logo

11/03/19

Elektabilitas Naik Kata Survei, Turun Versi Jokowi

Elektabilitas Naik Kata Survei, Turun Versi Jokowi

NUSANEWS - Elektabilitas Jokowi versi mayoritas lembaga survei menempatkan kandidat petahana ini unggul dan mengalami tren peningkatan nyaris tembus angka 60%. Namun menariknya, Jokowi sendiri beberapa kali mengakui bila elektabilitas dirinya turun. Siapa yang bisa dipercaya?

Temuan perusahaan riset politik kompak menempatkan elektabilitas Jokowi unggul. Alih-alih elektabilitas turun, kemantapan pemilih terhadap capres petahana ini kian kukuh. Seperti yang dilansir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei yang dlakukan pada 24-31 Januari 2019 dan baru dirilis sebulan menjelang Pilpres ini menempatkan pasangan Jokowi-Ma'ruf berada di elektabilitas yang aman yakni mencapai 54,9%. Adapun pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi hanya mencapai 32,1%.

Hasil senada juga ditemukan perusahaan riset politik LSI Denny JA yang menempatkan Jokowi-Ma'ruf nyaris di angka 60% yakni sebesar 58,7%. Riset dilakukan pada 18-25 Februari 2019. Angka ini mengalami kenaikan bila dibanding periode riset sebelumnya yakni pada waktu 18-25 Januari 2019 yang menempatkan Jokowi-Ma'ruf sebesar 54,8%.

Capaian lembaga riset politik ini serta mayoritas lembaga riset lainnya kompak menempatkan posisi Jokowi di atas angin. Elektabilitas yang tembus di atas 50% bahkan nyaris di angka 60% ini rupanya tak linier dengan pengakuan Jokowi dalam beberapa kesempatan di hadapan para pendukungnya.

Seperti pengakuan Jokowi akhir pekan kemarin saat di hadapan pendukungnya di Istora Senayan Jakarta mengaku di sejumlah daerah elektabilitasnya bersama Ma'ruf Amin melorot. Pengakuan Jokowi ini tentu bertolak belakang dengan temuan lembaga riset politik yang justru mengabarkan elektabilitas yang meroket nyaris di angka 60%. "Kita ini sudah tinggal 36 hari, di beberapa daerah kita turun elektabilitas karena fitnah, kabar bohong," aku Jokowi.

Pengakuan semacam ini tidak hanya sekali disampaikan Jokowi. Awal Maret lalu, Jokowi juga megaku lebih detail ihwal ngedropnya elektabilitas dirinya khususnya yang terjadi di provinsi Jawa Barat hingga 8%. Lagi-lagi, perkara hoax menjadi kambing hitam Jokowi.

"Di provinsi Jawa Barat, saat itu, 1,5 bulan yang lalu kita sudah menang 4 persen. Dulu kan kita kalah telak tuh, ini sudah menang 4 persen. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tahu-tahu anjlok 8 persen," aku Jokowi saat di hadapan pendukungnya di Kendari, Sulawesi Tenggara, awal Maret ini.

Suara serupa juga diakui oleh Ma'ruf Amin yang mengaku berat dalam pertarungan perebutan suara di Sumatera Utara. Dia menyebut sejumlah daerah yang dinilai berat bagi paslon nomor urut 01. Meski mengaku berat, Ma'ruf tetap yakin kubunya mampu membukukan dukungan sebesar 60%.

"Saya pikir di Sumut ini agak berat ya. Terutama di daerah daerah yang justru di daerah-daerah seperti Medan, Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Labuhan Batu. Tapanuli Utara bagus. Ya kita kira-kira harapan bisa 60 persen," ujar Maruf Sabtu (9/3/2019) kemarin.

Perbedaan informasi antara lembaga riset politik dengan pengakuan langsung Jokowi ini maupun Maruf memang menimbulkan tanya di publik. Terlebih selisih elektabilitas Jokowi versus Prabowo versi perusahaan riset politik terpaut sangat jauh yakni di angka 20%. Selisih yang secara logis sulit dikejar Prabowo dalam situasi injury time sebulan jelang pencoblosan ini.

Namun, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf memiliki alasan atas informasi yang dibagi Jokowi tersebut. Seperti diungkap politisi PKB Maman Imanulhaq yang menyebutkan pernyataan Jokowi bertujuan untuk memotivasi pendukung agar menjaga suara khususnya di Jawa Barat. "Lebih kepada warning juga kepada kami agar tetap menjaga suara," sebut mantan anggota DPR RI ini.

Temuan perusahaan riset politik yang menempatkan pasangan Jokowi-Maruf di angka nyaris 60% semestinya tak memunculkan nada-nada kegusaran dari paslon nomor urut 01. Menjaga angka 60% dengan solid dan kukuh jauh lebih konkret ketimbang menyampaikan informasi kegelisahan di internal pendukung. Terlebih belakangan narasi menyerang kerap dilontarkan oleh kubu 01 ke paslon nomor urut 02. Lalu, publik percaya yang mana, hasil temuan perusahaan riset atau informasi dari Sang Kandidat?

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...