logo

27/11/18

Pembunuhan di Sampang Terkait Capres, Kubu Prabowo Minta Jokowi Tidak Kompor

Pembunuhan di Sampang Terkait Capres, Kubu Prabowo Minta Jokowi Tidak Kompor

NUSANEWS - Perbedaan pilihan politik terkait calon presiden (capres) memicu pembunuhan di Sampang Madura, Jawa Timur. Tukang gigi bernama Subaidi (40) tewas ditembak oleh Idris (30). Subaidi mengalami luka tembak di bagian dada, tepatnya di bawah rusuk.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi seluruh pihak untuk berhenti melakukan provokasi.

“Ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa harus mengakhiri dan mengurangi diksi yang menghina pribadi dan memprovokasi alias jadi kompor,” kata Andre kepada wartawan, Selasa (27/11/2018).

Harapan ini dikhususkan Andre kepada Presiden Jokowi. Menurut dia, Jokowi harus menjadi panutan dalam menciptakan situasi politik damai.

Andre pun mengungkit pernyataan Jokowi yang sering menggunakan diksi tidak mendidik, seperti politikus sontoloyo, genderuwo, tabok, hingga kompor.

“Presiden adalah kepala negara kita yang harus jadi suri teladan bangsa Indonesia,” imbuh politikus Gerindra itu.

“Kalau presiden terus (begitu), mohon maaf Pak Jokowi terindikasi jadi kompor, misal sontoloyo, mau tabok, tanpa menurunkan tensi dan tidak memakai diksi yang mempersatukan nantinya takut di bawah akan seperti ini,” tandas Andre.

Kasus pembunuhan di Sampang Madura bermula dari status Facebook “Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini”. Status tersebut lengkap dengan gambar samurai.

Akun milik Idris kemudian memberikan komentar di postingan itu. “Saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut,” tulis Idris.

Idris lantas didatangi salah satu ulama di wilayah pantai utara (pantura) yang juga guru tersangka. Ia mendatangi Idris dan mengklarifikasi komentarnya di media sosial.

Proses klarifikasi tersebut didokumentasikan dalam bentuk video. Lalu, diunggah ke media sosial. Sehingga, terjadilah banyak komentar atas video tersebut, termasuk korban juga mengomentarinya.

”Motif dan pemicunya adalah sakit hati karena postingan dan komentar di media sosial antara korban dengan pelaku,” jelas Kapolres Sampang, AKBP Budi Wardiman, seperti dilansir Radar Madura, Sabtu (24/11) lalu.

Berdasarkan pengakuan dari pelaku, pertemuan antara korban dengan pelaku terjadi di Jalan Raya Desa Sokobanah Laok tidak direncanakan. Pelaku saat itu hendak menuju Pasar Plerenan. Di tengah jalan bertemu dengan Subaidi.

”Jenis senpi yang digunakan pelaku adalah revolver rakitan. Pelaku menembakkan satu kali ke tubuh korban,” katanya.

Saat dirilis, barang bukti senpi yang ditunjukkan kepada wartawan hanyalah pucuknya saja alias larasnya. Sementara, gagang dan pelatuknya tidak ada. Tak hanya itu, sisa peluru milik pelaku juga tidak ada.

”Selongsongnya masih kami cari. Sebab, usai menembak, selongsongnya dibuang di wilayah Sokobanah Tengah,” terangnya.

Barang bukti yang diamankan milik korban di antaranya helm warna hitam milik korban, sepeda motor Yamaha Aerox M 4384 PU berikut STNK dan kunci kontak milik korban. Motor milik korban tidak terdapat kerusakan.

Barang bukti lain adalah Handphone Vivo dalam kondisi pecah diduga kena peluru dan tas warna hitam berisi perlengkapan alat pasang gigi milik korban.

Selain itu, helm hitam motif bintik putih terdapat bercak darah, ranting kayu kering ada bercak darah, dan selembar daun kering ada bercak darah.

”Kami gunakan pasal 340 KUHP jo pasal 56 ayat 1 atau pasal 338 KUHP jo pasal 1 ayat 1 UU darurat 12/1951 dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau selama-lamanya dua puluh tahun,” tegas Budi.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...