logo

31/10/18

Ulang Sejarah 2014, Ini yang Harus Dilakukan Golkar Sulsel

Ulang Sejarah 2014, Ini yang Harus Dilakukan Golkar Sulsel

NUSANEWS - Masyarakat Sulawesi Selatan menantikan sepak terjang Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) di Pemilu 2019 mendatang.

Golkar Sulsel berhasil mencatat sejarah menjadi Partai Berkuasa di Sulsel hingga pada Pemilu 2014 dengan memenangkan salah satunya menjadi pemenang pada Pemilu 2019 pada raihan 18 Kursi dari 85 kursi DPRD Sulsel.

Salah satu catatan penting kemenangan Golkar Sulsel ini tidak lepas dari kontribusi Kepala Daerah dan Gubernur Sulsel yang juga adalah kader Golkar. Namun pada Pilkada 2018 lalu, Golkar Sulsel memberi catatan buruk dengan tidak mampu memenangkan Pilgub Sulsel.

Sejarah itu tentu menjadi penantian seluruh elemen Golkar Sulsel untuk bisa terulang kembali di Pemilu 2019 mendatang.

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar Arif Wicaksono memberikan sejumlah catatan poin penting jika Golkar Sulsel masih ingin memenangkan Pemilu 2019.

Arif Wicaksono menyebutkan, bagi Golkar Sulsel saat ini, yang paling penting adalah mendekatkan diri kepada pemilih di Sulsel.

“Tidak ada strategi yang lebih jitu ketimbang, mendekatkan diri ke calon pemilih,” kata Arif Wicaksono di Makassar, Rabu (31/10/2018).

Arif Wicaksono berpendapat, sudah saatnya Golkar Sulsel merubah program elitismenya dengan kerja-kerja yang lebih egaliter dengan pembasisan.

“Elitisme caleg Golkar harus diganti dengan program-program kerja berbasis egalitarianisme dan populisme kontemporer agar bisa bertahan dan mengulang sejarah,” ungkap Arif Wicaksono.

Sebab kata Arif Wicaksono, para kompetitor Golkar saat ini sudah sangat berkualitas dan berpotensi menghadang pengulanagn sejarah 2014 ke 2019 tersebut.

Terlebih disebutkan Arif Wicaksono, terdapat pula caleg partai lain yang merupakan eks kader Golkar Sulsel. Akibatnya mereka memahami banyak sedikitnya terkait Golkar Sulsel.

“Kemampuan caleg parpol lain juga sudah mulai berusaha menyamai dan menyaingi Golkar, yang menjadi ironi adalah, mereka adalah alumni Golkar. Hal ini tidak akan terjadi jika saja Golkar terus menempatkan dirinya sebagai partai semua orang, bukan partainya segelintir kelompok,” tutup Arif Wicaksono.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...