logo

09/12/18

Menagih Program Tol Laut Jokowi-JK, Gimana Realisasinya Saat Ini?

Menagih Program Tol Laut Jokowi-JK, Gimana Realisasinya Saat Ini?

NUSANEWS - Pembangunan Poros Maritim menjadi  salah satu janji yang akan dikembangkan  Joko Widodo (Jokowi) bersama Jusuf Kalla (JK) saat bertarung dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan membangun tol laut guna menekan biaya tinggi dalam distribusi barang ke wilayah remote area. Tol laut yang dimaksud adalah membangun transportasi laut dengan kapal atau sistem logistik kelautan terjadwal, yang melayani tanpa henti dari Sabang hingga Merauke.

Tujuannya mulia, menghubungkan Indonesia yang merupakan negara kepulauan, serta menggerakkan roda perekonomian secara efisien dan merata. Lewat gagasan besar ini, akan ada kapal-kapal besar yang bolak-balik di laut Indonesia secara periode ke sampai ke wilayah terpencil, sehingga biaya logistik menjadi murah.

Janji kampanye lisan Tol Laut ini tidak tertuang di dalam dokumen janji kampanye Nawa Cita, Visi, Misi dan Program Aksi Jokowi – Jusuf Kalla 2014. Konsep kemunculan terkait Tol Laut di dalam dokumen ini adalah bidang kemaritiman yang kemudian populer dengan sebutan Poros Maritim.

Ilustrasi sebuah kapal milik Pelni yang disiapkan khusus untuk mengangkut barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya secara terjadwal. (Dok. M. Jumri/Bontang Post/JPG)

Keinginan mantan Wali Kota Solo itu untuk memajukan kemaritiman Indonesia, juga berkaca pada tahun 2013, dimana pada saat itu biaya logistik Indonesia mencapai 27 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara pada tahun 2011 mencapai 24,6 persen dari PDB. Hal itu membuat keinginannya begitu menggebu untuk membangun tol laut.

Usai terpilih, konsep kemaritiman milik Jokowi-JK itu kemudian dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Ada beberapa rencana yang dituangkan dalam RPJMN tersebut.

Pertama, mengembangkan dan membangun 100 pelabuhan hingga tahun 2019. Targetnya, rata-rata per tahun harus dibangun sekitar 20 pelabuhan.

Kedua, mengembangkan 210 pelabuhan penyeberangan. Ketiga, pembangunan/penyelesaian 48 pelabuhan baru yang harus selesai pada 2016 dan total 270 pelabuhan pada 2019.

Keempat, pembangunan kapal perintis 50 unit, 60 unit dan 104 unit. Belum ada data dan fakta menunjukkan target tercapai. Kelima, pengembangan 21 pelabuhan perikanan, direncanakan 22 unit tahun 2016 dan 24 unit tahun 2019.

Keenam, penyediaan armada kapal laut logistik nusantara untuk melayani wilayah Timur dan Barat. Ditargetkan 13 route, dan pada 2017 sudah tercapai.

Hingga tahun keempat kepemimpinannya, apakah keinginan Jokowi tercapai?

Seperti dikutip dari laman presidenri.go.id, trayek kapal perintis hingga 2018 sudah terbangun sebanyak 113, diikuti trayek tol laut sebanyak 18 dan trayek kapal ternak sebanyak 6 trayek.

Sementara itu, data Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang diperolah JawaPos.com menunjukkan, pemerintah telah melakukan pengembangan pelabuhan di 104 lokasi. Kemudian menyediakan 60 kapal perintis, 15 kapal kontainer, 20 unit kapal Rede dan 5 unit kapal ternak. Sayang, tidak tercantum berapa pembangunan pelabuhan yang telah dibangun hingga 2018 ini.

Sayang, pengembangan tol laut hingga saat ini masih belum maksimal. Hal ini tercermin dari data Kemenhub. Pada 2017, realisasi muatan tol laut pada 2017 mencapai 212.865 ton, atau 41,2 persen dari target 517.200 ton. Sementara realisasi muatan balik baru 20.274 ton.

Tidak hanya itu, data okupansi kapal tol laut saat ini juga masih belum besar, terutama ketika pelayaran kembali. Tingkat okupansinya sangat jomplang ketimbang saat keberangkatan.

Pelni, misalnya. Sepanjang tahun berjalan ini, rata-rata okupansi (keterisian) kapal Pelni di trayek tol laut mencapai sekitar 60 persen. Sementara untuk muatan balik okupansi hanya menembus angka 6 persen.

Meski begitu, okupansi Pelni terbilang lebih baik ketimbang saat mulai merintis trayek tol laut. Pada 2015, okupansi kapal Pelni sekitar 20-25 persen. Tahun-tahun berikutnya, pelan-pelan meningkat, hingga akhirnya mencapai 90 persen pada 2017.

"Untuk itu, pengembangan trayek tol laut harus diiringi dengan pengembangan dikawasan timur untuk menunjang optimalisasi Tol Laut tadi," kata Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto kepada JawaPos.com, Kamis (6/12).

Seiring berjalannya waktu, program Tol Laut cenderung membisu. Cita-cita besar Presiden Jokowi di sektor kemaritiman justru tenggelam dengan masifnya Tol Darat yang dalam beberapa bulan terakhir ini terus diresmikan.

Namun, kondisi itu dibantah oleh Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin Johnny G Plate. Ia menilai Presiden Jokowi fokus terhadap seluruh pembangunan infrastruktur nasional baik darat, laut, maupun udara.

"Infrastruktur darat, laut, udara, itu seluruhnya (penting dibangun). Infrastruktur dalam rangka konektivitas nasional. Jadi semuanya penting," kata dia.

Hanya saja, pembangunan itu memang belum dirasakan sampai saat ini. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional menunjukkan, harga daging ayam di Kalimantan Utara, Papua dan Maluku sebesar Rp 43.250, Nusa Tenggara Timur (NTT) Rp 49.350 per kilogram (kg).

Sementara itu, DKI Jakarta mencatat harga sebesar Rp 38.500 per kg dan Jawa Barat sebesar Rp 35.400 per kg. Tidak hanya itu, harga minyak goreng juga tercatat masih mahal di sejumlah wilayah. Seperti di Papua, harga minyak mencapai Rp 15.050 per liter, Kalimantan Timur Rp 16.400 per liter dan Maluku mencapai Rp 15.800 per liter. Sedangkan di Jawa Barat, harga minyak tercataat sebesar Rp 12.350 per liter dan DKI Jakarta Rp 12.950 per liter.

Kendati tidak terpaut jauh, Johnny menilai hal itu terjadi karena pembangunan dari infrastruktur Tol Laut belum selesai. Ia optimis harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya bisa menjadi lebih murah jika pembangunan Tol Laut sudah selesai dan dijalankan.

"Kalau belum itu harus diselesaikan. Kalau yang belum dibangun itu masih mahal karena belum selesai. Tidak bisa dibangun seluruhnya selesai, tergantung ketersediaan dananya," pungkasnya.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...