logo

20/02/19

Cerita RR Ditegur Gus Dur Karena Kebanyakan Data Ketika Bicara Dengan Rakyat Biasa

Cerita RR Ditegur Gus Dur Karena Kebanyakan Data Ketika Bicara Dengan Rakyat Biasa

NUSANEWS - Dugaan publik bahwa capres Prabowo Subianto pasti beringas, ofensif dan emosional dalam debat capres pada Minggu malam (17/2) lalu, tidak terbukti.

Sebaliknya, ekspektasi petahana Jokowi akan bersikap tenang dan tidak emosional malah terkesan terganggu dengan perbedan pendapat.

"Saya lihat ini debat bagaikan pribadi yang tertukar, kayak pacar tertukar kok tidak seperti dugaan Prabowo kan pastinya emosional dan lain-lain. Jokowi mestinya lebih tidak emosional lagi puasa tapi ternyata tertukar," ucap ekonom kawakan Rizal Ramli dalam program acara TV One, Indonesia Lawyer Club, tadi malam (Selasa, 19/2).

Debat Pilpres putaran kedua dinilai Rizal tidak berjalan seperti lazimnya di luar negeri.

"Ini a contest of character, itu sebetulnya sensasinya," cetus Rizal.

Rizal lantas menceritakan pengalamannya mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ketika itu berkeliling desa-desa dan berdialog dengan rakyat.

"Saya menjadi menko, diajak Gus Dur keliling desa-desa di mana penontonnya rakyat biasa, ratusan ribu, yang duduk di lantai, di tanah, bawa minuman sendiri, naik truk. Saya dikasih kesempatan Gus Dur pidato, sebelum Gus Dur," tutur Rizal.

Data-data dan banyak fakta diulas Rizal dalam pidato. Namun respon rakyat tak disangkanya.

"Itu rakyat bengong lihat saya, nggak ada reaksi. Saya sampai keringat dingin," kenang Rizal.

Setelah itu Gus Dur memanggil dan menegurnya.

"Rizal kamu itu masih kayak orang akademik. Kamu tuh bicara dengan rakyat, jangan anglenya terlalu banyak, kayak di universitas, cukup dua saja. Ceritakan dengan story telling. Kamu jangan kebanyakan data, rakyat kita boro-boro 10-20 data, satu saja tidak ngerti," kata Rizal mengingat ucapan Gus Dur ketika itu.

Rizal merasa sebagai ekonom maka sewajarnya menyampaikan banyak data. Namun diingatkan lagi sama Gus Dur bahwa dirinya tengah berbicara kepada rakyat.

"Kamu pada level ini rakyat pengen lihat kamu pemimpin atau bukan?" tanya Gus Dur.

Gus Dur mengingatkan bahwa terpenting itu keberpihakan. Bagi golongan menengah dan profesional tanpa data dianggap kekalahan. Tapi bagi rakyat biasa, data bukanlah hal yang begitu penting.

"Mereka ingin tahu keberpihakannya kepada siapa, kamu memperjuangkan kepentingan kita. Nah saya kira itu strategi yang dianut Prabowo," jelas Rizal.

Sementara yang disampaikan Jokowi dalam debat, menurut Rizal, kebanyakan data dan keliru.

"Mohon maaf, saya kecewa sekali kok Pak Jokowi datanya ngasal dan ngawur. Kalau lima persen, dua persen okelah tapi ini sudah terlalu banyak," kritik Rizal yang pernah menjabat menko kemaritiman era Jokowi.

Rizal menduga ini akibat kebiasaan Asal Bapak Senang atau ABD dan semi feodal di lingkungan birokrasi. Rizal menekankan, kebiasaan ini bukan hanya terjadi di masa pemerintahan Jokowi.

"Birokrasi kita pada dasarnya feodal, semi feodal. Pada dasarnya itu ABS. Saya sering sekali menemui waktu jadi pejabat, tanya bagaimana situasi? beres Pak, nggak ada masalah. Pasti nggak beres, banyak komplain. Pejabat kalau ditanya kagak ada masalah, beres," ujar Rizal.

Semestinya, lanjut Rizal, Jokowi bisa memaparkan data yang pas dan tidak sembarangan.

"Ini kok ngasal ya kan. Mungkin karena lingkungan doyannya banget nuduh hoax-hoax, apa kena karma gitu loh. Pertanyaannya jadi siapa yang raja hoax? kalau betul Ratna Sarumpaet ratu hoax, siapa rajanya? cetus Rizal.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...