logo

11/01/19

Seharusnya Bukan Perkara Sulit buat Polisi Ungkap Teror Bom Pimpinan KPK

Seharusnya Bukan Perkara Sulit buat Polisi Ungkap Teror Bom Pimpinan KPK

NUSANEWS - Polisi disebut seharusnya tak akan kesulitan mengungkap pelaku dan motif teror bom pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Teror bom tersebut menyasar kediaman Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.

Apalagi, jika lembaga antirasuah itu membantu sepenuhnya kinerja kepolisian untuk mengungkap teror bom tersebut.

Dengan begitu, pelaku, motif dan otak teror bom itu pun akan dengan mudah diungkap oleh korps Bhayangkara.

Demikian diyakini Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Edi Hasibuan di Jakarta, Jumat(11/1).

“Kami melihat aksi teror tersebut sepertimya tidak terlalu sulit diungkap, asal polisi didukung penuh tim KPK,” yakin dia.

Dalam penelitian Lemkapi, lanjutnya, kompleksitas kasus ini adalah banyaknya informasi yang dibutuhkan Polri.

Termasuk informasi berbagai kasus korupsi yang kini ditangani KPK.

“Kami menduga motif pelaku teror ini karena sakit hati,” simpul pakar hukum dan kepolisian tersebut.

Menurut dia, saran Kapolri Jenderal Tito Karnavian agar KPK juga membentuk tim khusus perlu didukung semua pihak.

Hal ini, sambung staf pengajar ilmu hukum di Universitas Dirgantara Suryadarma Jakarta, sekaligus bentuk transparansi Polri kepada publik.

“Karena kunci terungkapnya kasus ini tidak akan lepas dari dukungan penuh dari KPK,” imbuh Edi menekankan.

Dalam hal ini, menurut dia, Kapolri telah bersikap terbuka, bahkan mempersilakan tim KPK bergabung dengan tim Polri.

“Namun demikian untuk urusan penyidikan sesuai aturan, Polri harus tetap di depan,” tutup Edi.

Untuk diketahui, teror bom berbarengan menyasar pimpinan KPK pada Rabu (9/11).

Di rumah Agus Rahardjo, ditemukan benda mencurigakan diduga bom yang digantungkan di pagar.

Sedangkan di rumah Laode M Syarif, dua kali dilempar bom molotov.

Sampai saat ini, polisi juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap belasan saksi di kedua lokasi tersebut.

Selain itu, juga didapat rekaman CCTV yang disebut merekam detik-detik teror tersebut dilancarkan.

Akan tetapi, sampai kini, belum ada titik terang atas teror bom tersebut.

Sementara, pengamat teroris dari Forum Komunikasi Rakyat untuk Transparansi (FORSI), Berman Nainggolan menduga, dua aksi teror tersebut bukan dilakukan kelompok teroris.

“Kalau ciri dan karakter bom yang digunakan teroris mengincar target banyak korban dan high explosive. Bukan dilempar ke dalam rumah,” kata Berman di Jakarta, Kamis (10/1).

Menurut Berman, bom yang dipakai teroris mayoritas biasanya mengandung bahan peledak jenis triacetone triperoxide (TATP).

“Bom teroris mudah dioperasikan dan diledakkan dengan cara sederhana. Cuma terkena panas bisa langsung meledak,” tuturnya.

Beda halnya dengan jenis bahan peledak trinitrotoluene atau TNT yang harus diledakkan dengan detonator.

Karena itu, Berman menyakini bom di rumah kedua pimpinan diduga pelaku cenderung pihak yang tak suka dengan KPK.

“Saya yakin pelaku pihak yang tak suka dengan KPK dan coba melakukan psywar secara tak langsung ke kedua pimpinan KPK. Lebih ke tindakan kriminal umum,” ungkap Berman.

“Motifnya lebih ke kriminal teror bukan bentuk teror kelompok teroris,”

“Jadi tak ada terkait motif ideologi di dalamnya. Penyidik harus sangat berhati-hati menyelidikinya,” ujarnya.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...
Loading...