logo

07/03/19

Menhan atau Tukang Tempeleng?

Menhan atau Tukang Tempeleng?

Oleh: Nasruddin Djoha
Pemerhati Ruang Publik

MAKIN hari menteri-menteri Jokowi makin ancuur, ittiba' persis Jokowi yang sudah ancur sejak sononya.

Coba kita ingat-ingat ulang parodi kelucuan menteri-menteri Jokowi.

Ada Puan yang mengeluarkan fatwa agar rakyat yang miskin diminta diet. Lantas, Menkes yang temukan hasil penelitian kesehatan cacing sarden mengandung protein.

Mentan minta masyarakat konsumsi keong sawah karena daging mahal.

Mendag minta tanam cabai dan kalau ada harga-harga tinggi, ditawarlah.

Kepala PLN lebih gila, dia meminta yang keberatan TDL tinggi solusinya cabut meteran.

Sekarang, lebih parah. Menhan yang ngurusi pertahanan sibuk ikut nimbrung diskursus fiqh dan agama. Sampai-sampai, sesumbar akan tempeleng yang bilang kafir.

Ini menteri pertahanan atau tukang tempeleng? Ini mau mempertahankan NKRI atau justru memporak-porandakan NKRI dengan ujaran asal tempeleng?

Frasa 'kafir' itu sudah ada sejak Alquran diturunkan. Itu sudah baku, dan sejak dahulu umat Islam menggunakan terminologi itu untuk mengklasifikasi, bukan untuk memanggil atau sebutan untuk merendahkan.

Jadi, Menhan mau menempeleng ratusan juta umat Islam di negeri ini yang terbiasa menyebut non muslim kafir karena perintah agama? Menhan berani berhadapan dengan miliaran penduduk dunia yang beragama Islam?

Menhan itu menteri pertahanan, seharusnya dia tempeleng tuh OPM yang jelas jelas memecah-belah NKRI, memberontak, bahkan membunuh warga sipil hingga TNI.

Tuh, tempeleng tuh kalau berani. Jangan cuma berani menakut-menakuti umat Islam yang taat pada agamanya.

Lagian, yang memecah belah itu SAS dan para begundal pengikutnya. Sudah lama terminologi kafir ada dan tidak menimbulkan masalah, kenapa bikin fatwa edan yang memicu keterbelahan ?

Sono, tempeleng si SAS yang kerjaannya memecah-belah umat Islam. Menhan berani?

Kami umat Islam sudah terlalu sering dizalimi, disakiti. Jangan memprovokasi dan menyulut kemarahan kami. Kami bukan anak TK yang bisa ditakut-takuti. Jadi pejabat itu omongan ditakar, dipikir, jangan asbun.

Sebelumnya Moeldoko ajak perang total, sekarang Menhan mau tempeleng-tempelengan. Ini mau ngurus negara atau mau kelola lahan parkir?

Sakit sekali menjadi umat Islam di negeri ini, kami mayoritas, kami selaku disakiti, tetapi kami pula yang selalu dipersalahkan. Coba tengok isu teroris, korbannya kami tetapi pelakunya yang dituding juga kami, jahat sekali kalian terhadap umat Islam?

Untuk Menhan, santunlah bertutur. Jika tidak bisa membela, mempertahankan dan melindungi perasaan umat Islam, jangan menyakiti.

Anda diam melihat kezaliman terhadap umat Islam saja sudah buruk, apalagi ikut-ikutan berkomentar pedih.

Ukurlah ujaran, jangan hanya berujar dengan logika 'saya', sekali kali berempatilah terhadap umat Islam. Apa pernah, Anda berujar akan tempeleng Israel yang membantai umat Islam? Tempeleng rezim Budhis Myanmar karena membantai muslim rohingya? Tempeleng rezim China karena melakukan genosida terhadap muslim Uighur ? Atau minimal, tempeleng OPM yang merongrong NKRI?

Ayolah, Anda sudah tua. Sebentar lagi tidak menjadi menteri dan akan kembali kepada umat. Jangan sembrono menyakiti hati umat.

Apa argumen Anda setelah menjadi rakyat biasa dan harus kembali berinteraksi dengan umat? (*)

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...