logo

10/11/18

Selaput Dara Jebol Diduga Bekas Pakai, Guru Seret Mantan Pacar Siswinya

Selaput Dara Jebol Diduga Bekas Pakai, Guru Seret Mantan Pacar Siswinya

NUSANEWS - Oknum guru SMA swasta di Denpasar, Putu Arif Mahendra (32) berusaha bebas dari tuntutan pidana penjara 8 tahun.

Guru yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan saat melakukan persetubuhan dengan siswinya ini, menuding ada konspirasi alias persekongkolan yang ingin menghancurkan dirinya.

Guru tari di salah satu SMA swasta di kawasan Kreneng, Denpasar, itu menyebut mantan pacar korban yang seharusnya bertanggungjawab dan duduk menjadi pesakitan.

Ia menyatakan, berdasarkan hasil visum dokter, selaput dara korban sudah jebol. Robekan selaput dara itu diduga sebagai akibat bekas pakai mantan pacar korban.

“Robekan lama pada selaput dara dapat disebabkan oleh persetubuhan yang sudah lama. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh lainnnya,” kata
pengacara terdakwa, Iswahyudi membacakan nota pembelaan (pledoi) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali.

Iswahyudi membeberkan hasil visum bernomor YR.02.03/XIV.4.4.7/137/2/2018, tertanggal 20 Maret 2018 yang dibuat oleh dr. Kunthi Yilainati Sp. Kf.

Dalam surat tersebut disebutkan kesimpulann yang menyatakan pada korban yang berusia 16 tahun ini, ditemukan robekan lama selaput dara.

Kesimpulan tersebut sesuai dengan pengakuan korban yang mengakui riwayat bersetubuh dengan mantan pacarnya.

“Maka dengan demikian tuntutan terhadap terdakwa adalah sebagai upaya menutupi perilaku amoral dari korban selama ini dari lingkungan keluarganya,” tutur Iswahyudi.

“Ini juga merupakan konspirasi antara korban dan saksi Tika Candra untuk menghancurkan terdakwa,” imbuh pengacara berambut klimis itu.

Maka atas penyimpangan alat bukti surat berupa visum untuk menjadikannya sebagai unsur/bukti mendakwa terdakwa Arif sebagai pelakunya adalah tidak tidak tepat.

Tidak hanya itu, Iswahyudi menyatakan tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sangat berlebihan dan mengada-ada.

“Mantan pacar korbanlah yang seharusnya duduk di depan persidangan saat ini sebagai terdakwa karena telah menyetubuhi korban,” tandasnya, seperti dikutip dari Radar Bali (Grup Jawa Pos), Sabtu, 10 November 2018.

Pengacara muda itu meminta kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa Putu Arif Mahendra dari tuntutan pidana sebagaimana

yang dituntut oleh JPU. Apabila majelis hakim berpendapat lain, maka dia berharap memberi putusan yang seadil-adilnya.

Putu Arif Dituntut 8 Tahun, Denda Rp 1 Miliar

Putu Arif Mahendra

Sebelumnya, Putu Arif Mahendra, 32, guru tari salah satu sekolah swasta di wilayah Kreneng, Denpasar, dituntut 8 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar, Putu Oka Surya Atmaja.

Dalam sidang tertutup untuk umum itu JPU menilai terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja

melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya secara berlanjut.

Di hadapan hakim Hakim Novita Riama, JPU menyebut perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 81 ayat (2) UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP (dakwaan subsider).

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Novita Riama itu, terdakwa juga menuntut terdakwa membayar denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan.

Tuntutan 8 tahun penjara itu dibenarkan kuasa hukum terdakwa, Iswahyudi. “Ya, klien kami dituntut 8 tahun,” ujar Iswahyudi usai sidang.

Ditambahkan Iswahyudi, pihaknya akan mengajukan pembelaan secara tertulis. Dalam berkas tuntutan yang ditunjukkan pihak kuasa hukum, disebutkan sejumlah barang bukti seperti beberapa baju dan seragam sekolah milik korban.

Selain itu, terdapat empat lembar tanda pemesanan kamar di Hotel Oranjie, tertanggal 20 Februari, 26 Februari, 28 Februari, dan 1 Maret 2018.

Melakukan Hubungan Badan Bertiga di Hotel

Putu Arif Mahendra

Putu Arif Mahendra ditangkap Satreskrim Polresta Denpasar pada 21 Maret 2018. Ia dituding melakukan pelecehan/pencabulan dan persetubuhan yang diawali dengan pemaksaan dan pengancaman terhadap anak didiknya sendiri berinisial AC berusia 16 tahun.

Korban dan terdakwa sudah lama kenal yakni sejak korban SMP yang bersekolah di tempat yang sama.

Terlebih dari SMP, korban ikut ekstrakurikuler seni tari yang terdakwa adalah guru pembimbingnya.

Nah, pada 28 Desember 2017, korban menghubungi terdakwa melalui aplikasi Line untuk menanyakan siapa pasangan menarinya. Namun terdakwa malah mencoba merayu.

Dua hari kemudian, saat latihan menari korban diminta menemui terdakwa lebih awal di ruang akreditasi lantai 1 dekat ruang guru.

Terdakwa seketika mulai melecehkan korban mulai mencium dan lainnya namun tak sampai persetubuhan.

Korban tak melawan karena takut atas ancaman terdakwa yang meminta tak usah ikut menari lagi jika menolak keinginan terdakwa.

Ulah terdakwa terus terulang, hingga terdakwa sering video call sex dengan korban melalui aplikasi medsos.

Hingga Januari 2018, terdakwa mengajak korban ketemu di sebuah hotel di Denpasar pada pukul 13.30, usai latihan.

Terdakwa terus menekan korban hingga terjadi persetubuhan terus menerus sampai Maret 2018.

Bahkan, terdakwa juga mengajak satu korban lagi yang tak lain adalah teman korban berinisial KE. Persetubuhan bertiga pun dilakukan di hotel.

Seakan tak puas, terdakwa lagi-lagi menyetubuhi korban di penginapan kawasan Jalan Siulan, Denpasar. Namun ternyata korban menceritakan perbuatan bejat terdakwa ke temannya (saksi).

Rekan korban (saksi) pun melakukan screenshot percakapannya dengan korban dan menceritakan ke orang lain. Hal tersebut menjadi bahan pembicaraan, hingga akhirnya orangtua korban mengetahui dan segera melaporkan pelaku ke pihak kepolisian.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...