logo

17/03/19

Belajar Arif Dari Surat 15 Maret

Belajar Arif Dari Surat 15 Maret

OLEH: JAYA SUPRANA

RMOL 15 Maret 2019 memberitakan bahwa SBY menulis surat sebagai berikut: 

Teman-teman, utamanya para Kader Demokrat. Setelah hampir 3 bulan saya "berpuasa" dan tidak berinteraksi di dunia media sosial, maaf, kali ini saya ingin menyampaikan sesuatu. Tadi malam, ketika saya mendampingi Ibu Ani di rumah sakit "NUH" Singapura, saya harus menenangkan perasaan Ibu Ani yang terganggu  pernyataan Pak Agum Gumelar beberapa saat yang lalu. 

Teman-teman tahu bahwa Pak Agum, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba menyerang dan mendiskreditkan saya soal pencapresan Pak Prabowo. Nampaknya Ibu Ani merasa tidak "happy" dengan kata-kata Pak Agum yang menghina saya "tidak punya prinsip". Melihat Ibu Ani sedih, saya juga ikut sedih. Ibu Ani saat ini sedang berjuang untuk melawan dan mengalahkan kanker yang menyerang dirinya. Ibu Ani bersama saya, siang dan malam, sedang berusaha untuk menjaga semangat dan kesabaran, agar tetap kuat menghadapi serangan kanker yang menimpa Ibu Ani. 

Tentu, sebagai pendamping setia Ibu Ani saya sedih kalau ada berita yang justru menggangu hati dan pikirannya. Yang kedua, ternyata yang membuat Ibu Ani sedih adalah karena kami merasa selama ini hubungan keluarga Pak Agum dengan keluarga kami baik. 

Bahkan, di samping Ibu Linda pernah bersama-sama mengemban tugas di pemerintahan selama 5 tahun, Ibu Ani juga sangat sayang kepada Ibu Linda Gumelar. Namun, saya bisa meyakinkan Ibu Ani bahwa Pak Agum menyampaikan kata-kata tak baik itu karena hampir pasti tidak tahu dilema dan persoalan yang saya & Partai Demokrat hadapi dalam pilpres 2019 ini. Jika tahu, tak akan berkata begitu. Kecuali kalau Pak Agum memang tidak suka dan benci dengan saya. 

Saya juga mengatakan kepada Ibu Ani  "Percayalah saat ini lebih banyak orang yang bersimpati dan bahkan mendoakan Ibu Ani agar Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa mengangkat penyakit Ibu Ani, dibandingkan dengan yang mencercanya". 

Pembunuhan Karakter 

Teman-teman, tentu saja saya sangat bisa menjawab & melawan  "pembunuhan karakter" dari Pak Agum Gumelar terhadap saya tersebut. Tetapi tidak perlu saya lakukan, karena saya pikir tidak tepat dan tidak bijaksana. Saya malu kalau harus bertengkar di depan publik. Apalagi saat ini situasi sosial dan politik makin panas. Bagai jerami kering di tengah musim kemarau yang ekstrim dan panjang. Yang diperlukan bukanlah api, tetapi sesuatu yang meneduhkan & menyejukkan. Apalagi polarisasi dalam kontestasi pilpres kali ini boleh dikatakan lebih keras dan ekstrim, ditambah jarak yang makin menganga antar identitas dan kelompok politik. 

Terus terang saya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di negeri ini, kalau kita semua, utamanya para pemimpin dan elit tidak pandai dan tidak arif dalam mengelolanya. 

Saya juga meyakini, bahwa meskipun sebagai anggota Wantimpres mungkin Pak Agum Gumelar sangat dekat dengan Pak Jokowi, salah satu capres kita, belum tentu kata-kata Pak Agum itu sepengetahuan atau apalagi atas permintaan Pak Jokowi. Sebab, di antara kami, Pak Jokowi dan saya, berada dalam sikap dan posisi saling menghormati. 

Secara sosial dan politik, sikap kami ini tentu wajib baik agar situasi nasional tetap teduh. Secara moralpun memang harus demikian. Saya hanya minta satu hal kepada teman-teman, termasuk kader Demokrat, yang selama ini aktif berinteraksi dengan Ibu Ani di media sosial, agar untuk sementara tidak mengabarkan berita-berita yang mengganggu hati dan pikiran Ibu Ani. 

Saya tahu Ibu Ani tidak ingin hidup menyendiri, apalagi merasa terasing lantaran sedang menderita "blood cancer". Saya tahu Ibu Ani ingin tetap berkomunikasi dengan para sahabat. Namun, sekali lagi, tolong ikut menjaga hati dan perasaan Ibu Ani dengan cara membatasi penyampaian berita atau isu yang bisa menambah beban pikirannya. Itu saja teman-teman yang ingin saya sampaikan. Selamat berjuang dan teruslah berbuat yang terbaik untuk rakyat dan Indonesia kita. Salam sayang dan salam hangat dari Ibu Ani dan saya.  SBY. Singapura, 15 Maret 2019.

Yudistira 

Silakan para SBY-Haters menyemooh saya naif atau lebay atau muluk-muluk atau apa pun namun memang sejak mengenal SBY ketika beliau masih Menteri Pertambangan-nya Gus Dur, saya meyakini sang putra terbaik Indonesia yang kemudian menjadi presiden RI masa bakti 2004-2009 dan 2009-2014 memiliki kepribadian mirip Yudistira yang arif bijaksana namun kerap dicemooh lemah, naif, peragu serta pencitraan.

Surat yang ditulis SBY di Singapura 15 Maret 2019  membuktikan saya tidak keliru. Meski bukan kader Partai Demokrat atau parpol mana pun, namun sebagai seorang rakyat jelata yang tidak memiliki kepentingan politis apalagi kekuasaan, saya mohon izin untuk lebih terharu akibat 'Surat 15 Maret' ketimbang 'Surat 11 Maret'.

Saya belajar kearifan dari Surat 15 Maret tentang bertutur kata secara beradab sambil tetap berpedoman pada falsafah jangan menghakimi serta ojo dumeh dan jihad Al nafs demi mengutamakan kasih sayang di atas segala-galanya, termasuk kebencian.

Terima kasih, SBY! Kami berdoa agar Ibu Ani cepat sembuh. AMIN.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN! untuk Like dan Follow Sosial Media Nusanews dibawah ini, agar bisa tahu berita terbaru hari ini:

Komentar Pembaca

loading...