logo

07/01/19

Kontroversi Larangan Nama Anak Kebarat-baratan

Kontroversi Larangan Nama Anak Kebarat-baratan

NUSANEWS - Pujangga asal Inggris, William Shakespeare pernah berkata, 'What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet'. Bila diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti, 'Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi'.

Namun bagi para wakil rakyat di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, Karanganyar, nama begitu penting terutama bagi seorang manusia. Sampai-sampai mereka berencana membikin aturan agar para orang tua memberi nama anaknya dengan landasan kearifan lokal.

"Nama-nama Jawa itu sudah tergerus oleh nama asing. Dengan adanya aturan ini supaya kita paham bahwa dari nenek moyang itu kan punya ciri khas tersendiri," ujar Ketua DPRD Karanganyar, Sumanto, saat dihubungi detikcom melalui telepon, Rabu (3/1/2018).

Untuk itulah DPRD Karanganyar mewacanakan aturan agar orang tua tidak memberikan nama anaknya yang kebarat-baratan. Aturan tersebut akan dimasukkan dalam rancangan peraturan daerah (raperda) tentang pelestarian budaya dan kearifan lokal.

Aturan itu tetapi masih dalam tahapan pembahasan, termasuk soal sifat aturan itu sebatas imbauan atau larangan. Menurut Sumanto, proses pembahasan masih panjang.

"Mungkin saja nama itu bisa dicampur, yang penting ada unsur Jawanya," ujar dia.

Wacana yang muncul di DPRD Karanganyar itu memantik komentar Komisi II DPR. Ahmad Riza Patria yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR menilai wacana itu berlebihan.

"Saya kira itu berlebihan. Nama seseorang itu menjadi hak orang tuanya. Itu kan biasanya menyangkut keturunan," ujar Riza, Senin (7/1/2019).

Menurut Riza, urusan nama tidak perlu diurusi negara. Apalagi, lanjut Riza, nama berkaitan dengan keturunan.

"Kalau dia ada keturunan China ya wajar ada china-chinanya. Kalau ada keturunan Arab ya wajar kalau kearab-araban. Kalau ada keturunan dari luar, Portugis atau apa gitu kan wajar. Atau dia menokohkan idola-idola, atau tokoh-tokoh, raja-raja di luar negeri, di dunia itu ya hak," tuturnya.

Riza menyebut yang terpenting adalah para orang tua dapat mendidik anak agar menjadi generasi yang lebih baik. Dia pun berencana meminta penjelasan Pemda Karanganyar terkait wacana tersebut.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...
Loading...