logo

01/11/18

500 Hari kasus penyerangan Novel Baswedan tanpa kejelasan

500 Hari kasus penyerangan Novel Baswedan tanpa kejelasan

NUSANEWS - 500 hari sudah berlalu pasca penyerangan air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pihak Polda Metro Jaya yang diberikan tugas untuk menguak pelaku dan dalang penyerangan air keras tersebut belum mampu mengungkap.

Banyak pihak yang putus asa Polda bisa mengungkap pelaku sekaligus dalang. Mereka pun meminta agar Presiden Joko Widodo alias Jokowi segera membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Namun permintaan tersebut belum diindahkan oleh Jokowi. Bahkan, pimpinan KPK sendiri masih menaruh harapan agar Kepolisian mampu mengungkap, meski sejauh ini masih nihil.

Ketua KPK Agus Rahardjo sempat menyatakan akan berunding terlebih dahulu dengan pimpinan KPK lainnya terkait desakan pembentukan TGPF. Saat itu, Agus didesak oleh mantan Komisioner KPK Bambang Widjoyanto, Najwa Shihab dan lainnya untuk segera meminta kepada Jokowi membentuk TGPF.

Namun rupanya desakan tersebut tidak membuat KPK mengambil keputusan terkait pembentukan TGPF. Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, pembentukan TGPF dikhawatirkan akan menghentikan penyelidikan yang diklaim Polda Metro Jaya sudah dilakukan.

Saut menyatakan, jika ada pihak-pihak yang memiliki bukti dan informasi terkait penyerangan air keras tersebut lebih baik melapor langsung ke Polda Metro Jaya.

"Jalan terbaik adalah membantu Polri. Membantu Polri tidak harus membentuk tim juga. Kalau nanti dibentuk, apakah efisien. Pengalaman menunjukkan tim-tim seperti itu tidak menemukan sesuatu yang baru untuk ditindaklanjuti," kata Saut beberapa waktu lalu.

Melihat pimpinan KPK belum bersikap, Wadah Pegawai KPK pun langsung bersuara. Beberapa kali Wadah Pegawai KPK menyuarakan agar Jokowi segera membentuk TGPF lantaran Polri dianggap tak becus mengusut kasus ini.

Bahkan Wadah Pegawai KPK menyediakan dua sepeda untuk diberikan kepada mereka yang bisa mengungkap dalang dan pelaku penyerangan Novel. Hal tersebut mereka lakukan untuk menyindir Polri dan Jokowi.

Ketua WP KPK, Yudi Purnomo menyebut kasus Novel Baswedan tak jauh berbeda dengan yang dialami oleh aktivis HAM Munir Said Thalib. Menurut Yudi, ada kemungkinan apa yang terjadi dengan Novel akan dialami pula oleh pegawai di instansi lainnya yang berusaha membela kebenaran.

"Kasus Novel merupakan kasus nasional yang harus dituntaskan," kata Yudi.

Kondisi Novel sendiri kini sudah mulai membaik. Sang istri, Rini Emilda menyebut Novel sudah mulai bekerja seperti biasa.

Meski kondisi suaminya dianggap lebih baik dari sebelumnya, tetap saja masih tersimpan luka di hati Rini. Bagaimana tidak, sudah 500 hari pelaku maupun dalang penyerangan air keras terhadap suaminya belum juga diungkap pihak Kepolisian.

"500 hari bukan waktu yang sebentar, presiden menyampaikan bahwa sementara memberikan waktu kepada Polri untuk mengungkap, lalu presiden butuh waktu berapa lama lagi?" kata Rini.

Rini masih berharap kepada Presiden Joko Widodo untuk tidak membuat larut kasus ini. Sebab, menurut Rini, penyerangan air keras terhadap suaminya merupakan kejahatan yang serius dan harus segera diungkap.

"Kalau pimpinan Polri takut atau lain hal, itu bisa dipahami, pimpinan Polri itu juga bisa diintervensi. Tetapi kalau presiden tidak bertindak karena takut, itu hal yang menyedihkan dan mengecewakan," kata Rini.

Terkait dengan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Rini sepertinya sudah pesimis. Menurut Rini, dia dan keluarga sudah berkali-kali meminta kepada Jokowi untuk segera membentuk TGPF.

"TGPF sudah diminta beberapa kali, tapi presiden mau bentuk tim lain. Kita enggak tahu tim apa, kita lihat saja," tutup Rini.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...