logo

24/10/18

Sikapi Pembakaran Bendera Tauhid, Mardani: Enggak Bisa Kalau FPI dan PA 212 Enggak Diajak

Sikapi Pembakaran Bendera Tauhid, Mardani: Enggak Bisa Kalau FPI dan PA 212 Enggak Diajak

NUSANEWS - Polisi masih terus mendalami insiden pembakaran bendera Tauhid oleh oknum anggota anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Peristiwa itu sendiri mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Tak sedikit pula yang kemudian mengecam tindakan tersebut.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera pun angkat bicara terkait peristiwa tersebut.

Mardani pun menuntut permintaan maaf dari Banser terkait kelakuan anggotanya di Garut, Jawa Barat itu.

Demikian disampaikan Mardani Ali Sera ditemui di Arya Duta Hotel, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

“Oh iya, (harus ada pengakuan) bahwa itu salah. Kalau itu tidak mengakui kesalahan, maka kasihan masyarakat nanti,” tegasnya.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu menambahkan, energi masyarakat akan terkuras habis karena masalah pembakaran bendera dimaksud.

Sehingga, kata dia, dikhawatirkan nantinya masyarakat akan jadi korban jika Banser tidak segera melayangkan permintaan maaf.

“Akhirnya nanti energi kita habis untuk perkara yang sebetulnya bisa kita selesaikan dengan sederhana,” katanya.

Penggagas #2019GantiPresiden itu mengimbau semua pihak tetap memprioritaskan agar masalah pembakaran bendera kalimat tauhid cepat dituntaskan.

Mardani menyarankan, akan sangat baik jika semua organisasi Islam duduk bersama guna mencari solusi dari insiden tersebut.

Menurutnya, elite juga membuat statemen yang meneduhkan, yang membuat publik memahami kalau ini perilaku yang salah yang tidak perlu dibesarkan.

“Pihak-pihak yang berkepentingan seperti MUI, NU, Muhammadiyah, gabung bersama teman-teman FPI dan PA 212 untuk duduk bersama,”

“Enggak bisa kalau FPI dan PA 212 enggak diajak duduk bersama,” katanya lagi.

Terbaru, ada fakta yang didapat polisi berdasarkan keterangan dari ketiga orang yang sudah diamankan di Polres Garut.

Didapati, bahwa peserta acara Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat itu tidak diperkenankan membawa bendera selain bendera Merah Putih oleh panitia.

Demikian disampaikan Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2018).

“Panitia sudah menyampaikan tidak ada bendera selain bendera merah putih, tapi ternyata ada yang membawa itu, maka diamankan,” jelasnya.

Kendati demikian, lanjutnya, pihaknya masih membutuhkan keterangan tambahan dari para saksi lainnya.

Hal itu diperlukan agar polisi bisa mendapatkan gambaran jelas atas peristiwa pembakaran bendera yang mirip dengan bendera ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu.

“Kemudian penyidik pasti mencari motif-motifnya. Pasti akan dicari motifnya kenapa dia membakar, harus diungkap tapi dalam pro justicia,” beber Setyo.

Di sisi lain, Setyo mengimbau agar semua pihak mempercayakan penannganan kasus itu kepada kepolisian.

Pihaknya menjamin, Polri dalam hal ini bertindak profesional dan proposional.

“Berikan waktu kepada penyidik Polri untuk melakukan pendalaman atas peristiwa ini. Polri akan bertindak profesional,” kata Setyo.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...