logo

22/12/18

Wartawan Diintimidasi Peserta Aksi 2112, IWO: Negeri Ini Kian Tak Aman Bagi Wartawan

Wartawan Diintimidasi Peserta Aksi 2112, IWO: Negeri Ini Kian Tak Aman Bagi Wartawan

NUSANEWS - Negeri ini semakin tidak aman lagi bagi para wartawan. Padahal, dalam melakukan tugas peliputannya, wartawan telah dilindungi oleh Undang-undang Pers nomor 40 tahun 1999.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Wartawan Online, Jhodi Yudono saat dimintai tanggapannya terkait wartawan AKURAT.CO dan Krikom.id yang diintimidasi peserta aksi 2112 di depan Kedutaan Besar Cina di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan Jumat (21/12/2018).

"Negeri ini kian tidak aman bagi warganya, termasuk bagi wartawan yang memiliki pelindung UU Pers nomor 40 tahun 1999," jelasnya.

Menurutnya, peserta aksi 2112 tersebut berani mengintimidasi wartawan karena hasil dari penegakan hukum yang kian melemah.

Jika hal ini terus terjadi, maka imbasnya adalah pertumbuhan demokrasi Indonesia akan tidak baik. Karena mereka merasa memiliki massa yang banyak dan tidak segan-segan untuk terus menekan pers.

"Kepada warga sipil yang melakukan intimidasi, saya kira ini buah dari lembeknya hukum. Kian lama, mereka yg memiliki kekuaan (massa) kian berani menekan siapa saja,  termasuk pers," tegasnya.

"Negara,  dalam hal ini polisi,  sering luput untuk memberikan perindungan kepada wara negara, padahal mereka dipayungi oleh konstitusi," lanjutnya.

Selain itu, ia meminta agar wartawan tetap bekerja profesional dan tetap mewartakan apa yang terjadi saat peliputan.

"Wartawan tak boleh diam, wartakan apa yang terjadi, karena cuma itu yang kita bisa untuk menegakkan keadian dan kemanusiaan," pungkasnya.

Sebelumnya, peserta aksi 2112 di depan kedutaan besar Cina di kawasan  Kuningan Jakarta Selatan Jumat (21/12) mengintimidasi pewarta AKURAT.CO dan pewarta media daring Krikom.Id

Kejadian bermula saat kedua pewarta ini merekam dan mengambil foto perwakilan mahasiswa yang berorasi di atas mobil komando.

Dimana orasi tersebut condong ke arah politik. Di dalam orasinya, orator itu menyinggung penangkapan Bahar bin Simith karena menghina lambang negara Presiden Joko Widodo. Tak hanya itu orator juga tak sungkan meneriakan 2019 ganti presiden.

Usai merekam dan mengambil foto sekelompok pemuda bebadan tegap langsung mencegat kedua wartawan tersebut.  Mereka meminta agar dokumen foto dihapus. Namun permintaan itu ditolak.

Kelompok massa tersebut terus menghalangi kedua pewarta ini agar tak bisa keluar dari kerumunan Massa. Di bawah tekanan, kedua pewarta itu diminta untuk menunjukan ID Pers dan KTP. Bahkan ada yang memvideokan kejadian itu.

"Mana ID cardnya!" tanya salah satu pemuda dengan nada tinggi.

Para pemuda ini lalu memotret ID card dan KTP kedua pewarta ini.

"Dasar media Cebong," kata salah satu pemuda usai memeriksa kedua wartawan tersebut.

Meski sudah memeriksa dokumen wartawan bersangkutan, kelompok pemuda tersebut terus membuntuti kedua wartawan ini hingga ke pos polisi yang tak jauh dari lokasi demo.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...