logo

24/11/18

Kisah Hancurnya Kota Sodom yang Melegalkan LGBT, Begini Menurut Sains

Kisah Hancurnya Kota Sodom yang Melegalkan LGBT, Begini Menurut Sains

NUSANEWS - Kota Sodom dan Gomora, merupakan kota yang terdapat kisah di kitab suci. Kota ini dihancurkan Tuhan dengan bencana alam karena polah mereka yang melegalkan hubungan sesama jenis atau LGBT.

Diduga kuat kota ini terletak di kawasan Laut Mati. Peradaban mereka punah dan luluh lantak sekitar 4.000 tahun SM.

Melansir dari laman Sputniknews (23/11), para arkeolog dari Trinity Southwest University, sebuah lembaga pendidikan tinggi Kristen di New Mexico, Amerika Serikat meneliti lokasi-lokasi yang diyakini bekas peradaban kaum Sodom. Mereka mengklaim, peradaban di Laut Matu hancur pada 3.700 tahun SM karena hantaman meteor dari angkasa luar.

Baca: Selama 65 Hari, Kota Ini Tidak Lagi Melihat Matahari sampai 23 Januari 2019

Adanya pertemuan tahunan American Schools of Oriental Research di Denver, Colorado,Phillip Silvia melaporkan temuan awal dari penggalian mereka di daerah tersebut.

Daerah ini diyakini oleh beberapa ilmuwan sebagai tempat bermukim kaum Sodom dan Gomora. Penelitian menunjukkan, pemukiman yang terletak di wilayah Ghor Tengah di Lembah Yordan tersebut dulu dihuni sekitar 65.000 jiwa.

Baca: Gigit Jari! Burung Lovebird Ini Pernah Ditawar Rp2 Miliar, Gak Lama Kemudian Burungnya Mati Mendadak

Rumah-rumah di sana kemudian lenyap disapu gelombang panas dan angin badai. Demikian laporan Science News. Gelombang ledakan juga memicu terciptanya air asin di Laut Mati.

Menurut para peneliti, ledakan tersebut tidak hanya menghapus seluruh kehidupan kota-kota Zaman Perunggu Tengah tersebut, tetapi juga lahan yang dulunya subur.

Ledakan meteor tersebut menyapu bersih seluruh kawasan termasuk kota kuno Tall el-Hammam, tempat para peneliti bekerja selama bertahun-tahun.

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan, dinding bata lumpur tiba-tiba menghilang di kota Ghor Tengah, karena hanya fondasi batu yang tersisa.

Geeklychristian Tall el-Hammam diyakini dulunya merupakan kotta Sodom.

Permukaan tembikar yang ditemukan di situs itu meleleh menjadi kaca, yang mungkin merupakan hasil dari suhu ekstrim. Setelah dugaan ledakan itu, orang-orang tidak akan kembali ke wilayah itu selama 600-700 tahun.

PERADABAN KOTA SODOM

Sodom diyakini merupakan kota terluar di wilayah tersebut. Luasnya diperkirakan mencapai 5 hingga 10 kali luas kota-kota di sekitarnya.

Menurut Steven Collins, seorang ilmuwan Trinity Southwestern University mengklaim, timnya menemukan bukti adanya kota yang diperluas. Kota tersebut dilengkapi dinding pertahanan dari bata merah dengan tebal 5,2 meter dan tinggi 10 meter.

Tembok ini dilengkapi dengan gerbang, menara pengawas, dan setidaknya satu jalan. Bagi para peneliti, dinding ini menjadi bukti bahwa kota itu terus diperluas dan diperkaya. Selama pertengahan Zaman Perunggu, tembok ini digantikan dengan benteng yang lebih besar.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...