logo

28/12/18

Mustahil Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen

Mustahil Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen

NUSANEWS - Pemerintah diprediksi bakal sulit mewujudkan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen tahun depan. Paling banter, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 akan relatif tidak berbeda dengan tahun ini. Malah ekonomi akan melambat dibanding tahun ini.

...

”Prediksi saya 0,1 persen lebih rendah dari capaian tahun ini,” tutur Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (27/12).

Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,0 persen, sedang tahun 2019 diperkirakan 4,9 persen. Tantangan atau tekanan pertumbuhan ekonomi itu berasal dari kenaikan suku bunga. Di mana, pemerintah berutang dengan suku bunga lebih tinggi. Lalu, inflasi tahun depan lebih tinggi dan loan to deposit ratio (rasio antara besarnya seluruh volume kredit disalurkan bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber) juga sudah mendekati 100 persen.  ”Artinya, likuiditas perbankan makin ketat mau tidak mau mendorong kenaikan suku bunga. Jadi, inflasi naik, suku bunga relatif naik, mudah-mudahan kenaikan inflasi ini tidak sebesar perkiraan sebelumnya jika harga minyak bertahan pada level yang rendah seperti sekarang,” katanya.

Namun, dia memperkirakan harga minyak akan naik ke level USD 60-65 per barel sehingga masih cukup besar tekanannya. ”Itu semua membuat pertumbuhan agak sulit untuk bisa mencapai target pemerintah 5,3 persen. Harga komoditas juga cenderung flat. Jadi, tidak ada bonus dari peningkatan harga-harga komoditas ekspor kita,” ucapnya.

Menurut dia, banyak hal perlu dilakukan pemerintah dalam menghadapi persoalan tersebut. Dalam hal ini dia mengibaratkan dengan manusia tidak bisa berlari kencang karena ada masalah di jantung, sehingga jantungnya harus dibereskan lebih dulu. ”Konsolidasi perbankan, kemudian agak ditahan untuk pembangunan infrastruktur tidak terlalu prioritas. Didorong lebih pada peningkatan infrastruktur maritim supaya ongkos logistik bisa turun karena kalau dibangun jalan tol terus, jalan darat tol, itu efeknya ke ongkos logistik tidak besar,” tukasnya.

Menurut dia, ongkos logistik bisa turun kalau terjadi pengalihan dari barang yang semula diangkut menggunakan truk dialihkan memakai kereta api atau kapal laut. Ia mengatakan hal itu disebabkan ongkos pengangkutan menggunakan truk mencapai 10 kali lebih mahal dari kapal laut. ”Jadi kalau mengangkut baja dari Surabaya ke Jakarta memakai truk itu keblinger walau ada jalan tol,” katanya.

Ia mengatakan maksud dari Presiden Joko Widodo membangun jalan tol adalah untuk mengurangi biaya logistik namun hal itu tidak mungkin bisa turun tajam karena angkutannya menggunakan truk yang kapasitas angkutnya terbatas jika dibandingkan menggunakan kapal laut. "Dari pelabuhan-pelabuhan itulah diangkut pakai truk sehingga jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Dengan demikian, akan menekan sekali harga-harga,” bebernya. (ant)

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...