logo

24/12/18

Manajer PLN Duduk Bareng Istri dan 2 Anak di Depan Panggung Seventeen, Tiba-tiba Tsunami Renggut Semuanya

Manajer PLN Duduk Bareng Istri dan 2 Anak di Depan Panggung Seventeen, Tiba-tiba Tsunami Renggut Semuanya

NUSANEWS - Senior Manager PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat Didik Fauzi Fahlan (47) masih ingat betul detik-detik tsunami memisahkan dia dengan istri dan putranya pada Sabtu (22/12/2018), malam.

Didik bersama Briliyan Parmawati (46) dan Fahmi Dahlan (8 bulan) serta keluarga besar PLN tengah menyaksikan penampilan band Seventeen di tepi Pantai Tanjung Lesung, Anyer, Banten. Suasana acaranya ramai sekali.

Didik, Briliyan, dan kedua buah hati mereka, Narina dan Fahmi, duduk di kursi paling depan. Malam itu merupakan malam puncak acara family gathering.

Konser baru berlangsung sekitar 20 menit. Tiba-tiba, ombak datang dan menghantam panggung hingga rubuh. Personil Seventeen yang tadi berada di atas panggung sudah tidak kelihatan lagi keberadaannya.

"Tiba-tiba air laut datang dengan cepat menyambar panggung saat ada konser band Seventeen," kata Didik yang tinggal di Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, siang tadi.

"Peserta family gathering awalnya hanya mengira panggung hanya roboh bisa, tapi ternyata gelombang yang datang menyapu semuanya," Didik menambahkan.

Semua lampu penerangan mati. Di tengah gelap gulita, Didik sadar sesadarnya baru saja terpisah dengan istri dan kedua anaknya.

"Saya terpisah dengan kedua anak dan istri," katanya.

Didik terseret ombak sekitar 12 meter dari tempat duduk. Setelah terhempas, dia segera bangkit, mencari istri dan anak-anak. Dia teriak-teriak.

Sampai akhirnya dia berhasil menemukan Narina. Kondisi Narina luka-luka.

"Saya seperti mendapatkan mukjizat dari musibah ini," kata dia.

Sadar harus segera menemukan istri dan anak kedua yang masih balita, dia cepat-cepat berjalan ke tepi pantai. Dia panggil mereka sekencang-kencangnya. Tapi tak ada yang menyahut. Dia hanya dengar suara orang-orang histeris.

"Seusai kejadian berusaha mencari anak dan istri dalam kondisi gelap gulita dan tangis di sepanjang pantai. Akhirnya pasrah karena sudah larut malam," katanya.

Malam itu, dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan nasib istri dan anak keduanya. Semua orang di sana memikirkan hal yang sama.

"Baru Minggu pagi mereka berdua ditemukan, tapi sudah meninggal," kata Didik.

Jenazah Briliyan dan Fahmi tiba di rumah duka pagi tadi dan langsung dimakamkan.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...