logo

01/11/18

Bui Pengkritik Azan, Hakim Abaikan Surat Aliansi Umat Islam Dkk

Bui Pengkritik Azan, Hakim Abaikan Surat Aliansi Umat Islam Dkk

NUSANEWS - Pengadilan Tinggi (PT) Medan tetap menghukum Meliana selama 18 bulan penjara. Hakim tinggi menyatakan Meliana melakukan penistaan agama karena mengkritik volumen azan. Padahal, sejumlah organisasi menilai sebaliknya.

Dalam proses banding itu, sejumlah organisasi mengirimkan keberatan atas vonis Pengadilan Negeri (PN) Medan atas Meliana. Seperti:

1. Aliansi Umat Islam Kota Tanjung Balai, Sumut.
2. Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) FH UI.
3. Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).
4. Koalisi Masyarakat Sipil dan Peduli Toleransi, Pemajuan HAM dan Pembangunan yang Berkeadilan.
5. Kontras.

"Adalah hal-hal yang dijadikan masukan oleh majelis hakim tingkat banding dalam memutus perkara ini, akan tetapi tidak dipertimbangkan secara khusus dalam putusan, karena keberatan-keberatan tersebut disampaikan di luar persidangan," demikian bunyi putusan banding sebagaimana dilansir PT Medan, Rabu (31/10/2018).

Vonis itu diketok pada 22 Oktober 2018 oleh ketua majelis Daliun Sailan dengan anggota Prasetyo Ibnu Asmara dan Ahmad Ardianda Patria. Meliana dinilai melanggar Pasal 156 KUH, dengan perbuatan mengucapkan kata-kata:

Lu..ya..lu...ya. Kita sudah sama-sama dewasa, ini negara hukum, itu masjid bikin telinga gua pekak, sakit kuping, hari-hari ribut, pagi ribut, siang ribut, malam ribut, bikin gua tidak tenang.

"Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 1612/Pid.B/2018/PN.Mdn tanggal 21 Agustus 2018 yang dimintakan banding tersebut. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan. Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding ini ditetapkan sebesar Rp 2.500," ujar majelis.


© NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...