logo

27/11/18

Jokowi Sengaja Produksi Diksi-diksi Kontroversial Demi Hindari Tuntutan Janji Pilpres 2014

Jokowi Sengaja Produksi Diksi-diksi Kontroversial Demi Hindari Tuntutan Janji Pilpres 2014

NUSANEWS - Paslon Capres dan Cawapres petahana Jokowi-Ma'ruf Amin diminta berhenti memproduksi diksi-diksi yang memicu kegaduhan publik.

Presiden Jokowi belakangan dinilai sengaja mengeluarkan pernyataan kontroversial. Terbaru adalah pernyataan Jokowi soal adanya pihak yang dia sebut 'kompor' yang suka membuat situasi tahun politik panas.

Sekretaris Bidang Polhukam DPP PKS, Suhud Alynuddin mengatakan, pernyataan kontroversial Jokowi tersebut menambah daftar panjang diksi-diksi kontroversial yang berimbas buruk kepada masyarakat.

Suhud pun mengaku kasihan kepada publik yang selalu disuguhi konten-konten kampanye yang tidak cerdas.

Selain karena tidak berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan masyatakat, hal tersebut juga sama sekali tidak mendidik dalam berdemokrasi.

Suhud menduga, sebagai petahana Jokowi memang sengaja memproduksi pernyataan bernada kontroversial dan provokatif demi untuk menghindari memori publik dan tuntutan masyarakat soal janji politiknya di Pilpres 2014 silam.

Dia mengungkapkan, Jokowi kehabisan akal untuk menutupi janji-janjinya yang tidak tertunaikan. Sehingga, lanjutnya, Jokowi memilih bersikap lebay dengan melontarkan diksi-diksi yang sedapat mungkin memicu kegaduhan di tengah-tengah masyatakat.

"Kami curiga Pak Jokowi sengaja memunculkan istilah-istilah baru untuk menghindari tuntutan publik terhadap janji-janji kampanye yang tak mampu ditepati dan juga menghindari kampanye yang bersifat substantif," kata Suhud di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Suhud juga mengkritik pernyataan Jokowi, yang baru-baru ini menyinggung soal 'kompor' yang dinilai justru memanaskan suasana tahun politik.

"Masyarakat di lapisan bawah damai-damai saja kok, justru pernyataan Pak Jokowi, dengan istilah 'kompor' menambah daftar diksi yang kemudian memicu kegaduhan masyarakat," sesal Suhud.

Bila strayegi petahana ini terus dipelihara, Suhud khawatir hal itu nantinya akan memicu masyarakat untuk saling sindir dengan menggunakan istilah yang dipopulerkan oleh Jokowi.

"Kehidupan masyarakat di lapis bawah itu tergantung perilaku elitenya. Jika para elitenya terus memproduksi istilah-istilah provokatif, maka akan diikuti oleh para pengikut dan pendukungnya," Suhud mengingatkan.

Diketahui, sebelumnya, Presiden Jokowi menilai banyak pihak yang memanfaatkan momen pilihan politik dengan membuat suasana menjadi 'panas'.

Dia mengatakan, seharusnya masyarakat dibiarkan menentukan pilihan politiknya masing-masing tanpa dipanas-panasi.

"Kita ini saudara sebangsa dan setanah air. Jangan lupakan itu. Ini karena banyak kompor, karena dipanas-panasi, dikompor-kompori jadi panas semuanya," kata Jokowi di hadapan masyarakat adat Komering Raya, Sumsel, di Griya Agung, Kota Palembang, Minggu (25/11/2018) kemarin.

Sebelumnya, Jokowi juga sudah melempar diksi tentang istilah politik 'sontoloyo' dan 'genderuwo'. Diksi tersbut bahkan sampai di angkat menjadi tema diskusi ILC di stasiun televisi berita nasional.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...