logo

30/03/19

Kompas Dan Bola Liar Sosial Media

Kompas Dan Bola Liar Sosial Media

MENCERMATI tulisan Redaktur Senior harian Kompas Ninok Leksono (26/3), menjadi jawaban atas apa yang berkembang seiring dengan rilis temuan survei Litbang Kompas (20/3) terkait dengan kalkulasi elektabilitas Pilpres, yang menyatakan terpangkasnya jarak antar kandidat sekitar 11 persen.

Pasca mengumumkan hasil survei, diskusi di media sosial semakin menjadi, terutama bagi para pendukung petahana. Maklum saja, meski Kompas berupaya selalu mencitrakan dirinya secara netral dan independen, kita dapat membaca serta menempatkan pendulum arah dari tensi politik Kompas.

Mengapa begitu? Sepanjang sejarahnya, Kompas memang selalu menjadi benteng penengah ideologi, dengan basis nasionalis. Dengan demikian, arah mata angin agaknya dapat terlihat, meski memang Kompas sedemikian menjaga keberimbangan. Bahkan pernah disimbolkan sebagai praktik jurnalisme kepiting, tidak langsung dan lurus melainkan berjalan menyamping serta memutar.

Apa yang hendak disampaikan Ninok Leksono, bukan sekedar pembelaan atas Ninuk Pambudy yang bertindak sebagai Pemimpin Redaksi Kompas, tetapi sekaligus mencoba mengkonsolidasi kembali posisi koran Kompas di tahun politik ini. Penegasan Ninok akan pijakan harian Kompas berkaitan dengan aspek kredibilitas.

Ninok menjadi pendekar yang turun gunung, alih-alih memberi ruang klarifikasi individual bagi tuduhan publik akan kepentingan subjektif Ninuk sebagai Pemimpin Redaksi yang memiliki kedekatan pribadi dengan salah satu pasangan calon kontestan dalam Pilpres kali ini, Kompas melalui Ninok melakukan counter narasi tidak langsung dalam rangka menciptakan situasi objektif non personal.

Kenyang makan asam garam media cetak, yang kini tengah mengalami disrupsi akibat guncangan teknologi informasi dan sosial media, membuat Kompas harus melindungi eksistensi dirinya, agar tidak semakin tergerus. Maklum, segmentasi target pembaca Kompas juga terkonstruksi oleh arah angin editorial koran itu sendiri, sehingga mengalami kekecewaan dengan interpretasi hasil survei Kompas.

Ninok mencoba menyatakan fakta adalah hal suci secara mendasar, sementara interpretasi memang akan dapat diterjemahkan secara bebas oleh semua pihak. Agaknya Ninok benar dalam hal itu, karena dalam bahasa yang sangat berhati-hati, Kompas sesungguhnya hendak menyebut bahwa elektabilitas petahana yang di bawah angka psikologis 50 persen, itu pun masih cukup aman serta jauh dari kejaran oposisi, terlebih dengan selisih dua digit.

Problemnya emosi pembaca sudah terlanjur terbentuk, terutama karena amplifikasi sosial media yang mencoba membangun relasi hasil survei Kompas dengan hubungan sosial individu Pemimpin Redaksi Kompas Ninuk Pambudy pada kubu oposisi, dengan menggunakan metode yang Ninok sebut sebagai "cocok-ology" dikait-kaitkan.

Respons Gagap Media Konvensional

Ketika hasil survei Kompas menjadi bahan pergunjingan tentang tendensi yang hendak dibawa oleh koran terbesar nasional tersebut, gaung di sosial media yang menolak dan memunculkan upaya mendelegitimasi Kompas terus terjadi. Hingga enam hari kemudian tulisan Ninok ditampilkan untuk menampik semua tuduhan tersebut.

Artikel Ninok kemudian direplikasi berbagai saluran media dalam jejaring Kompas, termasuk koran daerah yang dikelolanya. Tapi menanti klarifikasi yang begitu lama, tentu berkonsekuensi pada hantaman sosial media yang bermain dalam viralitas publik. Framing di jagad maya terbentuk, karena informasi media cetak tidak utuh ditampilkan, dan itu fatal bagi Kompas.

Tantangan terbesar media konvensional, termasuk cetak pada abad modern dimana koneksi informasi berjejaring melalui teknologi internet yang bersifat real time adalah kemampuan updating respon yang memang terjeda. Keunggulan media online adalah kemampuannya dalam tahap speed, dimana akurasi menjadi tahap kedua melalui fase depth.

