logo

07/11/18

Mandi Safar, Ritual Tolak 360 Ribu Musibah

Mandi Safar, Ritual Tolak 360 Ribu Musibah

NUSANEWS - 7 November 2018 yang bertepatan dengan 29 Safar 1440 Hijriyah merupakan hari penting bagi sejumlah masyarakat Islam di Indonesia. Pada hari tersebut digelar ritual yang dikenal dengan istilah Mandi Safar. Seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Mandi Safar merupakan ritual budaya yang bertujuan untuk membentengi diri dari 360 ribu bala yang diturunkan Allah pada hari tersebut. Dengan menjalani ritual, masyarakat setempat yakin akan terhindar dari ancaman bencana yang diturunkan.

“Boleh percaya, boleh juga tidak. Ini ritual budaya orang tua kami sejak dulu,” kata Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Nongsa Mazlan Madiun ketika ditemui di sela kegiatan Mandi Safar, Rabu (7/11/2018).

Pada hakikatnya, Mandi Safar adalah memohon perlindungan kepada Sang Pencipta. Melalui rangkaian doa bersama seusai menjalani prosesi mandi, berharap bala atau musibah yang diturunkan Tuhan tidak menyentuh masyarakat.

Pada prosesnya, Mandi Safar memakai tepung beras, kayu ulin, dan daun jeruk. Tepung beras yang telah dicampur dengan kayu ulin dan daun jeruk, diusap ke wajah sebelum turun ke laut.

Tetua Kampung Terih Seno bin Asnan, 64, mengatakan, untuk sampai pada prosesi Mandi Safar harus melalui izin dari orang tua yang benar-benar paham dengan kampungnya. Di lokasi yang telah ditentukan, masyarakat akan turun ke laut untuk mandi. “Daerah ini juga ada yang mendiami selain kami (manusia). Alam ini ada penghuninya. Sehingga kami beritahu dulu,” terang Seno.

Selanjutnya, masyarakat diarahkan untuk menyelam ke arah laut sebanyak tiga kali. Lalu menyelam lagi ke arah daratan sebanyak tiga kali untuk mengakhiri proses mandi penolak bala ini. Kemudian mengikuti acara doa bersama.

Bagi masyarakat Kampung Terih, Mandi Safar adalah agenda rutin yang selalu dijalankan. Selain sebagai upaya memohon perlindungan, rangkaian acara Mandi Safar telah menjadi budaya turun temurun. Ritual diharapkan dapat membentuk pribadi yang berbudaya.

Kesucian yang dihadirkan dalam warna putih tepung beras, kehidupan yang dilambangkan dengan kayu ulin serta tampak berwarna merah sebagai darah, dan harum daun jeruk menunjukan hadirnya sifat baik manusia.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...