logo

10/11/18

Mabuk dengan Air Pembalut Wanita, Adu Nyali untuk Raih Sensasi Fly

Mabuk dengan Air Pembalut Wanita, Adu Nyali untuk Raih Sensasi Fly

NUSANEWS - Penggunaan rebusan air pembalut wanita bekas dan baru untuk mabuk menjadi tren anak-anak dan remaja di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Karawang dan Bekasi.

Menanggapi fenomena ini, sosiolog Universitas Indonesia (UI)
Yopie Septiady mengatakan, pelakunya tentu dari kelompok masyarakat menengah bawah. Biasanya kelompok masyarakat ini akan "berupaya" mencari cara untuk mendapatkan kenikmatan "fly" atau melayang yang lebih cepat reaksinya dan lebih dahsyat rasa atau efeknya.

Selain itu kelompok ini juga ingin mabuk dengan yang lebih menantang reaksinya (sensasi fly) sehingga mencari media mabuk yang kadang tidak masuk akal yang tidak masuk akal bagi masyakarat yang normal.
Seperti mabuk dengan menggunakan merk alkohol kelas bawah namun selalu ada "bumbu-bumbu " campuran yang selalu dikreasi untuk mendapatkan sensasi melayang yang berbeda.

"Sensasi fly nya kaum menengah bawah yang terbatas ekonominya ini mengembangkan pemikiran-pemikiran  "liar" sehingga kadang mereka menghasilkan percobaan-percobaan yang tidak sedikit berujung maut," ujar Yopie kepada Harian Terbit, Jumat (9/11/2018).

Yopie menuturkan, sensasi fly bagi kelompok ini tidak lagi melihat dan berlogika "aman" dan "senang". Bagi kelompok menengah bawah saat mendapatkan sensasi fly kadang lebih dibalut oleh faktor adu nyali, jago, kuat dengan sesama anggota kelompoknya. Oleh karenanya pada umumnya kelompok menengah bawah jika mabuk pasti tidak sendiri.

Berbahaya

Sementara itu, Presidium Jaringan AKSI Remaja, Evie Permata Sari mengatakan, air rebusan pembalut berbahaya karena terbuat dari bahan yang tidak layak untuk dikonsumsi. Dalam pembalut terdapat senyawa kimia seperti klorin yang bisa berisiko kanker. Jika dipakai secara terus menerus bisa membuat iritasi kulit sehingga jika uap rebusannya dihirup atau diminum maka akan sangat berbahaya. "Ini merupakan penyalahgunaan produk pembalut, yang seharusnya dipakai buat menampung darah haid tapi dikonsumsi," ujarnya.

Lebih lanjut Evie mengatakan, ke depan bisa saja terjadi pemanfaatan media yang lebih ekstrim untuk mabuk. Karena selama mereka teradiksi atau kecanduan maka pasti akan ada alternatif lain untuk mendapatkan efek lain seperti mengkonsumsi narkoba. Contohnya rokok yang sudah kecanduan maka akan cari cara lain untuk bisa mengkonsumsi rokok.

Terpisah, analis Kebijakan Narkotika LBH Masyakarat, Yohan Misero mengatakan, pelaku mabuk yang memanfaatkan pembalut tidak perlu dijerat hukum. Seperti di Jawa Tengah yang pelakunya remaja, masa depannya masih panjang dan penjara bukan tempat terbaik untuk pengembangan diri.

Menurutnya, jikapun yang melakukan orang dewasa, UU Narkotika membuktikan bahwa menghukum orang yang menyalahgunakan zat tidak ada gunanya. Oleh karenanya lebih baik mendorong mereka untuk melakukan rangkaian kegiatan pemulihan.

"Tentu saja dengan catatan bahwa itu dilakukan kalau memang sudah dalam taraf adiksi yang sedemikian rupa.  Jika masih coba-coba ya saya pikir pendidikan saja sudah cukup. Hal ini selaras juga untuk dilakukan pada masyarakat umum, yakni pendidikan yang jujur tentang narkotika dan zat adiktif lainnya, termasuk yang terkandung di dalam pembalut ini.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...