logo

05/11/18

5 Fakta “Tampang Boyolali” ala Prabowo yang Berujung Protes

5 Fakta “Tampang Boyolali” ala Prabowo yang Berujung Protes

NUSANEWS -  “..dan saya yakin kalian enggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini,”.

Seperti itulah penggalan pidato Prabowo Subianto di atas yang membuat masyarakat akhir-akhir ini gaduh. Pidato tersebut langsung membuat ribuan warga di Boyolali turun ke jalan untuk mendesak Prabowo Subianto meminta maaf, pada hari Minggu (4/11/2018) kemarin.

Usai insiden pidato tersebut, klarifikasi untuk meluruskan maksud pidato Prabowo tersebut pun segera dilakukan. Bahkan, kubu Prabowo-Sandi juga melihat adanya pelanggaran di saat demonstrasi ribuan warga di Boyolali tersebut.

Berikut beberapa fakta lengkap pidato “Tampang Boyolali” ala Prabowo Subianto, yang berujung protes warga Boyolali:

1. “Tampang Boyolali” membuat gerah warga Boyolali

Seorang pria bernama Dakun (tengah berbaju merah) melaporkan Prabowo Subianto ke Polda Metro Jaya, Jumat (2/11/2018) malam terkait ucapan tampang Boyolali yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya di Jawa Tengah.(Kompas.com/Sherly Puspita)
Pada hari Jumat (2/11/2018) malam, Dakun melalui kuasa hukumnya Muannas Alaidid mengatakan, melaporkan Prabowo karena ucapan “tampang Boyolali” dalam pidato Prabowo di Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

Dakun merasa gerah setelah melihat sebuah unggahan di Youtube tentang pidato Prabowo Subianto saat berada di Boyolali.

Dakun menyebutkan, laporannya atas nama pribadi, sebagai masyarakat Boyolali yang tersinggung sehingga mengalami kerugian imaterial.

“Saya asli dari Boyolali. Kami merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo, bahwa masyarakat Boyolali itu kalau masuk mal atau masuk hotel itu diusir karena tampangnya itu tampang Boyolali,” kata Dakun.

Dakun melaporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan dugaan mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 4 huruf b angka 2 jo Pasal 16 UU RI nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 165 KU

2. Pidato saat meresmikan kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandi 

Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto, Saat Bersilaturrahim Dengan Tokoh Agama di Kecamatan Tanggul, Jember, Jawa Timur.(KOMPAS.com/ DOK HUMAS GERINDRA JEMBER)

Pidato “tampang Boyolali” disampaikan dalam acara peresmian Kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018) kemarin.

Pemilik akun Youtube, Taufik Irvani, mengunggah penggalan pidato Prabowo berdurasi 2 menit pada 1 November 2018.

Potongan video itu segera viral dan menuai protes warganet. Salah satunya Dakun, warga Boyolali di Jakarta, yang melaporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya.

“Mungkin ada yang menerima tapi jangan membatasi juga kemudian ada yang tersinggung, mungkin yang hadir di situ ada pendukungnya Pak Prabowo, tapi ada juga pendukungnya Pak Jokowi, mungkin merasa tersinggung,” kata Muannas, kuasa hukum Dakun pada hari Jumat (2/11/2018).

3. Ribuan warga protes dan meminta Prabowo meminta maaf

Warga Boyolali membawa poster dan spanduk protes terhadap pidato Prabowo memadati ruangan di Balai Sidang Mahesa di Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018).(KOMPAS.com/LABIB)

Aksi protes ribuan warga di Balai Sidang Mahesa Boyolali berlangsung mulai pukul 08.00-11.00 WIB, Minggu (4/11/2018).

Warga juga melakukan aksi konvoi di jalan menggunakan sepeda motor sambil membawa spanduk #SaveTampangBoyolali.

Warga juga turut mengarak bendera merah putih raksasa berukuran 50×10 meter keliling jalan untuk menunjukkan warga Boyolali adalah warga Indonesia.

Ketua DPRD Boyolali, yang juga koordinator aksi protes, S Paryanto mengungkapkan, aksi protes diikuti sekitar 15.000 warga Boyolali. Menurut dia, aksi dilakukan secara spontan dan tidak ada muatan politik.

“Hari ini spontan warga melakukan aksi protes atas pidato Prabowo. Ini murni riil gerakan masyarakat Boyolali. Tidak ada muatan apa pun. Jadi, jangan ada salah arti, salah persepsi,” ujar Paryanto di Balai Sidang Mahesa Boyolali, Jawa Tengah.

4. Klarifikasi Jubir Prabowo-Sandi terkait “tampang Boyolali”

Juru Bicara Badan Pemenangan Prabowo-Sandi Provinsi Jateng Sriyanto Saputro (kiri) dan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi Ferry Juliantono dalam konferensi pers di Solo, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018).(KOMPAS.com/LABIB ZAMANI)

Juru Bicara Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini, menjelaskan maksud kata “tampang Boyolali” adalah ajakan.

“Konteks pidato itu ajakan, ayo kita memperbaiki kondisi kita bersama-sama. Yakin kan warga Boyolali kalau kehidupan kita tidak banyak berubah. Itu pesan utamanya. Maksudnya, tentu untuk memotivasi timses,” ujar Faldo kepada, Minggu (4/11/2018).

Menurut Faldo, saat itu Prabowo sedang membahas tentang akses kesejahteraan yang menjadi agenda besar timses. Adapun salah satu topiknya membahas peningkatan kapasitas produksi sebab menurut data yang diterima terjadi penurunan kesejahteraan di desa.

“Jangan sampai soal penurunan kesejahteraan ini terus berlanjut, itu pesan dari Pak Prabowo,” katanya.

5. Kubu Prabowo-Sandi tuding aksi di Boyolali telah diskreditkan Prabowo

Calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menerima dukungan dari ulama di GOR Soemantri, Minggu (4/11/2018). (KOMPAS.com/JESSI CARINA )

Badan Pemenangan Prabowo-Sandi Provinsi Jawa Tengah, Sriyanto Saputro dalam konferensi pers di Solo, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018), menuding aksi massa telah mendiskreditkan Prabowo.

Menurutnya, banyak spanduk dan baliho yang dibawa massa aksi protes bernada ujaran kebencian.

“Kalau boleh dikatakan sudah menyebar kebencian karena banyak baliho, kemudian spanduk yang mendiskreditkan Pak Prabowo. Biar saja, tapi rakyat yang akan menilai,” kata Sriyanto.

“Yang juga kami heran kok sampai mengerahkan, memobilisasi ASN. Ada camat, kades, kami punya bukti-buktinya di sana,” tambahnya.

Meski menilai ada pelanggaran, Sriyanto mengatakan, pihaknya tetap menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut ke Bawaslu.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...