logo

24/12/18

Kondisi Terkini Pandeglang 24 Jam Pasca Tsunami, Black Out Sepi Mencekam Seperti Kuburan, Cuma Ada Suara Angin

Kondisi Terkini Pandeglang 24 Jam Pasca Tsunami, Black Out Sepi Mencekam Seperti Kuburan, Cuma Ada Suara Angin

NUSANEWS - 24 jam pasca tsunami Banten pada Sabtu (22/12) malam, kondisi di sepanjang pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu (23/12/2018) malam masih cukup mencekam.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan listrik yang sampai saat ini masih belum tersedia kembali. Alhasil, kondisi pun gelap gulita.

Tak hanya itu, suasana pun seperti pulau yang tak ada kehidupan sama sekali. Sepi dan hanya suara angin yang terdengar.

Sejumlah kendaraan roda empat pun dibiarkan begitu saja. Puing-puing berserakan. Rumah-rumah sebagian besar rata dengan tanah.

Yudi (30) warga desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten mengatakan, keluarganya saat ini menjauh dari pesisir pantai.

Keputusan itu diambil lantaran warga khawatir bakal terjadi lagi tsunami susulan di malam hari.

“Takut ada tsunami lagi,” kata Yudi saat ditemui JawaPos.com (grup PojokSatu.id) di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu (23/12).

Yudi mengaku, rumah tempat tinggalnya kini rata dengan tanah dan tak bisa ditempati lagi. Karena itu, ia memilih untuk mengungsi bersama ratusan warga lainnya.

Beruntung keluarganya selamat dari peristiwa nahas tersebut.

“Keluarga saya selamat, cuma Ibu saya luka-luka. Sekarang mendapat perawatan di rumah sakit,” tuturnya.

Ia lantas bercerita, sesaat sebelum gelombang tsunami menerjang pada Sabtu (22/12) malam, dirinya duduk di halaman depan rumahnya.

Tidak terlalu dekat sebenarnya. Sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Yudi mengungkap, dirinya melihat betul gelombang tsunami yang datang dengan tiba-tiba itu.

Tanpa bisa berbuat banyak, beruntung, ia masih bisa berlari bersama keluarganya yang lain untuk menyelamatkan diri.

“Saat kejadian, saya lihat ketinggian air laut sangat menakutkan karena arusnya cukup kuat,” paparnya.

Dengan suara yang mengecil, ia lantas tak habis pikir jika saja saat itu, ia dan keluarganya sudah tertidur lelap.

“Kami tidak terbayangkan jika tengah tidur, karena gelombang pasang itu cukup tinggi hingga lima meter,” ucap Yudi.

Sementara, Rahmat, salah seorang warga lainnya juga mengamini penuturan Yudi. Karena itu, semua warga di sepanjang pantai itu memilih meninggalkan rumah ketimbang harus menjadi korban.

“Semua ngungsi. Pilih selamat. Tapi sedih lihat rumah hancur,” ucapnya sambil menitikkan air mata.

Rahmat mengaku, dirinya tak tahu harus kemana lagi selain mengungsi dan mengharapkan bantuan dari pemerintah.

“Semoga cepat ada bantuan, enggak tahu mau gimana lagi,” harapnya memelas.

Di sisi lain, Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN, I Made Suprateka menyebut, pihaknya masih terus mengupayakan mengembalikan pasokan listrik ke wilayan terdampak.

Alhasil, sudah ratusan gardu listri yang sudah bisa dinyalakan kembali.

“Terdapat 146 gardu yang berhasil dinyalakan, sementara gardu yang masih padam yakni 102 gardu,” kata dia.

“Selain itu terdapat 20 tiang SUTM Roboh akibat diterjang Tsunami,” lanjutnya.

Made menuturkan, saat ini PLN sedang melakukan proses penormalan listrik dengan melakukan perbaikan gardu serta investigasi jaringan.

“Petugas PLN tengah memperbaiki gardu yang rusak akibat diterjang gempa,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data dari BNPB, jumlah korban meninggal akibat tsunami Banten dan Lampung itu terus bertambah.

Sampai dengan Minggu (23/12) pukul 16.00 WIB, korban meninggal tercatat sudah mencapai 222 orang, 843 luka-luka dan 28 lainnya dinyatakan hilang.

Selain itu, tsunami tersebut juga meluluh-lantakkan 556 unit rumah, Sembilan hotel, 60 warung makanan, 250 kapal dan perahu rusak.

Akan tetapi, jumlah itu diyakini sangat dimungkinkan masih akan terus bertambah. Mengingat, proses evakuasi dan pendataan terhadap para korban masih terus dilakukan.

Dari 222 korban meninggl itu, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah paling terdampak.

Dengan 164 korban meninggal, 625 luka dn 2 orang hilang, 446 rumah serta 350 kapal dan perahu rusak juga 73 kendaraan rusak tersebar di 10 kecamatan.

Lokasi dengan korban terbanyak adalah di Hotel Muiara Carita Cottage, Hotel Tanjung Lesung dan Kampung Sambolo.

Sementara, korban di Kabupaten Lampung Selatan tercatat 48 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka dan 110 rumah rusak. Dan di Kabupaten Tanggamus terdapat 1 orang meninggal dunia.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...
Loading...