logo

29/11/18

Tanggapi Omongan Ali Ngabalin di ILC, Said Didu: Semoga Menjadi Pegangan Banyak Orang

Tanggapi Omongan Ali Ngabalin di ILC, Said Didu: Semoga Menjadi Pegangan Banyak Orang

NUSANEWS - Mantan Staf Khusus Menteri ESDM Muhammad Said Didu menanggapi pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin.

Dilansir TribunWow.Com, hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitternya pada Selasa (27/11/2018) malam.

Awalnya, Said Didu memberikan kritik kepada Ali Ngabalin yang ia anggap lupa tentang suatu hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian.

Hal itu menyusul pernyataan Ali Ngabalin di ILC yang membahas soal hasil survei "Masjid terpapar radikal."

"Mungkin Bung @alingabalin lupa bhw dalam metode ilmiah,

jika metodologi penelitian salah dan tdk bisa dipertahankan oleh penelitinya,

maka tidak perlu lagi dibahas kesimpulannya krn pasti kesimpulan tersebut tidak Valid secara ilmiah - sehingga kesimpulannya tdk bisa digunakan," tulisnya.



Meski demikian, Said Didu mengaku senang lantaran Ali Ngabalinmengingatkan agar semua pihak tidak memaki-maki.

Ia pun berharap omongan Ali Ngabalin itu (bersikap sopan) dijadikan pegangan semua orang, termasuk Ali Ngabalin.

"Saya senang dengarkan Bung @NgabalinAli di @ILCtv1 malam ini yang meminta semua pihak agar tdk memaki dan selalu berkata2 sopan.

Semoga menjadi pegangan banyak orang, termasuk yg menyampaikan," imbuhnya.




Sementara itu, Said Didu melalui acara Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (27/11/2018) Ali Ngabalin sempat mengingatkan semua pihak agar tidak ngawur, dan sopan.

Hal itu seperti saat ia menanggapi pernyataan Dewan penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana,

"Jadi begini ini kan clean-nya hasil penelitian atau studi kemudian dipaparkan, lalu pertanyaan seriusnya kita tidak boleh menilai? Boleh lah," ujar Eggi Sudjana.

"Tapi jangan bilang ngawur, masak ada doktor begitu pilihan katanya," potong Ali Mochtar Ngabalin.

Dalam acara itu, Ali Ngabalin juga mengkritik Wasekjen MUI Ustaz Tengku Zulkarnain yang menyebut penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) abal-abal.

Menurut Ali Ngabalin, jika ingin memberikan pembantahan, harus dengan penelitian juga, saling menghargai, dan tidak mencaci.

"Saya tidak setuju kalau Anda menyebut itu penelitian ngawur,".

"Sebagai masyarakat kampus dan orang intelektual, itu adalah mencederai sistem ilmu pengetahuan dan teori yang selama ini kita pakai," ujar Ali Ngabalin.

"Publik hari ini mendengar pilihan kata yang kita pakai, kata abal-abal, ngawur, keluar dari mulut seorang ulama, Tengku Zulkarnain, ajaran apa yang Anda belajar, saya tidak percaya itu, hati-hati," imbuh Ngabalin.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...