logo

30/03/19

BPN Tepis Ucapan Hendropriyono soal Ideologi Pancasila Vs Khilafah di Pilpres

BPN Tepis Ucapan Hendropriyono soal Ideologi Pancasila Vs Khilafah di Pilpres

NUSANEWS - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono bicara soal Pemilu 2019. Dia menyebut Pilpres 2019 ini adalah pertarungan dua ideologi, yakni Pancasila dan Khilafah. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga menilai ucapan Hendropriyono ini fitnah.

Ucapan Hendropriyono soal Pilpres 2019 adalah pertarungan ideologi antara Pancasila dan khilafah ini tengah mengemuka. Hendro menyatakan hal tersebut kepada wartawan di Gedung Pertemuan Soekarno Hatta, Jl Seno Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (28/3), setelah mengumumkan draf buku karyanya berjudul 'Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia'.

"Saya lihat sekarang ini pemilu beda dengan pemilu-pemilu yang pernah kita laksanakan sepanjang sejarah hidup bangsa kita. Pemilu kali ini yang berhadap-hadapan bukan saja hanya subjeknya, orang yang berhadapan, bukan hanya kubu, kubu dari Pak Jokowi dan kubu dari Pak prabowo, bukan, tapi ideologi," kata Hendropriyono.

"Dua ideologi ini sudah nyata kita lihat, kita jalan aja di luar kira-kira semua orang tuh dengan sepintas saja tidak perlu terlalu rumit, sudah tahu bahwa yang berhadap-hadapan adalah ideologi Pancasila berhadapan dengan ideologi khilafah. Tinggal pilih yang mana," sambung Hendro.

Hendro mengatakan rakyat harus jelas mengerti memilih yang mana untuk keselamatan bangsa. Menurutnya, Indonesia selama ini jelas berideologi Pancasila, yang telah membawa bangsa mengalami kemajuan hingga sekarang.

"Tapi dengan ideologi khilafah, ideologi ini sudah sejak 1258, abad ke-13, itu sudah tidak berfungsi. Sudah tidak ada lagi yang ngikutin cara ini," jelasnya. Hendropriyono mengatakan jangan ada yang coba-coba mengganti ideologi negara dengan khilafah karena pada akhirnya akan membawa kehancuran.

"Kita tahu apa yang terjadi di Suriah dan Irak adalah karena coba-coba. Karena coba-coba terjadi pertentangan yang luar biasa. Akhirnya dibom oleh koalisi Arab sendiri, yang bukannya suka dengan ideologi itu (khilafah). Lalu di belakangnya ya negara-negara adidayalah yang main. Inilah yang disebut proxy war. Ini yang kita ngomong perang proxy-perang proxy, ini sudah di depan mata. Kalau kita salah pilih, terjadi betul," papar Hendro.

"Saya tidak nakut-nakutin. Tapi ini adalah kenyataan. Kalau tidak percaya, keluar dari sini liat saja di situ. Banner, spanduk-spanduk itu, coba lihat. Itu kan pertarungan antara ideologi kita ini, Pancasila, dengan khilafah. Itu jelas kok," sambungnya menegaskan.

Hendropriyono lagi-lagi mengingatkan masyarakat jangan salah pilih di Pemilu 2019. Dia mengingatkan ideologi negara adalah Pancasila dan tidak bisa ditawar-tawar. Jika berganti ideologi, itu akan membawa Indonesia pada kehancuran. Dia juga mengingatkan masyarakat tidak golput demi masa depan bangsa.

"Kalau pada golput ya berarti kita terima nasib. Kita kan tidak lagi bicara cuma mencari siapa pemimpin terbaik. Tapi jangan sampai kita dipimpin oleh orang terburuk. Itu saja. Kalau sampai kita dipimpin sama orang terburuk, ada bahasa Inggris-nya, on the point of no return, kita sampai di satu titik kita tidak bisa kembali lagi. Maju kena, mundur kena. Dan ini nasib kita sekarang tinggal beberapa hari lagi," jelas mantan Ketua Umum PKPI ini.

BPN Prabowo-Sandiaga lantas menanggapi ucapan Hendropriyono ini. BPN menilai ucapan Hendropriyono soal ideologi khilafah dimaksudkan untuk mendiskreditkan Prabowo-Sandiaga.

"Pak Hendro bilang bahwa pilpres ini merupakan pertarungan ideologi khilafah dan Pancasila. Jadi ini kan mencoba mengarahkan narasi yang dituduhkan kepada kami," kata jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, kepada wartawan.

Andre mengatakan tak masuk akal jika Prabowo disebut akan mengubah Pancasila dengan ideologi khilafah. Prabowo disebut Andre sudah mengabdikan diri kepada Indonesia sejak kecil.

"Menurut kami, ini fitnah keji alias fitnah yang diarahkan kepada pasangan kami. Coba masuk akal nggak? Prabowo Subianto yang usia 18 tahun tanda tangan kontrak dengan negara ini untuk menjadi orang yang membela kedaulatan bangsa dan negara, membela Pancasila, membela UUD 1945, lalu dituduh akan mengubah ideologi Pancasila menjadi khilafah," ujar dia.

Dia kemudian bicara soal keterbukaan dan keberagaman di Partai Gerindra. Menurut Andre, partai yang dipimpin oleh Prabowo itu terbuka bagi semua agama dan golongan.

"Masuk akal nggak? Pak Prabowo itu Partai Gerindra, partai nasionalis, di mana partai ini miniatur Indonesia. Partai ini ada sayap Islam, sayap Kristen, sayap Katolik, sayap Hindu, sayap Buddha. Kami ini miniatur Indonesia," ujarnya.

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN Untuk Like dan Follow sosial media dibawah ini agar bisa mengetahui berita terbaru Nusanews.

Komentar Pembaca

loading...