Situasi tersebut berbeda dengan perilaku media cetak, karena jenjang birokrasinya bertahap. Ninok bahkan perlu menjelaskan dapur redaksi, dimana rapat pagi dan sore dilakukan untuk penetapan pemberitaan, dimana penentuan akhir dilakukan secara kolektif. Peran Pemimpin Redaksi adalah atribut figur yang hanya akan bertindak, bila ada hal penting yang tidak dapat diselesaikan melalui kesepakatan kolektif.

Pada kajian media, kita mengetahui bahwa penentuan sebuah ketertarikan akan suatu tema informasi akan berdekatan dengan, (a) aspek individu, peminatan jurnalis, (b) rutin media, melalui rapat redaksi, (c) level organisasi, terkait dengan hirarki struktural hingga pemilik, (d) ekstra media, berkenaan dengan khalayak dan aturan legal, dan pada tingkat terluar (e) ideologi terkait dengan kepentingan ideologis media.

Tidak mudah tentu mengambil titik keseimbangan dari berbagai aktivitas tersebut, terlebih untuk kemudian menjadikannya sebagai panduan dalam penetapan tema serta isu yang akan diangkat melalui media. Ada dua kaki yang harus dipertahankan, yakni sisi idealisme dan bagian komersial bisnis, antara isi kepala redaksi dan minat pembacanya.

Sosial Media Buah Konvergensi

Pada bagian akhir tulisannya, Ninok juga mengungkapkan bahwa terjadi shifting media ke arah sosial media. Konvergensi melalui teknologi media memang sebuah keniscayaan. Tinjauan yang terkait dalam sebuah proses transisi konvergensi informasi, dikaitkan dengan tingkat interaksi dan kemudahan akses, terlebih ada perilaku baru yang meruntuhkan otoritas redaksi, yakni sikap prosumer di tingkat masyarakat.

Sekali lagi, melalui pendekatan McLuhan maka kondisi determinisme teknologi kali ini, menghadirkan realitas baru dari karakteristik sosial yang semakin horisontal, membenarkan apa yang disebut Tom Nichols akan era dimana kepakaran menjelang kematian dan tidak dipedulikan publik, atau yang coba dinyatakan Ninok sebagai masa post truth, periode ketercampuran antara kebenaran dan kebohongan sebagai senyawa.

Hal terpenting dalam sosial media, adalah kemampuan verifikasi yang perlu dilakukan oleh publik itu sendiri, sebagai bagian dalam kerangka literasi, memilih dan memilah apa yang dianggap sebagai informasi yang benar dan terpercaya. Kita jelas membutuhkan waktu untuk sampai pada tahap tersebut, menstimulasi kedewasaan netizen dalam bersosial media.

Di tengah gelombang surut senjakala media cetak, apa yang terjadi dengan Kompas melalui survei elektabilitas politik Pilpres ini, membuktikan bahwa ruang kerja redaksi media konvensional tergagap menghadapi media baru bernama sosial media, meski sesungguhnya Kompas memiliki infrastruktur multiplatform yang dapat dipergunakan untuk merespon situasi percakapan publik dalam sentimen yang negatif berpotensi menggerus kredibilitas serta integritas Kompas itu sendiri.

Mungkinkah ini menjadi bagian dari agenda yang ter-setting? Perlu dilihat akankah Kompas akan melakukan rotasi dan pergantian pucuk redaksinya, sebagai bentuk pernyataan kekeliruannya, ataukah dapat diduga memang Kompas tengah menyiapkan strategi dua kaki dengan membaca kecenderungan lain dalam anomali Pilpres kali ini. Bukankah kepuasan pada kinerja petahana yang 70 persen, ternyata tidak lantas menguatkan posisi elektabilitasnya hanya terkonversi 50 persen, terlebih dampak kompatriot pasangan calon, hanya memberi efek minimal pada pembentukan elektabilitas baru, sekitar 5 persen saja?

Dalam kajian media, langkah Kompas kali ini adalah pertaruhan terbesarnya, ada kegagalan organisasi redaksi untuk responsif atas perkembangan isu, kelambanan ruang redaksi dalam menerangkan posisinya atas pemberitaan, serta terdapat kemungkinan kurangnya pembacaan utuh atas dampak yang terjadi paska pemberitaan, yang tidak diantisipasi sebelumnya.

Apakah Kompas secara sistematis telah mengkalkulasi tindakannya? Ataukah Kompas sebagai media besar menjadi korban kekejaman sosial media dalam berprasangka? Kita tentu hanya akan bisa melakukan verifikasi setelah 17 April setelah masa pencoblosan!

Yudhi Hertanto
Mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid.

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN! untuk Like dan Follow Sosial Media Nusanews dibawah ini, agar bisa tahu berita terbaru hari ini:

Komentar Pembaca

loading...