logo

25/12/18

Jangan Dulu Pergi Seventeen

Jangan Dulu Pergi Seventeen

NUSANEWS - Penggalan lirik di atas diambil dari single terbaru Seventeen berjudul Jangan Dulu Pergi yang dirilis Juni 2018. Band asal Jogjakarta yang terbentuk pada 1999 itu beranggota Riefian Fajarsyah atau Ifan (vokal), Herman Sikumbang (gitar), M. Awal Purbani (bas), dan Windu Andi Darmawan (drum).

Jangan Dulu Pergi menjadi pembuka dari album ketujuh mereka. Berkisah tentang seseorang yang belum ingin ditinggal pergi oleh sosok tercintanya. Lagu itu dibuat Ifan dan Herman, diambil dari pengalaman Ifan yang ditinggal sang ayah berpulang.

“Belum ada sebulan bokap pergi, Seventeen tur ke Sumatera. Di situ tiba-tiba kangen sama bokap sampai rasanya nggak kuat saking kangennya,” tutur Ifan kala itu. Liriknya menggambarkan rasa kehilangan yang teramat kuat. Kini rasa kehilangan itu menjadi-jadi.

Seventeen menjadi korban tsunami di Tanjung Lesung Sabtu (22/12) pukul 21.30. Malam itu, Seventeen menjadi salah satu pengisi acara employee gathering PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat (UIT JBB) di Tanjung Lesung Beach Resort.

Saat memasuki lagu kedua, tiba-tiba air menerjang dari arah belakang panggung yang berdekatan dengan laut. Posisi panggung tepat membelakangi laut. Dalam video yang beredar, keadaan sangat kacau-balau. Siapa pun yang berada di panggung dan dekat panggung langsung tersapu air laut.

Setelah beberapa jam pencarian, akhirnya Ifan ditemukan selamat. Lewat video, Ifan mengungkapkan bahwa sejumlah kru dan rekannya belum ditemukan. Termasuk sang istri, Dylan Sahara, yang kemarin (23/12) berulang tahun. “Doakan semoga cepat ditemukan. Alhamdulillah, yang lain sudah ditemukan walaupun kondisi luka-luka,” ujar Ifan yang sempat berada di rumah salah seorang warga di Tanjung Lesung.

Sambil menahan kesedihan, Ifan menyampaikan beberapa rekannya yang tak selamat. Yaitu, basis M. Awal Purbani alias Bani dan road manager Oki Wijaya. Kemarin sore gitaris Herman Sikumbang menyusul ditemukan tak bernyawa. Sementara itu, drumer Andi Windu Darmawan dan Dylan hingga berita ini ditulis pada pukul 20.45 belum ditemukan.

Kegundahan Ifan akan nasib sang istri begitu menyesakkan hati. “Hari ini kamu ulang tahun, aku mau ucapin langsung. Cepet pulang sayang,” ungkapnya. Dia juga berharap teman bandnya, Andi, lekas ditemukan. “Sob, cepet pulang Sob. Aku tinggal sendiri Sob, please,” tuturnya.

Jenazah Herman rencananya dibawa ke rumah duka di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Namun, sampai pukul 23.00 tadi malam, jenazah belum tiba. Sang istri, Juliana Moechtar alias Ully, 29, terlihat bersimbah air mata. Jumat lalu (21/12) merupakan hari yang tak akan pernah dilupakan Ully. Itu merupakan hari terakhir dia dan Herman bertemu dan berkomunikasi. “Sebelum ke Tanjung Lesung, suami saya manggung di BSD,” ujar Ully saat ditemui di rumah duka kompleks DPR RI Kalibata tadi malam.

Sabtu siang firasat Ully semakin tidak enak. Ketika dia mengirim video anak-anak mereka melalui layanan pesan singkat, Herman hanya melihatnya tanpa membalas. Ully berpikir saat itu mungkin suaminya sedang sibuk. Ully dan dua anaknya awalnya diajak Herman untuk ikut. Sebab, para personel Seventeen yang lain juga mengajak anggota keluarga. Namun, Ully tidak bisa ikut karena harus syuting sinetron dan menjaga dua anaknya.

