logo

21/11/18

Bikin Resah, Komisi Agama Desak BIN Umumkan 50 Ulama Radikal

Bikin Resah, Komisi Agama Desak BIN Umumkan 50 Ulama Radikal

NUSANEWS -  Badan Intelijen Negara (BIN) diminta mengumumkan nama 50 penceramah yang dianggap radikal.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily mengatakan, jika BIN menilai bahwa paham radikal dilakukan para penceramah dan berafiliasi ke organisasi mana, dan memiliki jaringan, sebaiknya diumumkan saja ke publik.

“Diumumkan saja nama-namanya agar publik tahu,” ujar Ace kepada wartawan, Rabu (21/11).

Ditambahkan Ace, pihaknya yang membindangi soal kegamaan telah melakukan pembahasan terkait penceramah atau mubaligh bersama Kementerian Agama.

“Komisi VIII pernah menyepakati dalam sebuah rapat kerja dengan Menteri Agama tentang penceramah atau mubaligh,” kata Ace.

Lebih lanjut dia meminta pihak kepolisian bersama BIN agar tidak membiarkan hal ini karena dianggap bisa mengancam persatuan NKRI.

“Kepolisian dan BIN tidak bisa membiarkan pihak-pihak yang selalu menebarkan kebencian itu bebas menyeru kepada tindakan yang mengarah pada tegaknya NKRI ini,” pungkas Ace.

Sebelumnya BIN diprotes sejumlah pihak tentang ulama radikal dan masjid di lingkungan pemerintah terpapar radikalisme. Pernyataan BIN terkait ulama radikal dianggap meresahkan umat

“Kami menyatakan protes keras terhadap tuduhan terhadap kami (karyawan BUMN) yang mengunakan masjid di lingkungan kantor tempat kami bekerja yang dianggap BIN ada radikalisme,” kata Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu. Arief Poyuono, Selasa malam (20/11).

Komentar singkat Arief Poyuono ini adalah bentuk respons pernyataan BIN soal temuan 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terpapar radikalisme yang didapat dari hasil survei oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama.

Arief Poyuono menegaskan, tidak mungkin radikalisme muncul di lingkungan BUMN, sebab tidak adanya gejala penyebab tumbuh kembangnya paham radikal, seperti ketidakpuasan terhadap kebijakan, terpengaruh oleh isu isu Sosial politik yang mengarah pada politik identitas, primodialisme dan rasisme serta faktir ekonomi.

“Kami ini berpendidikan tinggi, bergaji lumayan, jadi tidak mungkin terpapar radikalisme,” demikian Arief.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...