logo

18/02/19

"Ada Apa dengan Kuping Kiri Bapak?"

"Ada Apa dengan Kuping Kiri Bapak?"

Oleh: Asyari Usman*

Walaupun debat capres malam tadi biasa-biasa saja, tetapi banyak orang yang mencatat berbagai hal yang menarik perhatian. Banyak pula pemirsa yang mengungkapkan rasa puas dan rasa tak puas. Sebagian lain kelihatannya menonton dengan mata yang jeli. Lebih tepatnya dengan “mata intel”. Luar biasa hebat!

Mereka tidak sekadar menyimak paparan kedua capres, melainkan mengamati dengan sekasama apa-apa yang mereka anggap aneh.

Saking jelinya pemirsa debat capres, ada yang serentak bertanya, “Ada apa dengan kuping kiri Pak Jokowi? Kok beliau bolak-balik menyentuhkan ujung jarinya ke lubang kuping kiri itu?”

Mereka ini berpikiran macam-macam. Ada yang menyatakan keheranan mengapa harus sentuh-sentuh lubang kuping. Mereka merasa ada yang tak biasa. Bagaikan ada sesuatu yang harus dicocokkan posisinya di dalam kuping Pak Jokowi. Wallahu a’lam. Ada-ada saja tingkah pemirsa.

Banyak pula pemirsa yang merasa heran kenapa Pak Jokowi bisa relatif ‘bagus’ menjawab pertanyaan maupun menyampaikan penjelasan. Tumben. Selama hari ini beliau itu ‘kan sering tergagap-gagap menjawab pertanyaan media. Kok malam tadi bisa lebih mulus. Bagaikan ada ‘live briefing’. Hehe…

Keterlaluan kalian. Curiga terus. Tapi, begitulah gambaran tentang masyarakat yang super-kritis. Tidak perlu ditanggapi dengan pengerahan unit-unit reaksi cepat yang ada di berbgai instansi penegak hukum. Anggap saja ini fenomena peningkatan drastis kegemaran rakyat terhadap politik dan demokrasi.

Inilah pertanda rakyat semakin jeli. Barangkali, inilah buah dari iklan layanan masyarakat yang sanga positif selama ini. Iklan itu, “teliti dulu sebelum dibeli”. Tonton dulu sebelum dipilih.

Atau mungkin juga ada semacam, maaf, ‘bimbel’ untuk Pak Jokowi. Jadi, banyak hal yang bisa membantu beliau. Iya ‘kan?

Dengan begitu, janganlah selalu dihantui kecurigaan. Masa terus-menerus menyangka Pak Jokowi tak bisa menguasai masalah. Beliau ‘kan punya banyak tenaga ahli di semua bidang. Dan, bisa jadi juga Pak Presiden sudah beralih jenis bacaan. Bukan lagi komik.

Mungkin saja menjelang debat capres ini beliau intensif membaca data. Bisa jadi beliau banyak berdiskusi dengan para menteri serta para staf ahli yang superjago. Siapa tahu, bukan?

Akan tetapi, memang banyak yang bisa dipertanyakan tentang data atau angka-angka yang disampaikan Jokowi di debat malam tadi. Misalnya saja tentang kebakaran hutan yang dikatakannya sudah tidak ada lagi selama tiga tahun ini. Faktanya, kelompok pembela lingkungan, Greenpeace, membantah klaim Jokowi. Mereka mengatakan, sejak kebakaran hutan terbesar pada 2015, kebakaran terus terjadi tiap tahun hingga sekarang.

Data di Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut (Kementerian Lingkungan Hidup) menunjukkan kebakaran hutan terus terjadi. Memang luas hutan yang terbakar menurun. Pada 2016, ada 14,600 (empat belas ribu enam ratus) hektar yang terbakar. Di 2017, ada 11,127 hektar dan pada 2018 ada 4,666 hektar. Ini yang disampaikan oleh Kompasdotcom, media pendukung petahana.

Pak Jokowi juga mengatakan, 11 perusahaan besar yang terbukti membakar hutan dihukum denda 18 triliun rupiah. Tapi, Greenpeace mengatakan sepeser pun denda itu belum dibayar.

Jokowi mengatakan, impor jagung pada 2018 hanya 180,000 ton. Kenyataannya 737,000 ton lebih. Beliau katakan, produksi sawit 2018 mencapai 46 juta ton. Tapi, faktanya 34.5 juta ton. Pak Jokowi bilang, ada 16 juta petani sawit. Nyatanya hanya 3 juta saja.

Tentang beras, Pak Jokowi mengatakan total produksi sebesar 33 juta ton pada 2018 dan total konsumsi 29 juta ton. Yang benar adalah produksi beras ditambah dengan beras impor mencapai 46.5 juta ton sedangkan konsumsi 33 juta ton (2018).

Tentang jalan desa juga belepotan klaim Pak Jokowi. Beliau katakan, dia membangun 191,000 kilometer jalan desa. Tapi, menurut seorang alumni IPB, namanya Refrinal, yang benar adalah total 191,000 km itu dibangun sejak Indonesia merdeka. Sejak era Soekarno, dilanjutkan Soeharto, Habibie, dst, hingga masa Pak Jokowi sendiri.

Jokowi mengatakan, pemerintah mengubah lubang bekas galian tambang menjadi kolam ikan. Fantastik sekali. Tapi, di mana gerangan kolam ikan bekas lubang tambang itu? Bukankah lubang-lubang tambang itu tak bisa dijadikan kolam ikan karena ada radiasi yang relatif tinggi?

Ada sekian banyak lagi data keliru yang disebutkan oleh Pak Jokowi. Terlalu panjang untuk diuraikan semuanya di tulisan ini. Saya khawatir Anda bosan membacanya. Bosan membaca data keliru bisa menyebabkan Anda bosan dengan orang yang memaparkan data keliru itu.

Nah, inilah debat capres kita. Semoga di debat-debat berikutnya tidak terjadi lagi pemaparan data yang tak akurat. Kasihan para mahasiswa yang kebetulan sedang menyusun thesis terkait dengan berbagai data yang disebutkan Pak Jokowi itu.

Dan semoga juga nanti tidak ada lagi kecurigaan Anda terhadap kuping kiri Pak Jokowi.

*) Penulis adalah wartawan senior

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...