logo

07/12/18

Marahi Wartawan, Ngerinya Karakter Asli Prabowo Muncul

Marahi Wartawan, Ngerinya Karakter Asli Prabowo Muncul

NUSANEWS - Sikap Prabowo Subianto yang memarahi wartawan karena menganggap tak memberitakan aksi reuni 212 ditanggapi kubu Jokowi-Ma’ruf.

Wakil Direktur Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Lukman Edy menilai, calon presiden nomor urut 02 itu tak seharusnya melakukan hal itu.

Menurut Lukman Edy, media saat ini sudah tidak bisa dikendalikan seperti saat masa orde baru lalu.

Sebaliknya, sikap Ketua Umum Partai Gerindra itu malah makin menunjukkan karakter asliya kepada publik.

“Pelan-pelan akhirnya karakter Pak Prabowo itu muncul. Karakter ingin mendikte media, karakter ingin mem-framing media,” kata Lukman, Kamis (6/12/2018).

Ia menegaskan, perkembangan media saat ini sudah jauh berbeda dengan yang ada pada zaman Soeharto.

Dengan sikap Prabowo yang memarahi wartawan itu, jelas menjadi upaya untuk mengembalikan kondisi di era sebelum reformasi.

“Ini seperti 20 tahun lalu. Sekarang sudah enggak bisa. Media adalah salah satu pilar demokrasi,” tegasnya.

Sebaliknya, Lukman juga tak sependapat jika disebut media tak memberitakan aksi reuni 212.

Sebab, banyak stasiun televisi menyiarkan Reuni Akbar 212 dengan model talkshow. Begitu juga media cetak dan daring.

Menurut Lukman, semua media menyiarkan berdasarkan fakta tanpa adanya pembingkaian.

“Saya kira enggak bisa disalahkan TV-nya. Itu bagian dari objektivitas media cetak dan media elektronik dalam melihat 212,” tutup Lukman.

Diberitakan PojokSatu.id sebelumnya, KH Ma’ruf Amin tak setuju dengan kemarahan Prabowo Subianto kepada wartawan.

Kiai Ma’ruf menyatakan dirinya sangat membutuhkan kehadiran wartawan dalam setiap kegiatannya.

“Kalau saya dengan media berteman. Saya ke mana ada media. Saya butuh media, media juga butuh saya, kan cari berita,” katanya, Kamis (6/12).

Ketua (nonaktif) Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu bahkan mengaku sangat aneh jika tidak ada jurnalis di dekatnya.

Terutama akhir-akhir ini. Karena itu, ia juga menyampaikan permintaan maafnya karena dalam beberapa hari terakhir tak bisa menemui para wartawan karena kakinya terkilir.

Mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menambahkan, sakit yang ia rasakan itu sejatinya sudah lama.

Atas hal itu pula, ia terpaksa beristirahat lebih dulu sehingga sama sekali tak menemui wartawan.

Hanya saja, lanjut Kiai Ma’ruf, dirinya ternyata sudah tak tahan terlalu lama menjauh dari para jurnalis.

“Sebenarnya saya sudah bisa ke mana-mana. (Tapi) suruh ditahan satu hari enggak ketemu wartawan itu sebenarnya sudah pusing saya,” bebernya.

Ma’ruf menegaskan, cukup banyak keuntungan yang ia dapatkan dengan menjalin kedekatan dengan wartawan.

Dimana, ia bisa menyampaikan bebergai isu, uneg-uneg, keinginan dan beragam ide.

Karena itu, begitu tahu akan digelar jumpar pers di kediamannya, ia merasa sumringah.

“Tentu yang positif, yang konstruktif. Ketika saya harus istirahat dulu itu, batin saya ingin melompat. Ingin bergerak,” tandas Ma’ruf.

Untuk diketahui, Prabowo Subianto sebelumnya meluapkan emosinya kepada sejumlah media arus utama saat berpidato di acara puncak hari disabilitas Internasional, Rabu (5/12).

Kekesalan Prabowo itu berlanjut ketika dihadang wartawan.

“Kamu TV mana kamu? Kamu? Untuk apa wawancara saya? Orang kemarin 11 juta kau bilang nggak ada orang,” ujar Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Ia geram atas pemberitaan jumlah peserta aksi Reuni Akbar Mujahid 212 pada Minggu (2/12) lalu tidak sesuai persepsinya.

Menurut Prabowo, jumlah peserta Reuni 212 mencapai jutaan, tapi hanya diberitakan ribuan orang.

“Bagaimana? Orang kalian bilang hanya 30 ribu orang yang hadir,” ucapnya.

“Semua media online menulis soal itu, Pak,” celetuk seorang wartawan.

“Ya tapi redaksi kamu bilang nggak ada orang disitu, hanya beberapa puluh ribu, itu kan tidak objektif,”

“Nggak boleh dong. Kebebasan pers, jurnalism, itu harus objektif, memberitahu apa adanya,” tambah Prabowo.

Dia bahkan meminta kepada para wartawan di lapangan untuk menegur pimpinan redaksi jika laporan lapangan yang diangkat tidak diberitakan.

Prabowo mengingatkan bahwa media yang tidak menyajikan fakta dengan benar akan ditinggalkan oleh rakyat.

“Jangan menipu rakyat, nggak boleh. Jadi kalau begitu nanti kalian akan ditinggal rakyat,” pungkas Prabowo.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...