logo

25/01/19

YIM yang Jadi ‘Pesakitan’

YIM yang Jadi ‘Pesakitan’

Oleh: Setiawan Budi*

Sampai saat ini, belum menemukan alasan logis kenapa YIM merapat ke kubu petahana.

YIM pernah berkata bahwa bergabungnya ia karena tawaran dari Erick Tohir yang mampir ke mejanya. Ia menerima tawaran menjadi pengacara JKW-MA tanpa bayaran.

Well, tanpa bayaran untuk saat ini adalah kata yang sahih untuk menunjukan pada orang lain bahwa tidak ada kepentingan terselubung atas kerja sama mereka. Sayangnya, tidak semudah itu meyakinkan publik. Publi tetap menganggap ada sesuatu antara hubungan itu di bina.

Di internal PBB, YIM mengungkapkan alasannya pada tokoh2 PBB. Kedekatan ke petahana akan lebih banyak membantu partai yang di bukannya tersebut. Sepanjang tidak bergabung pada penguasa, PBB kerap tersandung berbagai masalah, puncaknya saat PBB hampir tidak lolos sebagai partai peserta pemilu karena syarat administrasi.

YIM harus berjibaku melawan aturan KPU. Hingga akhirnya, PBB bisa menjadi kontestan pemilu 2019.

Alasan logis YIM di terima para tokoh PBB, restu di dapat. Dan PBB memutuskan mendukung Jokowi 2 periode. Walaupun banyak kader di daerah kecewa, karena mereka sendiri sebabnya tidak menginginkan hal itu. Apa lah daya, dalam partai kepala adalah segalanya. Badan dan ekor harus ikuti jika ingin terus berada di dalamnya.

Iba melihat para caleg PBB, sebelum bergabung..nama PBB sangat harum di mata umat. Sebagai partai Islam, PBB sudah mendapatkan simpati dari umat atas sepak terjang YIM yang kritis pada pemerintahan dan membela umat. Ada optimisme pada diri caleg PBB ketika mereka ikut terlibat dalam pertarungan menuju parlemen.

Sayang, saat ini umat menghukum tindakan YIM. Yang mereka Kagumi, yang mereka banggakan ternyata memilih mencari kehangatan pada orang yang pernah ia serang dengan pemikiran brilian. Umat belum bisa menerima alasan yang di bawa YIM. sebagai hukumannya, umat hanya menilai dan membatin…

“Esok, aku tidak akan memilih PBB sebagai tempat ku bersuara..”

Caleg PBB down, nasi sudah jadi bubur. Nama mereka sudah terdaftar, mundur tidak mungkin lagi. Yang ada, maju dengan menyisakan sedikit harapan semoga bisa lolos menuju parlemen idaman. Ambang batas 4% itu bukan gampang, pemilu tahun lalu, di ambang batas lebih kecil dari 4%, PBB tidak lolos ke Senayan. Tahun ini, hanya bisa berdoa di tengah usaha yang sudah nyaris habis.

Caleg di paksa berjuang sendiri untuk namanya, caleg di paksa memikul beban menaikkan nama partai di saat kondisi terbalik 180 derajat. Sedangkan sang ketua, terlihat memikirkan cara lain bagaimana mengembalikan kepercayaan publik yang pernah mereka dapatkan.

3 bulan setelah bergabung ke petahana, belum ada langkah ekstrem YIM dalam mencari jalan bagaimana menaikkan nama partai mereka. Hingga saatnya, munculah pemberitaan bahwa ustad Abu Bakar Ba’asyir (ABB) akan di bebaskan karena kerja YIM yang berhasil lobi Jokowi agar tidak ada syarat tunduk pada Pancasila.

Pembebasan ust.ABB merupakan jalan tol bagi YIM menarik kembali simpati umat. Di harapkan, umat yang menjadi basis mereka bisa melihat ada kebaikan yang di bawa YIM walau sudah merapat ke istana. Sayang, langkah YIM di anggap sebagai langkah perlawanan oleh kubu petahana.

Baru beberapa hari YIM umumkan pembebasan ust.ABB, tim petahana mengambil alih komando dengan Wiranto sebagai ujung tombaknya. Seorang jokowi pun tidak di berikan panggung untuk berbicara, bahkan dirinya di anggap “GRASA GRUSU” atas kebijakan pembebasan ABB.

Tim TKN mencari korban atas kemarahan pendukung petahana atas pembebasan ABB. Siapa korban yang harus di jadikan bamper itu..? Kita sudah melihat pemberitaan sebelumnya bahwa ada 2 tokoh yang terlibat dalam pembebasan ABB, yaitu Jokowi dan YIM.

Menyalahkan Jokowi sama saja menurunkan elektabilitas beliau secara memalukan, akhirnya..nama YIM yang harus di benamkan.

Yap, YIM yang anggap dirinya akan jadi Hero karena membebaskan, saat ini telah jadi seorang PESAKITAN karena tudingan menjerumuskan pemerintahan.

YIM tertunduk lelah, dia berbicara lemah atas usaha yang gagal ia wujudkan. Ia berkata..

“Saya sudah jalankan apa kemauan presiden..”

Ucapan YIM adalah sebuah petunjuk bahwa kemauan presiden lah untuk membebaskan ABB. Bukan dirinya, dirinya hanya menjadi penyambung lidah antara pemerintah dan ABB.

YIM tersudut, yang tersisa saat ini adalah memandang orang-orang yang sedang menuding dirinya dengan tatapan miring, bahwa ada kepentingan lain pada diri YIM ketika memutuskan bergabung dengan petahana. Dan kepentingan itu di anggap berbahaya oleh tim petahana.

Maksud hati ingin menarik dukungan umat, apa daya bekum terlaksana sudah menjadi pesakitan di rumah ‘barunya”, maksud hati ingin mempermudah PBB jika merapat, apa daya..saat ini PBB dan dirinya di anggap bahaya karena manuver yang ia jalankan.

Mimpi indah itu terasa buyar dalam angan-angan. Tudingan dan perlakuan pada diri YIM seperti tidak pantas ia terima saat ini. Mereka kejam..? Darah mereka memang begitu, demi menyelamatkan junjungannya, mereka bisa lakukan apa saja. Demi mengembalikan kepercayaan, mereka bisa menjadi badak ber-muka dua.

YIM yang cerdas, kali ini harus mengakui bahwa 1 orang cerdas tidak bisa menang melawan keinginan yang terencana.

Belum terlambat untuk kembali YIM..
Belum terlambat untuk memutar haluan sebelum bubur berubah menjadi air…

Jika mau, umat pasti akan menerima mu kembali..

*) Penulis adalah Pegiat Medsos dan Pemerhati Publik

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...