logo

02/12/18

Hidup Mendebarkan Warga Kampung Cihantap, Bandung Barat

Hidup Mendebarkan Warga Kampung Cihantap, Bandung Barat

Lantai tiba-tiba saja terasa ambles mendadak. Menghancurkan formasi keramik. Dinding dan tiang penyangga teras juga retak-retak. Itu hanya sebagian risiko yang harus dihadapi warga Kampung Cihantap. Dari dulu dan kini kian parah.

NUSANEWS - Sudah berkali-kali Lilis diwanti-wanti para tetua. Bahwa tanah di kampung yang mereka tinggali kerap bergeser.

"Makanya, orang-orang tua dulu pesan kalau bangun rumah jangan ditembok semua," tutur warga Kampung Puncaksari, Desa Cihantap, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, itu kepada Jawa Pos yang berkunjung ke rumahnya Jumat lalu (23/11).

Ilustrasi: rumah warga roboh karena fenomena alam. Tidak sedikit rumah warga di Desa Cihantap, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, roboh atau bergeser. (Mhd Akhwan/Riau Pos/Jawa Pos Group)

Karena itulah, tinggi tembok beberapa rumah di Cihantap hanya separo. Sisanya rangka dan dinding kayu. Rumah Lilis hanya seperempatnya yang dibangun dengan tembok. Warga percaya, kalau ditembok semuanya, rumah malah rawan runtuh.

Cihantap adalah satu kepingan dari Desa Puncaksari, daerah jaringan perbukitan Gunung Halu dan jaringan Sungai Waduk Saguling. Tiga jam berkendara dari Kota Bandung, ibu kota Jawa Barat.

Cihantap duduk di atas tebing lereng setinggi 50 meter yang sebagian besar sudah diubah menjadi petak-petak kecil persawahan. Yang disusun dalam tingkatan-tingkatan terasering. Hijau menghampar dengan pemandangan perbukitan yang indah.

Sejak 31 Oktober lalu, pergerakan tanah semakin mengkhawatirkan. Lantai tiba-tiba saja terasa ambles mendadak. Menghancurkan formasi keramik. Dinding dan tiang penyangga teras juga retak-retak.

Rumah nomor 27 yang ditinggali Lilis, 48, sudah bergeser beberapa kali. Lilis dan anak tertuanya, Susanti, 25, sudah tak ingat lagi berapa kali mereka membeli semen. Untuk menambal kerusakan dinding dan lantai rumah yang seolah tak pernah berhenti retak.

Saat pergeseran tanah terjadi 8 November lalu, Susanti bercerita, mereka sedang makan bersama di ruang makan. Lalu, terdengar gemeretak dinding dan lantai. Meja-meja bergemeretak seperti ada gempa. "Gelas taruh di meja tumpah," katanya.

Sejak saat itu, mereka merasakan lantai rumah terus bergeser. Terutama saat hujan. Musim hujan adalah waktu yang paling mendebarkan.

Sore, saat mendung menggelantung, Lilis dan seluruh keluarga senantiasa terjaga. Saat hujan turun, Nis, warga Cihantap lainnya, biasanya datang mengetuk pintu sambil menggendong ibunya, Wariyah, yang berusia 120 tahun. Nis yang sudah berusia 65 tahun dan Wariyah mengungsi ke rumah Lilis.

Rumah Nis terletak beberapa meter di belakang rumah Lilis. Rumah kayu tersebut dilihat-lihat memang rentan sekali ambruk. Atapnya bisa terbawa angin, fondasinya bisa kapan saja dirobohkan pergerakan tanah.

Dulu, menurut Nis, mereka berdua tinggal di rumah lama. Beberapa meter di belakang rumah itu. "Tapi, rumahnya sudah dibawa angin," tuturnya.

Karena seringnya mengungsi di rumah Lilis, dua keluarga sangat akrab. Mereka terbiasa bercengkerama di ruang tamu. Sampai sekarang, belum ada sepeser pun bantuan untuk perbaikan rumah mereka.

Solusi yang ditawarkan pemerintah pun terkesan "lucu". "Kalau hujan, kami semua disuruh di luar rumah aja. Biar aman. Tapi, kan dingin," kata Lilis, disambut gelak tawa. Benar juga, lalu buat apa punya rumah kalau tetap kehujanan.

Beberapa meter di belakang rumah nomor 27 milik Lilis, ada rumah milik Santi Ruslan, 25. Tiang depan penyangga rumahnya miring sekitar 9 hingga 10 derajat. Kalau sedang hujan, Santi segera membuka pintu dan duduk di teras. "Saya stand by di sini sampai hujan reda," tutur Santi.

Rumah Ketua RW 07 Olih tidak luput dari tarikan tanah. Sekitar 20 meter di belakang dapurnya, jurang dengan tebing curam menganga setinggi 50 meter. Menarik rumahnya bergeser ke utara. Sekitar tiga minggu lalu, lereng di tebing itu longsor dengan suara bergemuruh dan dimulailah kecemasan panjang Olih.

Olih juga tak kalah gelisah dengan para warganya. Saat terjadi hujan, ia berkeliling dengan payung untuk mengunjungi warganya pintu ke pintu. Melihat adakah retakan baru. Kalau sudah menganggap mengkhawatirkan, dia akan mengungsikan penghuninya ke masjid. Atau ke rumah tetangga yang dianggap aman.

"Aduh, saya ini takut kalau sampai ada korban jiwa. Pasti nanti RW yang disalahkan," keluhnya.

Sore menjelang magrib selepas hujan reda, Olih segera mengambil cangkul, lalu menuju ujung jurang. Di tengah surup keremangan, dia mengayun-ayunkan cangkul, membendung selokan dan saluran air. Saluran air menuju irigasi ke sawah ia tutup dengan batu dan lumpur agar air beralih mengalir ke ceruk terus ke jurang.

Sebanyak-banyaknya kuantitas air harus dibuang ke jurang. Kalau dibiarkan menggenang atau menyerap di atas, akan lebih banyak tanah yang kroak dan longsor.

Meruntuhkan petak-petak sawah, dan pada gilirannya, dapur Olih sendiri. "Kalau yang namanya ular sama jurig (hantu, Red) teh saya sudah nggak takut, udah jadi temen," kata Olih berkelakar.

Dalam catatan Olih, ada 48 rumah yang terdampak. Rumah terparah adalah nomor 6 milik Mohammad Rijwan. Ada lubang besar di ruang tamunya, dinding sudah miring tidak keruan. Juga, rumah nomor 10 milik Ucuk Aziz yang tiang terasnya miring dan hampir roboh. Olih menghitung, sekitar 16 rumah retak berat dan sisanya retak ringan.

Dia mengaku sudah mengumpulkan data dan melaporkannya ke pihak pemerintah desa. Olih berharap segera ada bantuan dan penanganan lebih lanjut. Minimal, bantuan material untuk perbaikan rumah. "Kondisi beberapa rumah sudah sangat mengancam. Pokoknya, jangan menunggu sampai ada korban jiwa," tuturnya.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...