logo

01/12/18

Tanda Tanya di Balik Pengunduran Diri Beberapa Tokoh Alumni 212

Tanda Tanya di Balik Pengunduran Diri Beberapa Tokoh Alumni 212

SEPERTI yang dilansir oleh CNN Indonesia terkait pengunduran diri sejumlah alumni 212, kini kembali menjadi buah bibir dan pertanyaan di berbagai kalangan. Ada pihak yang mengira bahwa beda pendapat antar alumni menjadi sebab pengunduran para personil ini. Ada pula yang yang mengatakan telah terjadi perpecahan antara tokoh – tokoh alumni 212.

Kemunduran tokoh alumni 212, yaitu Ketum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam telah menimbulkan banyak tanda tanya. Pasalnya, tokoh yang satu ini dulunya disoroti sebagai tokoh yang pro aktif terhadap aksi bela Islam 212. Lantas, mengapa sekarang justru mengundurkan diri jelang digelarnya reuni akbar 212?

Pengakuan kekecewaan Ketua Parmusi terhadap aksi 212 juga cukup mencengangkan kalangan kubu kontra. Usamah Hisyam menuturkan bahwa dia kecewa dengan aksi 212 yang kini semangatnya luntur untuk membela Islam. Pihaknya juga menilai aksi ini kini berubah menjadi pembela politik praktis. Bukan lagi pembela umat Islam.

Usamah Hisyam juga menuturkan 212 mirip dengan Timses Capres sehingga dia merasa tidak cocok. Sebab, yang dipikirkannya ini tidak sesuai dengan esensi aksi 212. Meskipun sudah berganti tajuk menjadi reuni, seharusnya tujuannya masih sama, tidak membalut politik.

Alasan lain Hisyam mengundurkan diri adalah dia menganggap PA 212 adalah wadah untuk mempersatukan umat Islam, namun akhir – akhir ini dia menilai PA 212 memiliki semangat tujuan lain. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Ketum Persatuan Muslimin Indonesia ini mengundurkan diri. Hal ini dirasakannya menjelang Pileg dan Pilpres 2019 ada perubahan arah dari bela Islam berbelok ke kepentingan politik.

Setelah menyatakan pengunduran dirinya sebagai penasihat PA 212, Usamah Hisyam masih tetap memberikan keleluasaan untuk anggotanya melakukan reuni 212. Untuk dukungan politik, pria yang dulu aktif dalam PA 212 ini mengaku tidak spesifik dalam menentukan pilihan kepada dua calon kandidat, baik Jokowi – Ma’ruf ataupun Prabowo – Sandi.

Siapa lagi personil yang memilih hengkang dari PA 212? Ali Mochtar adalah personil berikutnya yang keluar dari PA 212 dan memilih bergabung bersama Istana. Sejak saat itu Ali Mochtar justru mengaku siap menjadi benteng bagi Jokowi dari serangan lawan. Setelah kemunduran Ali Mochtar disusul kembali keluarnya mantan pengacara Rizieq Shihab, Kapitra Ampera. Keluarnya pengacara satu ini dari PA 212 cukup mencengangkan dan sontak membuat kaget dunia politik. Betapa tidak, Kapitra Ampera yang dulu bersama massa 212 memerangi PDIP justru sekarang bergabung di dalamnya. Menjadi satu wadah dengan PDIP.

Dari kemunduran personil – personil ini dapat disimpulkan bahwa alasan yang mereka pegang teguh adalah satu, yaitu semangat juang 212 yang kini telah berbelok arah menjadi politik praktis. Dahulu, 212 sangat mementingkan agama Islam agar terus bersatu menegakkan kebenaran. Sedangkan saat ini tujuan 212 sudah menyeleneh dari tujuan utamanya. Hal inilah yang membuat hengkangnya para personil karena merasa tidak sependapat.

Usamah Hisyam juga menyatakan kemungkinan yang terjadi misal reuni akbar 212 ini jadi digelar maka tidak akan dihadiri oleh tokoh – tokoh pendahulu 212. Hal ini dia utarakan berdasarkan fakta bahwa pembela umat Islam ini sudah diblender bersama politik. Sehingga sudah bercampur baur antara tujuan awal dengan tujuan saat ini.

Kalimat – kalimat dan ujaran tokoh – tokoh yang memilih keluar dari 212 ini kemudian mendapat sanggahan dari Novel, sang juru bicara gerakan 212. Pihak Novel menilai Usamah Hisyam memang memiliki kecondongan terhadap kubu oposisi. Sehingga wajar saja jika Usamah Hisyam memilih keluar dan bergabung dengan kubu sebelah.

Pihak Novel juga menuturkan keluarnya Usamah Hisyam dari 212 tidak berpengaruh pada reuni akbar 212 yang akan digelar 2 Desember mendatang karena Usamah dinilai tidak memiliki pengikut. Entah kebenaran seperti apa yang terjadi, namun di mata umum gerakan 212 memang sudah dicampuri dengan urusan politik yang dapat memecah belah umat. Buktinya sekarang perpecahan sudah terjadi di tubuh 212. Satu persatu personil mengundurkan diri karena perbedaan pendapat dan beda dukungan pada satu tubuh.

Begitulah kiranya polemik yang masih terdesis di telinga masyarakat kita. Polemik ini diprediksi akan terus terjadi sebelum berakhirnya Pilpres 2019. Pasalnya, 212 ini sangat identik dengan dukungan salah satu Capres di dalamnya. Seperti yang telah beberapa tokoh ujarkan. Pendapat mereka bisa jadi benar. Sebab, dilihat dari polemiknya, reuni ini digelar jelang Pilpres 212 yang memungkinkan untuk membentuk dukungan kepada salah satu Capres.

Hal ini juga tegak lurus dengan pemikiran – pemikiran masyarakat karena mereka mulai paham dengan gerakan ini. Apalagi masyarakat ikut merasakan imbas buruk dari aksi 212 yang telah lalu. Sehingga mereka menambah daftar alasan bahwa reuni 212 memiliki tujuan politik. Bahasa lainnya kampanye berselimut bela Islam. (*)

*) Penulis adalah mahasiswa PTN di Surabaya.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...