logo

22/01/19

BMKG: Teknologi Selalu Kalah dengan Alam, tapi...

BMKG: Teknologi Selalu Kalah dengan Alam, tapi...

NUSANEWS - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan pihaknya selalu berusaha mencari solusi terbaik untuk mengetahui lebih dini datangnya bencana. Namun, pada akhirnya, teknologi selalu kalah oleh alam.

"Teknologi itu selalu kalah dengan alam, sehingga kita tidak bisa tergantung pada teknologi. Tapi kultur budaya itu yang perlu dikuatkan. Menyiapkan masyarakat sewaktu-waktu terjadi guncangan di pantai lalu lari ke atas, budaya tidak mepet tinggal di pinggir pantai," kata Dwikorita seusai rapat di kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019).

"Tata ruang juga perlu diatur, teknologi tidak bisa 100 persen melindungi kita. Usulan ini, tahun ini, semoga bisa direalisasikan tahun ini, perlu satu tahun untuk uji coba. Ini suatu tantangan, menunggu teknologi terlalu lama, perlu mengedukasi waspada potensi bencana," jelasnya.

Dwikorita menjelaskan, sejak 2018, sebelum terjadinya tsunami Palu dan Selat Sunda, BMKG dan BPPT menyiapkan sistem baru untuk sensor bawah laut.

"BMKG dan BPPT menyiapkan sistem baru, pasang sensor bawah laut, mengukur tekanan hidrostatis seketika," imbuhnya.

"Sehingga ada gejala-gejala itu akan segera diketahui. Dari perubahan tekanan hidrostatis data akan terkirim ke darat, melalui berbagai hal, smart cabel, dan lain-lain. Poinnya bagaimana membaca dan mengirim bacaannya ke sumber kontrol, ke BNPB dan BMKG," bebernya.

Dwikorita menyatakan sejauh ini baru Amerika Serikat dan Jepang yang memiliki sistem sejenis tersebut.

"Kita belum ada, ini masih usulan. Baru Amerika dan Jepang, yang sudah melakukan itu Amerika itu baru uji coba," ujarnya.

Dwikorita menyatakan 90 persen tsunami disebabkan gempa tektonik bawah laut. Sisa 10 persennya disebabkan oleh bermacam hal.

"Sembilan puluh persen tsunami karena gempa tektonik di bawah laut, contoh di Aceh. Sebetulnya tsunami 10 persen bisa karena erupsi gunung api, longsor bawah laut juga, seperti Selat Sunda. Ada juga diakibatkan oleh meteor jatuh. Yang langka itu sistem kita belum disiapkan. Baru umum dan tektonik," jelas Dwikorita.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...