logo

01/12/18

Ferdinand Hutahaean Bicara Infrastruktur: Jokowi Ingin Dikenang Sebagai Pahlawan dan Raja

Ferdinand Hutahaean Bicara Infrastruktur: Jokowi Ingin Dikenang Sebagai Pahlawan dan Raja

NUSANEWS - Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean melontarkan kritik pedas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang digembor-gemborkan Jokowi adalah pencitraan besar.

Demikian disampaikan Ferdinand Hutahaean kepada PojokSatu.id, ditemui di Cianjur, Jawa Barat, Jumat (30/11/2018).

Anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menilai, Jokowi saat ini tengah gencar mencitrakan dirinya melalui pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah di Indonesia.

“Saya lihat beliau ini orang yang agak suka hal-hal yang monumental terhadap dirinya,” ungkap Ferdinand.

Tak tanggung-tanggung, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat itu menyebut Jokowi ingin dikenal sebagai sosok yang sangat istimewa.

“Mencitrakan dirinya itu ingin dikenang sebagai sosok pahlawan lah, raja lah, bapak ini lah, bapak itu lah. Tapi nggak pikirkan nasib bangsa dan rakyatnya seperti apa,” sebutnya.

Ia lantas membandingkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu dengan SBY kala masih menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Dia menekankan, SBY sama sekali tak pernah melakukan pencitraan.

“Tapi kalau dibilang elitis, perfeksionis, iya itu memang gayanya seperti itu. Beliau ini tipe orang yang nggak ingin ada kondisi negatif,” tuturnya.

Untuk urusan peresmian proyek saja, SBY tak mau sembarangan. Dalam sekali peresmian, SBY bisa meresmikan 20 proyek lebih.

“Itu juga dilaksanakan di satu tempat,” katanya.

Ferdinand lantas membeberkan prestasi lain dimana Ketua Umum Partai Demokrat itu mampu membawa Indonesia melewati dua kali krisis monter, yakni pada 1998 dan 2008.

“Dan membawa Indonesia sejajar dengan bangsa yang ekonominya cukup mapan sampai bisa masuk menjadi anggota G20,” bebernya.

Akan tetapi, saat ini telah terjadi kemerosotan dimana-mana.

Dari hasil penggalian Partai Demokrat yang berkeliling Indonesia dan menemui akar rumput, ditemukan sejumlah fakta.

Dimana masyarakat selalu menyampaikan keluhannya bahwa kondisi ekonomi makin susah.

“Lapangan kerja sulit, harga tidak stabil. Tidak mahal tapi tidak stabil. kalau tidak mahal, kadang naik, kadang turun. Ini kan mengganggu kehidupan masyarakat kita,” jelas Ferdinand.

Di sisi lain, sambung dia, pendapatan masyarakat tidak juga tumbuh. Sehingga saat harga naik, masyarakat pun terpukul.

“Biasanya bisa makan daging sekali dua kali seminggu, ini nggk bisa,” ujar dia.

Akibatnya, masyarakat terpaksa mengkonsumsi makanan dengan kualitas gizi menurun.

“Jadi wajar BPJS, banyak orang sakit. Karena masyarakat mengurangi asupan gizi setiap hari. Dulu bisa makan telur atau daging, sekarang berkurang,” urai Ferdinad.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...