logo

19/01/19

"Sang Bintang di Antara Bintang"

"Sang Bintang di Antara Bintang"

Oleh : Ruslan Ismail Mage*

Beberapa waktu lalu sesaat setelah dua Capres mengumumkan Cawapresnya, saya termasuk yang sedikit galau karena kedua Capres memilih pasangan (Cawapres) yang boleh dikata kurang memenuhi ekspektasi publik. Saya pun menulis di media online berjudul “Ukuran Baju Cawapres” yang menyoroti ukuran baju kedua cawapres kurang pas.

Sebagai petahana Jokowi memilih Cawapres Kyai Ma’ruf Amin yang secara umur dianggap oleh sebagian pemerhati bangsa sudah sepuh untuk bisa melaksanakan tugas berat sebagai wakil presiden (ukuran bajunya sempit), sehingga akan mempengaruhi pergerakannya di lapangan.

Sementara sang penantang Capres Prabowo memilih Cawapres Sandiaga Uno yang dari segi umur oleh sebagian pemerhati kepemimpinan dianggap masih terlalu muda dan kurang pengalaman untuk mengembang tugas berat sebagai wakil presiden (ukuran bajunya kelonggaran), sehingga memungkinkan melakukan manuver atau pergerakan di lapangan yang bisa menjadi boomerang bagi Prabowo.

Tulisan ini tidak lagi akan membahas soal ukuran baju Cawapres, tapi akan fokus melihat dan menilai secara jujur acara debat pertama Capres yang baru saja di gelar Kamis malam 17 Januari 2019. Terasa suasana kebatinan rakyat Indonesia sehari sebelum debat Capres digelar laksana menunggu detik-detik terakhir jelang pertandingan final sepak bola antara Indonesia versus Malaysia.

Antusiasme rakyat sebagai penonton sangat tinggi, beberapa komunitas menggelar nobar (nonton bareng) dengan layar besar. Ibu-ibu yang kali ini lebih populer disebut emma-emma tidak kalah antusiasmenya, mereka rela meninggalkan kegemarannya menonton sinetron “Cinta Suci” di SCTV karena lebih memilih menunggu dan menyaksikan debat calon pemimpin negaranya.

Semangat dan antusiasme menonton debat ternyata berlanjut di media sosial esok harinya. Beragam komentar pun bermunculan menanggapi suasana dan penampilan keempat calon pemimpin negara besar bernama Indonesia ini.

Kalau harus disimpulkan, nampak pada umumnya komentar netizen menganggap debat pertama capres kurang berkualitas, kurang menarik, kurang berbobot, dan lain sebagainya.

Penampilan dan narasi kedua Capres belum memperlihatkan visi besarnya hendak dibawa kemana Indonesia ke depan. Bahkan salah satu Capres dalam closing statementnya cenderung menyinggung dan memojotkan lawan debatnya, walau moderator sudah mengingatkan memberi closing statement yang menyejukkan.

Dari penampilan debat pertama, walau nilai-nilai perdebatan itu belum terpenuhi terlebih waktu yang disiapkan KPU sangat singkat untuk ukuran debat, namun sudah cukup untuk menilai kerakter dan kemampuan nalar yang dimiliki keempatnya.

Catatan atau pelajaran penting yang bisa dipetik dari perdebatan itu adalah “kematangan berpikir dan berturur, serta kedewasaan bersikap seseorang tidak ditentukan oleh umurnya”. Dari keempatnya Sandiaga Uno paling muda secara umur, tetapi memiliki aura kepemimpinan yang paling dewasa, paling memiliki kematangan berpikir dan kesantunan bertutur, serta memiliki tingkat pemahaman dan solusi persoalan yang dihadapi lebih baik. Sandi tampil tenang, lugas, dan cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan. Nampak sudah terbiasa dalam suasana debat sehingga tidak grogi dan tidak terpancing secara emosional dalam mengemukakan argumentasinya. Ibarat pemain sepak bola, Sandi sangat paham kapan kapten memberi umpan bola kepadanya yang dengan lihat diolah untuk kemudian ditendang langsung ke gawang lawan dan gol.

Jadi kalau harus memilih siapa bintang diantara bintang di atas panggung debat Capres gelombang pertama, mungkin kita sepakat memilih Sandiaga Uno. Saya jadi teringat pesan Bung Hatta, “Setiap jaman akan menemukan pemimpinnya”.

Lalu apakah jaman now telah menemukan pemimpinnya? Mari kita menunggu dan berikhtiar sampai tanggal 17 April 2019. Pasca debat pertama, Sipil Institute baru mengerti kenapa Prabowo memilih Sandiaga Uno.


*) Penulis adalah Direktur Sipil Institute Jakarta

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...