logo

05/11/18

Pesawat Lion Air JT 610 Hancur Usai Jatuh Dengan Kecepatan 639 Km/Jam

Pesawat Lion Air JT 610 Hancur Usai Jatuh Dengan Kecepatan 639 Km/Jam

NUSANEWS - Harapan untuk menemukan badan pesawat Lion Air JT 610 tampaknya sia-sia. Sebab, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemarin memastikan bahwa pesawat yang jatuh di perairan Karawang itu telah hancur berkeping-keping.

Kepastian itu didapat setelah tim evakuasi terjun langsung ke lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

Yang mereka temukan hanya puing dan serpihan badan pesawat. Bahkan, mesin pesawat pun tidak lagi utuh.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi (tengah) bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, mesin pesawat dipastikan tidak meledak. Mesin tersebut hancur saat pesawat menghunjam masuk ke air dengan kecepatan sangat tinggi.

Sebelum lost contact, pesawat tersebut diketahui terbang di ketinggian 5 ribu kaki dengan kecepatan tinggi, yakni 345 knot atau sekitar 639 km/jam. Kecepatan tersebut diperkirakan bertambah saat pesawat menukik tak terkendali hingga menghujam masuk ke air. Meski demikian, kepastian tentang kecepatan pesawat saat jatuh menunggu hasil penyelidikan KNKT.

"Istilahnya tadi (mesin yang tersisa, Red) itu kan seperti bonggolnya jagung. Jagungnya sudah dipipil, sudah hilang semua," ujar Soerjanto di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) II kemarin.

Dia bersama dua petugas lain melihat kondisi mesin pesawat. Dalam penelitian kecelakaan pesawat itu, KNKT memang dibantu perwakilan teknisi dari Boeing dan KNKT Amerika Serikat. Mereka memeriksa kondisi mesin yang sudah tidak utuh itu sebelum dimasukkan ke truk yang akan menuju kantor KNKT.

Selain mesin, hancurnya bodi pesawat itu juga terlihat dari bagian yang bisa diangkat ke dermaga tersebut. Menurut Soerjanto, bagian pesawat yang sudah seperti terkoyak tersebut adalah tempat bahan bakar pesawat. "Itu yang ada ijo-nya itu paling tebal. Itu bagian yang paling kuat saja sudah pecah. Itu bagian tangki tengah sayap. Yang kuat saja seperti itu," ungkap dia.

Memang, hingga kemarin tim SAR gabungan hanya menemukan puing-puing. Padahal, radius evakuasi menggunakan ROV sudah mencapai 250 meter. Namun, tidak juga ditemukan badan pesawat yang lebih besar. "Radius kalau 250 meter itu sudah cukup. Karena kita keluarkan sedikit (radius pencariannya, Red) sudah tidak ada barang (temuan). Lebih kecil-kecil lagi. Jadi, wasting time. Kita memanfaatkan waktu dan personel yang ada," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.

Hingga evakuasi hari keenam kemarin, pencarian dan penyelaman yang dilakukan hanya berhasil mengangkat sepasang roda pendaratan (main landing gear) kedua. Roda pendaratan yang hancur tersebut dinaikkan dengan balon pelampung, lantas diangkat dengan crane milik kapal Baruna Jaya I. Belum ada pengangkatan badan pesawat seperti yang direncanakan.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...