logo

20/12/18

Penjelasan Ilmiah, Jalan Gubeng Ambles atau Sinkhole? Bisa Selesai 1 Minggu, Asalkan…

Penjelasan Ilmiah, Jalan Gubeng Ambles atau Sinkhole? Bisa Selesai 1 Minggu, Asalkan…

NUSANEWS - Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya yang tiba-tiba pada Selasa (18/12) malam kemarin menjadi pertanyaan besar terkait penyebab dan pemicu kejadian tersebut.

Apalagi, dengan lebar ambles yang mencapi 10 meter, panjang 30 meter dan kedalaman tujuh meter itu. Terlebih, itu adalah kejadian kali pertama di Kota Pahlawan itu.

Publik pun dibuat bertanya-tanya. Apakah Jalan Gubeng itu ambles, atau ternyata itu adalah sebuah sinkhole? Ada penjelasan ilmiahnya.

Berdasarkan kesepakatan para ahli, sinkhole diartikan sebagai sebuah fenomena alam dimana sebidang tanah di area tertentu mengalami penurunan dengan gerakan vertikal ke bawah.

Jatuhnya tanah itu, biasanya memiliki kedalaman yang bervariasi.

Pertama, sinkhole pun bukan kejaian gaib atau mistis, melainkan ada pemicunya. Yakni dipicu ruang kosong atau rongga berupa apapun di dalam tanah dengan kedalaman tertentu.

Keberadaan rongga tersebut lantas mengurangi kekuatan struktur tanah yang mejadi penopang tanah di bagian atasnya.

Kedua, Sinkhole juga dapat terjadi karena penyebab lain. Yakni, adanya air yang masuk ke dalam tanah.

Air tersebut membuat tanah menjadi lunak. Tanah yang lunak, tentu tidak dapat menahan beban jalan atau apapun di atas tanah.

“(rongga) Sinkhole itu, penyebab utamanya adalah air. Jika ada aliran air di lokasi tertentu itulah, maka terjadi perlemahan. Tapi, itu konteksnya fenomena alam,” kata Tim Ahli Bangunan Gedung Surabaya ITS Mudji Irmawan kepada JawaPos.com (Grup PojokSatu.id) Rabu (19/12/2018).

Semi Sinkhole

Mudji Irawan memastikan, amblesnya Jalan Gubeng Surabaya itu agak sedikit berbeda jika disebut sebagai sinkhole. Tidak dapat 100 persen disebut sinkhole.

Menurut Mudji, insiden tersebut dapat dikatakan sebagai fenomena turunnya tanah secara cepat dan bersamaan. Lebih tepatnya, dapat diistilahkan sebagai Semi Sinkhole.

Artinya, tanah longsor dan membentuk lubang, akibat dari konstruksi benda-benda di dalam tanah atau dapat dikatakan pula, runtuhnya dinding yang berfungsi menahan beban jalan (aspal/tanah) di atasnya.

“Kalau Sinkhole biasanya lokal. Tapi bisa merambat kemana-mana. (Dimensi lubangnya) Sinkhole juga nggak terlalu luas. Paling ya cuma 10 x 20 m2. Kedalamanya bisa sampek 30 meter, tergantung aliran airnya kedalaman berapa,” jelas Mudji.

Ketiga, fenomena Sinkhole juga punya gejala alam dan biasanya terjadi secara tiba-tiba dan secara mendadak serta cepat.

Untuk kasus amblesnya Jalan Gubeng, Mudji menduga ada aliran air di dinding atau tembok penahan tanah pada proyek pembangunan basement milik RS Siloam itu.

Mudji menduga, para pekerja tidak mengatasi rembesan air pada tembok penahan tanah dengan maksimal.

Kemungkinan, hanya dengan cara disemen atau upaya temporer yang lain.

“Sudah ada rembesan air di dinding-dindingnya. Cuman, tidak dipahami 100 persen. Pekerja-pekerjanya itu tidak mengerti detail kondisi yang berbahaya seperti itu,” ungkapnya.

Karenanya, ketika tanahnya ambles, kejadiannya begitu cepat. Meski ada juga fenomena Sinkhole yang memiliki gejala berupa getaran selama beberapa detik atau menit.

Solusi yang bisa ditempuh, bisa seperti Jepang, 1 minggu selesai

Mudji menjelaskan, menambal lubang sinkhole pada ruas jalan dapat dilakukan dan diselesaikan selama seminggu sebagaimana kasus sinkhole di Jepang beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, syaratnya adalah, perbaikan atau penambalan tanah yang berlubang harus menggunakan material pilihan.

Antara lain, batu kerikil yang berkualitas dan kuantitas pasir dalam jumlah yang cukup besar dengan perbandingan 60 persen pasir berbanding 40 persen batu kerikil.

Setelah bahan material tersebut disiapkan, pembersihan dasar lubang juga perlu dilakukan.

Salah satunya, memastikan infrastruktur kelistrikan, saluran air, dan kabel telepon berada pada posisi yang aman.

Kemudian, pelapisan dengan material pasir dan batu itu dapat dilakukan.

Setiap 40 cm lapisan batu dan pasir, prosedur selanjutnya adalah pemadatan. Pelapisan tersebut dapat didahului atau dibarengi dengan pemasangan steel sheet pile.

Hal itu dilakukan agar tanah dan pasir disekitar lubang tidak runtuh.

“Jadi setiap 40 cm lapisan pasir dan batu itu, langsung dipadatkan. Dikasi air lalu difibro (digetarkan). Supaya padat. Sampai ke elevasi jalan yang direncanakan,” jelasnya.

Dengan semua proses tersebut, sebenarnya tidak menjamin akan selesai dalam satu minggu.

Pasalnya, hal itu tergantung ketersediaan sumber daya manusia, peralatan, dan material yang ada.

“Kalau Jepang, memang seminggu bisa jadi (perbaikan jalan akibat sinkhole). Kalau kita (Indonesia), bisa dua minggu, kenapa tidak,” tutupnya.




SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...
Loading...