Saat kali pertama mendengar kabar pada Sabtu malam (22/12), Ully belum percaya. Dia mengira gelombang pasang yang menerjang tak sebesar yang sesungguhnya terjadi. Hingga akhirnya, dia menerima kabar bahwa Bani meninggal dunia akibat terjangan tsunami. “Pertama ya nggak percaya, bisa aja itu hoax,” ujar Ully.

Sayangnya, kabar buruk itu sungguh terjadi. Kemarin siang Ully menerima telepon dari Ifan yang selamat. Ifan membenarkan bahwa Bani sudah tiada. “Tapi, saya optimis Herman masih hidup,” tegas Ully.

Dia pun terus memantau berita di televisi untuk mengetahui nasib sang suami. Saat memantau berita, anak pertama Ully sempat bertanya. “Kok Papa sama air,” ucap Ully menirukan Hafuza. Video amatir saat air laut menerjang panggung dari belakang memang beberapa kali diputar. Sambil menunggu kabar Herman, Ully menerima telepon dari ayah Herman. Katanya, jika Herman berpulang, jenazahnya lebih baik dimakamkan di Ternate agar lebih dekat dengan keluarga besar. Sekali lagi, Ully tidak ingin percaya.

Harapan Ully agar suaminya selamat tak terwujud. Sekitar pukul 15.00, dia menerima telepon dari manajemen Seventeen dan kerabatnya yang turun langsung ke Tanjung Lesung. Jasad Herman telah ditemukan dan dibawa ke RSUD Serang. Menurut dia, Herman tidak selamat karena masih memanggul gitar ketika air menerjang. “Itu kan berat. Jadi, Herman nggak bisa cari pegangan,” jelas Ully.

Sementara itu, suasana duka sangat terasa di sebuah rumah sederhana di kawasan Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping. Sepasang suami istri menyambut para pelayat yang datang. Pasangan paruh baya itu adalah Fajar Wibowo, 57, dan Marjinah, 56. Mereka adalah orang tua Muhammad Awal Purbani, pemain bas Seventeen. “Dapat kabar pastinya tadi pagi (kemarin), semalam (22/12) masih belum ada kepastian tentang anak kami,” kata Fajar kepada Jawa Pos Radar Jogja, Minggu (23/12).

Pria kelahiran 1961 itu tidak menyangka anak sulungnya turut menjadi korban. Hatinya berdegup saat mendengar kabar Seventeen turut menjadi korban. Berbagai cara dia lakukan untuk mendapatkan informasi tentang sang buah hati.

Saat mengetahui Bani turut menjadi korban, Fajar dan keluarganya hanya pasrah. Kini dia berharap jenazah Bani segera dibawa pulang. Dia ingin memakamkan Bani hari ini di Gamping Tengah, Ambarketawang. “Rencananya pemakaman besok siang (hari ini, Red) di pemakaman umum Gamping Tengah,” ujarnya.

Musisi kelahiran 9 Maret 1982 itu memiliki arti penting bagi keluarganya. Sebagai anak tertua, Bani sangat perhatian kepada empat adiknya.

Selain Seventeen, ada seniman yang juga menjadi korban tsunami di Tanjung Lesung. Dia adalah Argo Jimmy atau biasa dikenal sebagai Aa Jimmy. Argo, yang juga menjadi pengisi acara pada event yang sama dengan Seventeen, dikonfirmasi meninggal.

“Jenazahnya ditemukan tadi siang (kemarin, Red),” ujar Jana, perwakilan Argo, saat dihubungi Jawa Pos. Jenazah Argo dibawa ke RSUD Serang sebelum akhirnya diantarkan ke Cianjur.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...