logo

01/12/18

Pangeran Khalid bin Farhan Rencanakan Kudeta Halus Gulingkan Pemerintah Arab Saudi

Pangeran Khalid bin Farhan Rencanakan Kudeta Halus Gulingkan Pemerintah Arab Saudi

NUSANEWS - Pangeran pemberontak Arab Saudi, Khalid bin Farhan al-Saud, menjelaskan bahwa blok oposisi yang baru terbentuk dan diumumkan 2 minggu lalu merupakan ekspresi penolakan realitas politik yang dipaksakan di Arab Saudi. Blok ini ingin merebut kekuasaan Mohammed Bin Salman dan mencegahnya menjadi raja berikutnya.

Dilansir dari Middle East Monitor, tanggal 11 November lalu kelompok oposisi Arab Saudi yang dinamakan 'Allied for Good Governance' atau Aliansi Tata Laksana Pemerintahan yang Baik menunjuk Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al-Saud untuk mengambil alih kekuasaan di Arab Saudi selama masa transisi.

Lebih lanjut, Pangeran Khalid menyebut kalau blok oposisi telah menyatukan sejumlah pandangan politik di kerajaan Arab Saudi dan semuanya sepakat pada satu pendapat, yaitu menolak Mohammed Bin Salman dan menunjuk Pangeran Ahmed sebagai Putra Mahkota atau raja setelah Raja Salman digulingkan.

Di Arab Saudi, blok oposisi ini memang terdiri dari enam gerakan politik yang punya pandangan berbeda-beda serta tujuh pihak independen, termasuk Pangeran Khalid bin Farhan.

Selain itu, pangeran penerima suaka politik dari Jerman ini menyebut bahwa sejak Raja Salman bertahta, terbukti kalau pemerintahannya membingungkan dan penuh dengan kejanggalan. Ia memperingatkan kalau negara-negara lain dan Wangsa Al-Saud memutuskan melawan Salman dan putra mahkota, maka rangkaian kekerasan bisa saja terjadi karena kerajaan Arab Saudi dianggap telah memerintah dengan metode yang bebal dan barbar.

"Semoga akan ada kudeta secara halus untuk menggulingkan pemerintahan yang sudah mengakar dan mengambil kendali otoritas keamanan lalu melengserkan putra mahkota sekaligus raja," sambungnya.

Masih menurut bin Farhan, baik Pangeran Muhammed bin Nayef maupun Pangeran Mutaib bin Abdullah masih menjadi tahanan rumah, dilarang meninggalkan kerajaan, dan dijaga ketat oleh aparat keamanan di bawah kendali putra mahkota. Itulah sebabnya, gerakan kebangkitan tidak akan dilakukan oleh keduanya, tetapi dari cabang keluarga kerajaan lainnya.

Sebagai tambahan informasi, kedua pangeran itu ditahan setelah Pangeran Salman bin Abdulaziz bin Salman bin Mohammad Al-Saud atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Ghazalan menyatakan pendapatnya tentang situasi politik di kerajaan dan karena Putra Mahkota cemburu pada Pangeran Ghazalan yang punya hubungan luas dengan para pemimpin Eropa. Itulah sebabnya pewaris tahta Raja Salman ini juga memerintahkan untuk menangkap Pangeran Ghazalan dan menyerangnya secara fisik di kantor bin Salman, bersama ayah Ghazalan yang juga ikut ditangkap setelah membantah apa yang dituduhkan pada putranya.

Sementara itu, tentang rahasia di balik keputusan sang putra mahkota membebaskan sepupunya sendiri, Khaled bin Talal, bin Farhad juga mengungkap kalau Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz telah menjenguk saudaranya, Pangeran bin Talal dan bermediasi demi kebaikan bin Talal sendiri. Selain itu, pembunuhan jurnalis Khashoggi telah membingungkan pemerintahan Arab Saudi sehingga Pangeran Khaled pun dibebaskan. Itulah sebabnya, diharapkan para pangeran lain juga akan dibebaskan segera.

Menurut pendapatnya, penggulingan ini bukanlah hal yang mudah karena bin Salman bersikukuh tetap memerintah dan juga karena pengasingan yang dikenakan pada pamannya, Ahmed, yang terlihat punya reputasi dan kompetensi untuk memerintah kerajaan. Namun, Pangeran Ahmed yang mendapat banyak dukungan dari keluarga kerajaan, warga Arab Saudi, dan orang-orang Eropa, lebih suka mengambil langkah yang bijak untuk melindungi negara dari gelombang kekacauan.

Lebih lanjut, bin Farhad juga mengisyaratkan kalau gerakan ini tidak mungkin dilakukan oleh Pangeran Ahmed yang sedang diawasi ketat gerak-geriknya dan dimonitor seluruh kontaknya. Namun, kudeta terhadap Raja Salman dan putranya ini bisa saja dilakukan oleh anggota keluarga kerajaan lainnya sehingga Pangeran Ahmed bisa merebut kekuasaan.

"Ada kemungkinan bin Salman akan menangkap pamannya, Ahmed, atau membunuhnya, tapi sepertinya mustahil untuk sekarang ini mengingat apa yang sedang terjadi di keluarga kerajaan ini dan baru saja terjadi insiden pembunuhan Khashoggi. Jika Wangsa al-Saud mendeteksi adanya rencana busuk dalam kasus ini, mereka akan segera berbalik melawan bin Salman dan menggulingkannya," tandas pangeran pemberontak ini.

"Hanya Tuhan yang tahu bagaimana situasi Arab Saudi akan berubah nantinya. Tentu akan ada perubahan di negara ini dan semoga kudeta ini berjalan secara halus, tergantung pada kontrol yang baik oleh keluarga kerajaan terhadap aparat keamanan dan situasinya. Jika tidak, Arab Saudi akan bubar gara-gara kudeta berdarah,"

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...