logo

25/03/19

Gurita China Dalam Proyek One Belt One Road di Indonesia

Gurita China Dalam Proyek One Belt One Road di Indonesia

NUSANEWS - Indonesia dan China akan kembali bekerjasama dalam proyek One Belt One Road (OBOR), yang terdiri dari 28 kerja sama dengan nilai mencapai Rp1.288 triliun.

“(Sebanyak) 28 proyek itu yang terpilih dengan prinsip kalau sesama badan usaha tidak sepakat, kota enggak punya alasan menahan, yang penting kita memfasilitasi,” kata Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman Ridwan Djamaluddin, ditulis di Jakarta, Senin (25/3).

Lebih lanjut Ridwan Djamaluddin mengatakan, proyek tersebut akan memberikan keuntungan bagi Indonesia. Misalnya, kerja sama terkait Pelabuhan Kuala Tanjung diharapkan mampu menarik lebih banyak shipping line.

“Nilai Proyek terbesar berada di Kalimantan Utara, dengan proyek hydropower,” kata Ridwan Djamaluddin.

Pemerintah Indonesia, ungkap Ridwan Djamaluddin, menawarkan dua kelompok proyek prioritas. Kelompok pertama mencakup empat koridor wilayah yakni Sumatera Utara (Sumut), Kaltara, Sulawesi Utara (Sulut), dan Bali. Sementara itu, kelompok kedua terdiri atas beberapa proyek di Sumatera Selatan (Sumsel), Riau, Jambi, dan Papua.

Sementara itu, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, tahap pertama proyek skala besar dari inisiatif OBOR akan ditandatangani pada April.

“China sudah menyiapkan rancangan kerangka perjanjian bersama untuk bekerja sama di Kuala Tanjung, sebagai proyek tahap pertama,” kata Luhut.

Selanjutnya, ada beberapa proyek kerja sama lain yang telah disepakati seperti Kawasan Industri Sei Mangkei dan kerja sama strategis pada Bandara Internasional Kualanamu untuk tahap kedua.

“Tahap pertama hampir selesai dengan nilai proyek beberapa miliar dolar AS yang akan ditandatangi pada waktunya, dalam satu bulan ke depan,” ujar Luhut.

Menariknya, proyek Indonesia dengan China sudah diprediksi oleh Ekonom Senior Rizal Ramli sebelumnya.

Menurut Rizal, proyek OBOR itu akan memposisikan Indonesia di bawah pengaruh China.

Hal ini sangat disayangkan, karena menurutnya, Indonesia bisa saja menempatkan diri sebagai “pemain penyeimbang” di lingkup internasional.

“Kita harus hati-hati dengan strategi loan to own China. Di beberapa negara mereka membantu proyek-proyek yang sudah pasti tidak untung. Setelah itu mereka akan memilikinya,” kata Rizal (16/3) lalu.

OBOR China adalah dalah suatu strategi pembangunan yang diusulkan oleh Presiden China Xi Jinping yang berfokus pada konektivitas dan kerja sama antara negara-negara terutama Republik Rakyat China (RRC).

Kebijakan ini meliputi pembangunan rel kereta, jalan dan pelabuhan di seluruh dunia dengan dana pinjaman dari Beijing yang bernilai miliaran dolar di sejumlah negara.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...