logo

12/01/19

Beredar Surat Pemecatan Bagus Bawana Putra, BPN Prabowo-Sandi: Sekarang Kan Rezim Hoax

Beredar Surat Pemecatan Bagus Bawana Putra, BPN Prabowo-Sandi: Sekarang Kan Rezim Hoax

NUSANEWS - Usai ditangkap sebagai pembuat hoax 7 kontainer surat suara tercoblos, beredar surat pemecatan Bagus Bawana Putra.

Bagus dipecat sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Pusat Koalisi Relawan Nasional Prabowo (Kornas Prabowo).

Menanggapi beredarnya surat pemecatan tersebut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tak mau ambil pusing.

Jurubicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean menegaskan, surat pemecatan dimaksud sama sekali tak ada kaitannya dengan capres-cawapres jagoannya.

“Surat tersebut belum terkonfirmasi, sekarang kan rezim zaman hoax, apa-apa hoax,” ucap Ferdinand dikutip dari Liputan6.com, Jumat (11/1/2019).

Sebaliknya, anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga tak peduli apakah surat pemecatan itu asli atau palsu.

“Yang jelas tidak ada kaitannya dengan Prabowo-Sandi,” tegasnya.

Di sisi lain, Ferdinand menambahkan bahwa pihak sama sekali tak memiliki surat dimaksud. Ia pun menekankan bahwa surat itu bukan pihaknya yang mengeluarkan.

“Kalau kami yang bikin seharusnya punya,” ucap Ferdinand.

Malah, terkait Bagus, ia mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya.

Tapi kalau memang Bagus membuat hoax surat suara sendiri, ia mempersilahkan kepada polisi untuk memprosesnya secara hukum.

“Silakan dipenjarakan. Kalau ada otaknya, saya minta polisi untuk bongkar,” pintanya.

Ia pun menjamin, kubu koalisi sama sekali tak terlibat dalam pusaran kasus hoax 7 kontainer surat suara tercoblos.

Ferdinand juga menegaskan, jika memang ada anggota BPN Prabowo-Sandi terlibat hoax, maka akan langsung dipecat.

“Kalau ada tim BPN (terlibat) kita siap penjarakan,” pungkasnya.

Sebelumnya, beredar di media sosial surat pemecatan Bagus Bawana Putra sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Pusat Relawan Nasional Prabowo.

Dalam surat bernomor 005/SK-KP/VII/2018 disebutkan, ada beberapa pertimbangan yang menjadi pemecatan Bagus atau BBP itu.

Pertama, pemecatan itu berdasarkan hasil rapat pengurus Koordinator Pusat Koalisi Relawan Nasional Prabowo.

Kedua, telah terjadi restrukturisasi anggota pengurus, dengan penggantian Sekjen Koordinator Pusat Kornas Prabowo.

Dan ketiga, perlu segera pengesahan jabatan waketum yang baru.

Terpampang, surat itu ditandatangani oleh Ketua Umum Kornas Prabowo, Lefiandi Airlangga dan Sekjen Ricky Sebastian Hafiz tertanggal 24 Juli 2018.

Namun yang cukup janggal adalah logo atau lambang Konas Prabowo yang menyerupai acungan dua jari.

Yakni jempol dan telunjuk yang selama ini menjadi ciri khas pasangan Prabowo-Sandi.

Selain itu, stempel yang dibubuhkan diantara tandatangan ketum dan sekjen juga menunjukkan gambar yang sama.

Nah, kejanggalan itu muncul karena penetapan nomor urut pasangan calon capres-cawapres Pilpres 2019 oleh KPU RI baru dilakukan pada 21 September 2018.

Artinya, logo dua jari, jempol dan telunjuk itu sudah ada sejak sebelum 24 Juli 2018 atau dua bulan sebelum penentuan nomor urut paslon.

Sementara, kubu Prabowo-Sandi sendiri menegaskan sama sekali tidak mengenal nama Bagus Bawana Putra.

Bahkan, kubu koalisi oposisi beramai-ramai membantah bahwa Bagus ada dalam database relawan Prabowo-Sandi.

Akan tetapi, pernyataan berbeda datang dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono.

Arief menyebut bahwa kasus yang menyeret Bagus itu adalah murni sebuah upaya kriminalisasi.

Bahkan, Arief menegaskan bahwa pihaknya bertekad akan melawan dan memberikan Bagus pendampingan untuk menghadapi kasus tersebut.

Bagus Bawana Putra sendiri dijerat polisi dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman penjara maksimal 10 tahun.

Sebelum menangkap Bagus, polisi juga telah menetapkan tiga orang berinisial J, HY, dan LS sebagai tersangka.

Ketiga pelaku tersebut memiliki peran sebagai buzzer alias penyebar hoax dimaksud.

Terbaru, polisi juga menangkap MIK (38) yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Cilegon, Banten yang turun menyebarkan berita hoax tersebut.

Berdasarkan pengakuannya kepada polisi, MIK adalah pendukung pasangan nomor urut 02 dan kerap menyebarkan berita hoax.

Tujuannya, tidak lain untuk menjatuhkan kredibilitas Jokowi-Ma’ruf di mata publik.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...