logo

20/01/19

Kubu Prabowo-Sandiaga Usul Paslon Tak Bawa Sontekan Teks Saat Debat

Kubu Prabowo-Sandiaga Usul Paslon Tak Bawa Sontekan Teks Saat Debat

NUSANEWS - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus menyoroti soal teks yang dibawa pasangan calon saat debat Pilpres 2019. Untuk debat selanjutnya, paslon diusulkan untuk sama sekali tidak membawa catatan bantuan.

"Nggak ada sontekan, jadi biar aja bebas begitu, jadi bebas di atas podium capres dan cawapres tak perlu bawa sontekan dan catatan, biar isi kepala capres cawapres dieksplorasi di depan publik, karena yang penting itu isi kepala dan isi jiwa nya," ungkap Koordinator jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak di kawasan Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2019).

BPN Prabowo-Sandiaga akan melakukan evaluasi debat perdana lalu. Evaluasi akan dilakukan pada Senin (21/1) mendatang.

"Ya prinsipnya kita akan evaluasi, semuanya tentu akan dievaluasi tanggal 21 (Januari 2019)," ucap Dahnil.

Dia menyatakan Prabowo-Sandiaga akan tetap mempertahankan strategi yang tidak melakukan serangan kepada kubu lawan, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dahnil menyebut, serangan dilakukan kepada kebijakan Jokowi sebagai petahana, bukan Jokowi sebagai pribadi.

"Pada prinsipnya tidak akan pernah menyerang secara pribadi, tetapi menyerang kebijakan, kalau kebijakan harus dideabatkan. Gini, kalo itu kebijakan ya harusnya terkait kebijakan. Secara prinsip Prabowo tidak akan pernah menyerang pribadi atau yang di luar konteksnya, beliau kritik dan serang kebijakan. Itu fatsun politik yang selalu dipegang Prabowo," tuturnya.

Dahnil lalu menyoroti serangan Jokowi yang diberikan kepada Prabowo terkait caleg eks koruptor di Gerindra. Ia menuding Jokowi tak konsisten karena sudah pernah menyebut eks koruptor juga berhak ikut dalam Pileg.

"Beliau sendiri yang setuju minta napi korupsi, boleh jadi caleg. Tapi kemudian beliau seolah olah nggak setuju, tapi kemudian pernyataan tersebut disetujui beliau dan dia menuduh orang dan itu menuduh orang jadi biangnya. Dan perlu didiskusikan oleh psikolog, sosiolog, orang-orang yang dengan tidak merasa bersalah pada pagi hari bilang A sore hari bilang B dan tidak akui ucapannya," sebut Dahnil.

"Sama dengan kasus Esemka, kemudian dengan ringan 'lah kan yang saya maksud'.. Saya ndak paham watak nya apa ya, dan itu berbahaya untuk kepemimpinan, dan saya ingatkan masyarakat kita butuh pemimpin yang konsisten dalam kebenaran, konsisten dengan janjinya," tambah Dahnil.

Sebelumnya jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade juga menyoroti soal teks yang dibawa Jokowi-Ma'ruf saat debat. Ia menyebut Prabowo menggunakan isi kepala saat debat, sementara Jokowi memakai sontekan teks.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Moeldoko menepis pernyataan tersebut. Meski memakai bantuan teks, Jokowi juga dinilai berdebat menggunakan pemikirannya.

"Tulisan kan dipikir. Emang tulisan nggak dipikir?" kata Moeldoko.
(elz/fdn)

SUMBER © NUSANEWS.ID
DISARANKAN! untuk Like dan Follow Sosial Media Nusanews dibawah ini, agar bisa tahu berita terbaru hari ini:

Komentar Pembaca

loading...