logo

20/12/18

Kisah Para Pria Pakistan yang Dipaksa Pisah dengan Istri Uighur-nya

Kisah Para Pria Pakistan yang Dipaksa Pisah dengan Istri Uighur-nya

NUSANEWS - Sudah setahun ini Chaudhry Javed Atta tak bisa melihat istrinya lagi. Pedagang Pakistan ini meninggalkan rumah mereka di wilayah Muslim Xinjiang, barat laut China, kembali ke negaranya untuk memperbarui visanya.

Masih teringat di benaknya hal terakhir yang dikatakan sang istri, "Begitu kamu pergi, mereka akan membawaku ke kamp dan aku tak akan kembali lagi."

Itulah yang terjadi bulan Agustus 2017 lalu. Atta terpaksa terpisah dari Amina Manaji, sang istri yang seorang Muslim Uighur di Xinjiang yang telah dinikahinya selama 14 tahun.

Sebenarnya, Atta bukan satu-satunya warga Pakistan yang dipisahkan secara paksa dengan keluarganya. Ada lebih dari 200 pebisnis Pakistan yang pasangannya dibawa pergi oleh otoritas China ke tempat yang mereka sebut 'pusat pendidikan'.

Dilansir dari The Washington Post, pemerintah China dituduh telah mengasingkan satu juta warga Muslimnya dengan dalih 'mengedukasi kembali' agar mereka menjauh dari keyakinannya. Langkah itu ditempuh sebagai respons terhadap kerusuhan dan serangan kekerasan yang dituduhkan pemerintah pada kaum separatis.

Etnis Uighur dan Kazakh di China juga mengaku pada The Associated Press bahwa tindakan tak berbahaya pun bisa membuat mereka terseret ke dalam kamp, seperti salat wajib, melihat laman situs luar negeri, bahkan menerima panggilan telepon dari kerabat yang tinggal di luar negeri.

"Pemerintah menyebutnya sekolah, padahal itu penjara," ucap Atta. "Mereka tak bisa pergi."

Masyarakat Pakistan kerap lantang membela Islam dan Muslim saat dilecehkan di seluruh negara, misalnya saja saat muncul gambar kartun Nabi Muhammad dan saat penulis Salman Rushdie menulis tentang Islam dalam bukunya 'Satanic Verses'.

Namun, negara ini beserta negara Muslim lainnya mau tak mau bungkam pada perlakuan China terhadap Uighur karena faktor politik dan ekonomi, termasuk tak mau kehilangan investasi yang sangat besar dari negeri tirai bambu itu.

"Diamnya negara-negara Muslim disebabkan oleh kuatnya persepsi mereka untuk tetap menjaga kedekatan dengan negara yang digadang-gadang menjadi negara adidaya berikutnya," ungkap Michael Kugelman, seorang wakil direktur Program Asia di Wilson Center yang berpusat di Washington.

Tercatat sekitar USD 75 miliar (Rp1,08 kuadriliun) digelontorkan China untuk Pakistan pada proyek bertajuk China-Pakistan Economic Corridor yang diharapkan akan membawa kejayaan baru untuk Pakistan, di mana warganya rata-rata hanya berpenghasilan USD 125 (Rp1,8 juta) per bulan.

Namun, bungkamnya negara itu justru memberi penderitaan pada warganya, termasuk Atta. Tak hanya terpisah dari sang istri, mau tak mau ia berpisah dari kedua putranya yang masih berumur 5 dan 7 tahun karena paspor anak-anaknya ditahan oleh pemerintah China sehingga harus dirawat oleh keluarga istrinya.

Kalau tidak, menurutnya, pemerintah akan memasukkannya ke panti asuhan. Sementara itu, The Associated Press pernah melaporkan kalau pemerintah menempatkan anak-anak para tahanan di sejumlah panti asuhan di seberang Xinjiang.

Saat dicecar oleh dunia internasional, China berdalih kebijakannya itu bertujuan untuk menciptakan stabilitas dan berlangsungnya perdamaian di Xinjiang. Namun, kampanye Presiden Xi Jinping yang bertekad menundukkan wilayah yang kerap bergolak, termasuk penahanan lebih dari 1 juta etnis Uighur dan minoritas Muslim lainnya, telah membuat pemerintah Amerika Serikat dan anggota PBB khawatir.

Tak hanya Atta, Mir Aman juga mengalami nasib serupa. Pria Pakistan ini pergi ke China lebih dari 25 tahun yang lalu sebagai buruh miskin untuk mencari pekerjaan. Di sanalah Aman bertemu istinya, Maheerban Gul. Mereka pun bekerja keras hingga akhirnya berhasil membeli hotel. Berbeda dari Atta yang kedua putranya berada di China, kedua putri Aman kini berada di pengasuhan ayahnya di Pakistan.

Tahun lalu, Aman mencoba kembali ke China sendirian, sayang otoritas melarangnya melewati perbatasan tanpa istrinya. Lalu keduanya bersama-sama ke Xinjiang. Di sana sang istri diperintahkan melapor setiap pagi pada polisi yang memberikannya buku Partai Komunis untuk dibaca.

"Saat mereka melihat tulisan Urdu, sajadah, atau apapun yang berbau keagamaan, mereka akan merampasnya," tandasnya. "Mereka ingin menyingkirkan Islam."

Beberapa minggu kemudian, Aman diminta pergi meski visanya masih berlaku 6 bulan. Mereka mengatakan kalau ia bisa kembali lagi 1 bulan kemudian. Naas, saat ia pulang, istrinya sudah tak ada.

Selama empat bulan, pria itu meneror polisi setiap harinya dan mengancam akan menghabisi nyawa mereka di depan publik. Akhirnya Aman diizinkan bertemu istrinya yang dibawa ke pos polisi setempat walau hanya satu jam.

Di sanalah mereka menangis. Saat tiba waktunya berpisah lagi, sang istri memintanya kembali ke Pakistan. "Jangan mengusik pemerintah lagi," cerita Aman.

Tak ada yang tahu bagaimana nasib Maheerban Gul selanjutnya, begitu pun Mir Aman, suaminya sendiri.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...
Loading...