logo

22/12/18

Deretan Kasus Pengaturan Skor yang Terungkap di Indonesia

Deretan Kasus Pengaturan Skor yang Terungkap di Indonesia

NUSANEWS - Pengaturan skor di sepak bola Indonesia belakangan kembali jadi kasus yang hangat diperbincangkan. Sejatinya kasus suap di lapangan hijau bukan baru kali ini saja terjadi.

Isu mafia sepak bola ramai bergulir usai Madura FC membongkar bahwa mereka sempat ingin disuap salah seorang Exco PSSI, Hidayat. Hidayat sendiri kini sudah mundur dari Exco PSSI. Hanya saja, kala itu Madura FC dengan tegas menolak iming-iming tersebut.

Apa yang diutarakan Januar menjadi pemantik kasus-kasus lainnya. Sejumlah dugaan suap pun diungkap ke publik. Hal itu membuat Polri turun tangan. Kepolisian akhirnya membuat Satgas anti mafia sepak bola yang langsung di bawah Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Andai ditarik ke belakang, pengaturan skor memang sudah kerap 'menghiasi' persepakbolaan tanah air. Berikut deretan kasus pengaturan skor yang terungkap di Indonesia versi JawaPos.com:

1. Skandal Marah Halim Cup 1988

Pada 1988 lalu, sepak bola Indonesia digegerkan soal dugaan kasus suap laga PSMS Medan kontra Persebaya Surabaya dalam turnamen Marah Halim Cup. Sebamyak 11 pemain PSMS Medan bahkan sampai ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kesebelas pemain itu diduga menerima suap dan terbukti di persidangan. Semua pemain tersebut harus membayar denda Rp 15 juta dan menjalani hukuman percobaan.

2. Sepak Bola Gajah Piala AFF 1998

Kejadian memalukan tercipta pada Piala AFF 1998. Kala itu Indonesia dan Thailand yang sudah dipastikan lolos dari Grup A menjalani laga penentuan juara grup. Pemuncak klasemen akan bersua Vietnam di semifinal dan runner-up melawan Singapura.

Indonesia dan Thailand sama-sama enggan menang untuk menghindari Vietnam. Saat laga berjalan 2-2, Mursyid Effendi secara sengaja mencetak gol ke gawang sendiri pada menit 90. Indonesia akhirnya kalah 2-3 dari Thailand dan lolos sebagai runner-up.

FIFA lantas menjatuhkan hukuman berat kepada Mursyid dengan larangan bermain seumur hidup. Ironisnya, Indonesia dan Thailand justru sama-sama takluk di semifinal.

3. Dugaan Suap di Liga Indonesia VI

Liga Indonesia musim 1999-2000 diduga diwarnai oleh pengaturan skor saat laga PSIS Semarang vs Arema Malang. Manajer PSIS kala itu, Simon Legiman bahkan secara jujur buka suara pernah membayar wasit Muchlis.

Dia membuka kasus itu karena kesal dibohongi Muchlis. Sebab, saat itu keputusan Muchlis malah merugikan PSIS yang takluk 2-3 dari Arema Malang. Seperti yang sudah dikabarkan di sejumlah media kala itu, dalam perjanjian Muchlis meminta Rp 3 juta andai pertandingan seri dan Rp 5 juta apabila menang.

4. Divisi Utama 2014

Peristiwa memalukan terjadi pada babak 8-besar Divisi Utama antara PSS Sleman vs PSIS Semarang, 26 November 2014. Pertandingan yang berlangsung di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Jogjakarta itu mengulang peristiwa sepak bola gajah.

PSS menang 3-2 kala itu. Namun, pertandingannya tak wajar. Sebab, lima gol yang tercipta semuanya dicetak melalui bunuh diri. Kedua klub diduga sengaja mengalah agar tak menjadi juara grup N babak 8 besar Divisi Utama 2014.

Kedua klub itu sudah sama-sama lolos ke fase selanjutnya tetapi seperti menghindar bertemu Borneo FC. Hukuman dijatuhkan kepada pihak yang terlibat, dari 1 tahun percobaan, hingga seumur hidup dilarang beraktivitas di sepak bola Indonesia.

5. Divisi Utama 2015

Pada kompetisi Divisi Utama 2015, Johan Ibo tertangkap tangan berusaha menyuap pemain Pusamania Borneo FC (kini Borneo FC). Dia awalnya mendatangi hotel pemain PBFC dan membahas transaksi utuk memenangkan Persebaya Surabaya.

Ibo mengirimkan SMS ke tiga pemain PBFC. Manajemen klub kemudian memancing Ibo dan langsung disergap. Dia kemudian diamankan pihak keamanan. Tapi kemudian dilepas karena polisi tak memiliki cukup bukti.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...