logo

30/01/19

Selamat! Ahmad Dhani Masuk Universitas Perjuangan

Selamat! Ahmad Dhani Masuk Universitas Perjuangan

Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Bagi pada umumnya orang, penjara adalah tempat pemasungan kreativitas, tempat pelumpuhan segala gerak langkah, tempat penghukuman yang meyeramkan, melumpuhkan, bahkan mematikan. Namun bagi pejuang idealisme dan pemikir kebangsaan, penjara adalah “Universitas Perjuangan” tempat lahirnya karya-karya monumental dan orang-orang besar.

Karena itu, ketika lagi viral Ahmad Dhani (sang arsitek group band Dewa 19) yang santai dan ketawa-ketawa saja di vonis 18 bulan penjara akibat cuitannya di twitter, sesungguhnya senyum Ahmad Dhani menyampaikan pesan kalau tidak ada masalah fisiknya dipenjara dari pada pikirannya diperkuda. Saya jadi teringat Soekarno ketika di penjara mengatakan kepada kompeni “boleh memejarakan fisik Soekarno tetapi tidak akan bisa memejarakan pikiran Soekarno”. Selama ada celah angin selama itu pemikiran Soekarno akan menyelinap masuk ke dalam relung-relung jiwa rakyat Indonesia.

Bagi Soekarno dan tokoh-tokoh besar bangsa lainnya, penjara adalah Universitas Perjuangan. Dari balik tembok penjaralah, Soekarno melahirkan karya besar pledoinya “Indonesia Menggugat” yang berdaya ledak tinggi, berdaya gugat tinggi, membakar samangat perjuangan dan jiwa rakyat Indonesia merebut kemerdekaan.

Tokoh besar lainnya dalam sejarah revolusi Indonesia Tan Malaka, juga melahirkan karya monumentalnya “Madilog” dalam penjara yang mencita-citakan Indonesia yang bebas. Begitu pula Buya Hamka ulama besar Indonesia menjadikan penjara sebagai pusat kreativitasnya. Buya Hamka melahirkan karya besarnya tafsir “Al-Azhar” dalam penjara. Bahkan Buya Hamka pernah berterima kasih secara khusus kepada penguasa yang telah memenjarakannya.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan Ahmad Dhani dengan tiga tokoh besar dalam sejarah perjuangan Indonesia (Soekarno, Tan Malaka, Buya Hamka). Namun proses lahirnya tokoh besar itu, kini sedang dilalui juga Ahmad Dani dalam penjara.

Ketika mas Dhani meninggalkan zona nyaman sebagai musisi papan atas Indonesia, lalu memasuki dunia politik yang kemudian di penjara, maka pada dasarnya mas Dhani sudah menjadi pemikir kabangsaan. Tidak ada pemikir kebangsaan menjadi pecundang dalam penjara, sebaliknya terlalu banyak data sejarah membuktikan orang-orang besar lahir di penjara.

Jadi selamat kepada mas Dhani, sekarang telah masuk Universitas Perjuangan. Selama 18 bulan ke depan akan belajar dan mendalami lima mata kuliah utama.

Pertama, mata kuliah ketuhanan yang mengajarkan bagaimana lebih dekat dan menemukan Tuhan. Tengoklah bagaimana gelombang besar sepertiga penghuni penjara Feltham Young Offenders di London Barat menjadi Muslim. Begitu pula 10 persen tahanan di penjara-penjara AS berlomba-lomba masuk Islam setelah menemukan Tuhannya.

Kedua, mata kuliah kemanusiaan yang mengajarkan bagaimana membuang keangkuhan dan kesombongan untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan, kalau setiap jiwa itu sama pentingnya tanpa melihat ke tubuh siapa jiwa itu bersemayam. Nilai jiwa seorang gelandangan sama nilainya dengan jiwa seorang presiden sekalipun.

Ketiga, mata kuliah persatuan yang mengajarkan bagaimana bersatu dalam perbedaan, bersama dalam keragaman, menjalin persaudaraan dengan perasaan kolektivitas sosial yang sama.

Keempat, mata kuliah permusyawaratan yang mengajarkan tidak ada orang yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena itu hidup butuh kesetaraan dalam semangat musyawarah merumuskan dan memecahkan setiap masalah.

Kelima, mata kuliah keadilan yang mengajarkan bagaimana menjalani hidup tanpa harus merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Semua harus mendapatkan haknya sesuai proporsinya.

Begitulah penjara menjadi Universitas Perjuangan bagi orang-orang besar. Ahmad Dhani sudah masuk memulainya.


*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Sipili Institut Jakarta

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...