logo

30/03/19

Tak Mau Sebut Angka 2, Luhut Binsar Panjaitan: Kalau Memilih 1,3,5 yang Tahu Hanya Kau dan Tuhan

Tak Mau Sebut Angka 2, Luhut Binsar Panjaitan: Kalau Memilih 1,3,5 yang Tahu Hanya Kau dan Tuhan

NUSANEWS - Mentri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menghadiri acara Thinkubator Coference and Workshop untuk Startup Indonesia, di Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (28/3/2018).

Dalam sambutannya di hadapan ratusan anak muda, Luhut Binsar Panjaitan berpesan gunakan hak suara mereka pada Pemilu 17 April 2019 mendatang.

"Terakhir dari saya sebagai orang tua, ini mau pilpres tanggal 17 (April). Saya titip, kalian jangan tidak datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Datanglah karena itu hak demokrasi kalian," ujar Luhut Binsar Panjaitan.

Luhut Binsar Panjaitan memang tak menyarankan calon kandidat tertentu untuk dipilih.

Meski begitu, dia sempat bercanda. Luhut tidak menyebutkan angka dua saat berbicara soal kompetisi startup di Indonesia.

"Bertandinglah dengan baik, tapi walaupun kamu nomor 1, nomor dua, nomor tiga. Eh nomor satu atau tiga. Jangan ragu-ragu," ucapnya diiringi gelak tawa hadiri.

Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini mengimbau agar anak-anak muda tidak terpecah belah, hanya karena beda pandangan apalagi terkait politik.

"Kalian jangan berkelahi karena pilihannya beda, mau memilih nomor satu, nomor dua itu hak demokrasimu," katanya.

"Jangan jadi musuhan. Itu enggak bagus buat negeri kita. Tapi kamu jangan memilih karena dari berita-berita hoaks. Memilih lah, tanya hati nurani mu yang paling dalam, karena kamu bangsa Indonesia yang menentukan jalan Indonesia ke depannya," papar Luhut Binsar Panjaitan.

"Jadi saya titip, jangan musuhan, jangan berkelahi, tak elok itu. Kalau kau memilih 1,3,5 itu yang tahu hanya kau dan Tuhan. Saya enggak mau juga bekerja dengan berita hoaks. Kamu bekerja harus betul-betul dengan data," sambung mantan Kepala Staf Kepresidenan itu.

Sebelumnya, Luhut Binsar Panjaitan menilai Presiden Jokowi sosok yang lemah lembut namun tegas.

Luhut Binsar Panjaitan bahkan menyebut ketegasan Jokowi seperti jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.

"Menurut saya, Pak Jokowi adalah orang yang lemah lembut tapi tegas. Setegas Jenderal Kopassus. Hanya saja beliau mengekspresikannya berbeda dengan cara saya mengekspresikannya. Itu saja," tulis Luhut Binsar Panjaitan di akun Facebook @luhutbinsar, Minggu (3/2/2019).

Luhut Binsar Panjaitan lantas mengakui bahwa dirinya merupakan sosok yang galak, seperti pengakuan mantan anak buahnya di Kopassus dahulu.

"Kami perwira Kopassus lebih takut Pak Luhut daripada sama Fretilin," begitulah kata Letjen Herindra, salah satu mantan anak buah saya yang menceritakan kisah saat dulu kami melaksanakan tugas operasi di Timor Timur (sekarang Timor Leste), yang dikutip Luhut Binsar Panjaitan.

Luhut Binsar Panjaitan mengakui sampai sekarang masih galak. Meskipun, katanya, sekarang galaknya pakai ketawa, beda dengan dahulu yang tidak pakai ketawa.

Namun, alih-alih disebut galak, ia lebih suka memakai istilah tegas, konsisten, dan disiplin, tiga sikap yang menurutnya melekat dalam pribadinya sejak dahulu.

"Sikap tegas seperti itulah yang menyelamatkan nyawa saya dan anak-anak buah saya berkali-kali dari berbagai tugas operasi. Sebagai komandan, saya dulu termasuk yang paling sedikit kehilangan anak buah di medan perang," ungkapnya.

"Satu hal yang saya selalu tekankan pada para prajurit di bawah saya: lebih bagus kau mandi keringat di latihan daripada mandi darah di daerah operasi. Karena kalau sampai itu terjadi nanti, yang akan kehilangan kamu adalah keluargamu, anak istrimu," sambungnya.

Prinsip yang juga dipegang teguh Luhut Binsar Panjaitan adalah kesetiaan. Itu mengapa ia tidak pernah akan mau mengkhianati atasan, teman, bawahan, apalagi NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Sumpah Prajurit.

Luhut Binsar Panjaitan kemudian membeberkan alasan mengapa para menteri di Kabinet Kerja mau mengikuti kepemimpinan Jokowi.

"Itu karena keteladanan beliau, di mana Pak Jokowi selalu memberikan contoh dalam bertindak, berpikir, dan bersikap, berdasarkan karakter yang sesuai kata dengan perbuatan. Itu adalah bagian dari revolusi mental," paparnya.

Contoh gampangnya, lanjut  Luhut Binsar Panjaitan, kalau presiden-nya bersih, tidak mencuri, mana berani menteri-menterinya mencuri?

"Tidak ada juga bisnis anak-anak dan istrinya yang terkait dengan pemerintah. Ini seperti yang selalu saya katakan ke mana-mana, kalau kau enggak mau orang maling, ya kau jangan maling dulu pertama," tegasnya.

Luhut Binsar Panjaitan juga melihat Jokowi masih sesederhana dulu waktu pertama kali ia kenal, tidak berubah.

"Saya belum pernah lihat ada perubahan kecuali makin pintar, makin arif, makin berani, dan makin tegas. Inilah kesaksian saya yang sudah sekitar 4,5 tahun ini bekerja bersama beliau di dalam pemerintahan," ungkapnya. (Ria Anatasia)


SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN! untuk Like dan Follow Sosial Media Nusanews dibawah ini, agar bisa tahu berita terbaru hari ini:

Komentar Pembaca

loading...