loading...