logo

04/12/18

Disebut Ormas Sesat dan Menyimpang, GP Ansor Tuntut Dubes Arab Saudi Minta Maaf

Disebut Ormas Sesat dan Menyimpang, GP Ansor Tuntut Dubes Arab Saudi Minta Maaf

NUSANEWS - Pernyataan Dubes Arab Saudi untuk RI Osamah Muhammad al-Suaibi melalui akun twitter-nya, menuai protes keras.

Pasalnya, ia menyebut GP Ansor sebagai ormas sesat dan menyimpang.

Terkait hal itu, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mendesak Kementerian Luar Negeri tidak tinggal diam.

Yaqut menjelaskan, GP Ansor adalah organisasi keagamaan dan kepemudaan yang berazaskan ahlussunnah wal jamaah dan turut andil dalam kemerdekaan RI.

“Kami mengharapkan klarifikasi dari yang Mulia Duta Besar Kerajaan Arab Saudi atas unggahan tersebut,” tegasnya dalam keterangan resmi, Senin (3/12/2018).


Terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang terjadi beberapa waktu lalu di Garut, Jawa Barat, pihaknya menegaskan bahwa itu adalah bendera Hisbut Tahrir Indonesia (HTI).

HTI sendiri sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia serta sejumlah negara-negara di kawasan Timur Tengah.

“Pemerintah juga sudah memastikan bahwa itu adalah bendera Hisbut Tahrir,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga menjelaskan bahwa pelaku pembakaran dan penyelundup bendera yang dibakar pada kegiatan Hari Santri itu juga sudah diproses oleh pihak kepolisian.

“Masalah ini telah diselesaikan secara hukum menurut peraturan perudang-undangan di Indonesia,” sambungnya.

GP Ansor meminta Menteri Luar Negeri agar dapat menggunakan koresponden diplomatik supaya Dubes Arab Saudi dapat memberikan klarifikasi dan permohonan maafnya.

“Kami dengan ini memohon kepada Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, agar kiranya dapat menggunakan koresponden diplomatik yang ada,” katanya.

“Guna meminta klarifikasi dan permohonan maaf dari Yang Mulia Duta Besar Kerajaan Arab Saudi sehubungan dengan materi unggahan dimaksud,” pungkasnya.

Diberitakan PojokSatu.id sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bereaksi keras terhadap cuitan Dubes Arab Saudi untuk RI, Osamah Muhammad al-Suaibi.

Hal itu bermulai dari cuitan Osamah melalui akun twitter pribadinya yang memajang sejumlah foto-foto aksi reuni 212 di Monas, Minggu (2/12/2018) kemarin.

Namun yang menjadi sorotan adalah penjelasan dalam cuitan itu yang menyebut bahwa Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) sebagai organisasi sesat dan menyimpang.

Osamah bercuit, bahwa aksi di Monas kemarin itu adalah buntut dan reaksi keras atas peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh organisasi sesat dan menyimpang.

“Massa yang berjumlah lebih dari satu juta berkumpul demi menyatakan persatuan umat Islam merupakan reaksi keras terhadap dibakarnya bendera tauhid,” cuit Osamah.

“Oleh seorang dari pihak organisasi sesat menyimpang kurang lebih sebulan yang lalu,” lanjutnya.

“Dengan dihadiri capres Jendral Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Parlemen Fadli Zon serta tokoh-tokoh muslim lainnya,” demikian Osamah.

Terkait hal itu, PBNU melalui keterangan resminya menyatakan protes keras terhadap cuitan yang dianggap sangat melukai itu.

“Dalam pandangan kami, Osamah telah melakukan pelanggaran keras diplomatik, yakni mencampuri urusan politik suatu negara di luar kewenangannnya,” tegas Ketua Umum PBNU Saiq Aqil Siroj, Senin (3/12).

Atas ulah Dubes Arab Saudi itu, dinilai bisa mengganggu hubungan diplomatik kedua negara.

“Hal ini jelas mengganggu hubungan diplomatik RI dan Saudi Arabia. Atas dasar ini kami menyampaikan protes keras,” tegasnya.

Menurut Said, Osamah telah dengan sengaja menyebarkan fitnah dengan menuduh bahwa aksi pembakaran dilakukan oleh organisasi sesat.

Hal itu sama saja menuduh GP Ansor sebagai organisasi sesat.

“Yang dimaksud (Osamah) dengan mengatakan jamaah almunharifah (organisasi sesat atau mennyimpang),” jelasnya.

“Padahal, terkait peristiwa tersebut, GP Ansor sudah memberikan sanksi kepada oknum yang melakukan pembakaran dan tindakan tersebut keluar dari SOP GP Ansor,”

“Bahkan kami keluarga besar NU menyesalkan kejadian itu,” sambung Said.

Atas alasan itu, PBNU meminta pemerintah untuk menyampaikan nota protes kepada Pemerintah Saudi.

Sehingga Raja Salman bin Abdulaziz memulangkan Osamah sebagai bagian dari sanksi.

“Sanksi atas tindakannya yang gegabah dan mencampuri urusan politik negara Indonesia,” pungkasnya.

Untuk diketahuui, cuitan Dubes Arab Saudi untuk RI Osamah Muhammad al Suaibi dimaksud itu sendiri sudah dihapus.

Osamah kemudian menggantinya dengan cuitan yang baru dengan menghilangkan kata  jama’ah al-munharifah (organisasi sesat) dalam tweet barunya.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...