logo

20/01/19

Mencari 'Lelananging Jagad' Melalui Debat Presiden

Mencari 'Lelananging Jagad' Melalui Debat Presiden

SEJARAH mencatat bagaimana peradaban-peradaban hebat memilih pemimpinnya. Romawi, Persia, dan Mongol misalnya, mensyaratkan pemimpin yang tidak hanya mahir berpolitik saja, tapi juga harus ahli siasat perang, ahli beladiri dan punya kekuatan fisik terhebat dibanding semua laki-laki di angkatan perangnya.

Peradaban hebat lainnya, seperti kekhalifahan Muslim awal, bahkan menambahkan kualitas pemimpin yang lebih sulit lagi, yaitu mereka haruslah laki-laki paling alim dan paling matang ilmu agamanya. Benchmark-nya juga ditetapkan luar biasa tinggi, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang punya kualitas sangat lengkap. Beliau pengusaha sukses, ahli beladiri gulat, ahli memanah, ahli berkuda, ahli negosiasi, ahli hukum, ahli siasat, dan dipilih Allah SWT untuk menyampaikan panduan hidup bagi seluruh umat manusia.

Hasilnya, peradaban-peradaban tersebut menjadi adikuasa dunia di zamannya masing-masing. Dan itu diraih dibawah para pemimpin yang punya kualitas lengkap tadi. Orang Jawa punya terminologi khusus untuk sosok seperti itu: 'Lelananging Jagad'. Artinya lelaki yang tidak ada tandingannya, hebat di semua bidang, memimpin dengan tindakan dan teladan.

Para 'lelananging jagad' ini terpilih karena seleksi alam dan seleksi politik yang ketat. Peradaban mereka secara turun-temurun merancang proses seleksi tersebut agar yang muncul sebagai pemenang adalah individu terbaik.

Keteladanan pemimpin di masa lalu ditunjukkan dengan tindakan yang nyata. Dua pertiga kaisar Romawi mati di medan pertempuran. Mereka maju paling depan di front paling berbahaya. Rasulullah terluka terkena panah di perang Uhud. Shalahuddin Al Ayyubi berhadapan langsung dengan Richard the Lionheart di medan laga. Sedangkan Kaisar Jepang Tokihito gugur dalam perang laut di Dannoura.

Di masa itu, pemimpin yang penakut akan ditinggalkan rakyatnya atau digulingkan oleh orang lain yang lebih kuat.

Hal ini terus dilanjutkan di masa modern. Keluarga kerajaan Inggris sampai hari ini masih mewajibkan para pangerannya untuk ikut bertempur bersama pasukan terdepan. Terakhir, Pangeran Andrew hampir gugur di perang Malvinas ketika helikopter yang dipilotinya ditugaskan menjadi decoy untuk menipu rudal exocet Argentina yang menargetkan kapal induk Inggris.

Di Amerika Serikat, 26 dari 44 presidennya adalah veteran perang. Beberapa diantaranya bahkan mendapatkan medali penghargaan atas keberanian mereka di medan tempur. 18 orang lainnya yang bukan veteran perang umumnya punya track record hebat sebagai aktivis pembela kepentingan rakyat di bidang hukum, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Sebelum menjadi presiden, mereka ikut turun berdemo dan berjibaku memperbaiki sistem yang tidak pro-rakyat.

Tak heran, Inggris dan Amerika Serikat kini masih menjadi dua negara adikuasa utama di dunia. Mereka menjaga tradisi menyeleksi pemimpin dengan ketat. Para kandidat pemimpin diharuskan menempatkan 'skin in the game', berani dipermalukan dan dimintai pertanggungjawaban. Lihatlah debat presiden AS yang sangat bernas. Rakyat AS dibantu untuk melihat seluruh potensi yang dimiliki calon pemimpinnya via debat tersebut.

KPU dan Tantangan Mencari Lelananging Jagad

Sayangnya Indonesia menuju arah yang sebaliknya. KPU sebagai lembaga yang diberi mandat untuk merancang sistem seleksi pemimpin bangsa justru tidak mau membangun tradisi seleksi yang ketat. Padahal mereka punya kesempatan untuk menguatkan peradaban bangsa ini lewat sistem pemilihan yang lebih progresif.

Bukannya memperberat kriteria untuk menjadi pemimpin, KPU justru berusaha mempermudah proses seleksi agar para calon pemimpin 'tidak dipermalukan'. Ini artinya menghilangkan 'skin in the game' dalam kontestasi, sekaligus memberi kesempatan bagi calon untuk bersembunyi dibalik aturan sehingga kelemahannya tidak diketahui rakyat.

Sistem seleksi semacam ini cenderung berpihak pada kandidat yang berkualitas rendah. Mereka yang seharusnya kurang layak maju menjadi pemimpin, akan mendapat kesempatan untuk ikut berkontestasi. Dukungan elit dan pemodal pencari rente bisa membantu kandidat berkualitas rendah untuk memenangkan kontestasi. Tentunya dengan manipulasi media dan membeli oknum aparat serta oknum penyelenggara pemilihan umum.

Karena itu, saya usul agar KPU mengganti visi misinya. Visi yang pas bagi KPU adalah ‘lembaga yang bertugas mencari pemimpin bangsa dengan kualitas terbaik’. Dengan sendirinya visi ini akan mendorong KPU untuk memperbaiki diri, membenahi carut marut manajemen internalnya. Marwahnya juga akan naik di mata parpol dan kandidat, karena mereka yang berfisik loyo, berjiwa lemah dan berkualitas rendah, akan kencing berdiri ketika diuji dalam seleksi KPU.

Dalam masa yang singkat ini, hal yang masih bisa dibenahi KPU adalah konsep debat. Masih ada empat kali Debat Pilpres dalam 80 hari ke depan. Segera ubah konsep debat menjadi lebih ketat dan tanpa batasan waktu. Panggil intelektual terbaik bangsa untuk menguji mereka dalam tanya jawab yang panjang dan menekan. Biarkan moderator dan panelis menguji kandidat sampai limit terakhir yang membuat mereka tidak mampu menyembunyikan kelemahan mental, kebodohan intelektual, dan kekerdilan jiwa.

Jika ingin maju, bangsa ini harus mencari 'lelananging jagad' untuk menjadi pemimpin. Diantara dua paslon di Pilpres 2019 ini, yang memiliki potensi menjadi 'lelanganging jagad' adalah mereka yang berusaha mencapai kualitas tertinggi di semua bidang.

Dia harus berusaha menyamai intelektualitas Bung Hatta, harus berusaha bernas seperti Bung Karno, harus lugas bersiasat seperti Haji Agus Salim, harus patriotik seperti Jendral Soedirman, harus berwawasan global seperti Tan Malaka, harus pernah bertaruh nyawa demi Indonesia seperti Bung Tomo seperti dan harus menjadi panutan umat seperti Buya Hamka.

Bantulah rakyat untuk menemukan paslon yang memiliki kualitas-kualitas seperti itu. Tidak ada kata terlambat bagi KPU. Ini bukan lagi hanya urusan Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Sandi, tapi menyangkut hal yang jauh lebih besar, yaitu keseriusan kita membangun peradaban. Mulailah sekarang, dan dapatkanlah amal jariyah yang terus mengalir karena kalian adalah KPU pertama yang meletakkan dasar bagi sistem pemilihan pemimpin yang lebih berkualitas. [***]

Harryadin Mahardika
Peneliti pada Unit Kerja Khusus Brainware Universitas Indonesia

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...