logo

25/10/18

Palu Nomoni, Festival Budaya atau Ritual Pemuja Setan Pemicu Gempa dan Tsunami? (2)

Palu Nomoni, Festival Budaya atau Ritual Pemuja Setan Pemicu Gempa dan Tsunami? (2)

NUSANEWS - Bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) sudah hampir sebulan berlalu.

Pada 28 September lalu, Kota Palu, Donggala dan Sigi diguncang gempa, diterjang tsunami dan ditelan lumpur likuifaksi, saat Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) akan dibuka.

Pemerintah Kota Palu didukung Pemprov Sulteng dan Kementerian Pariwisata awalnya berencana menggela FPPN pada 28-30 September.

Ini merupakan event tahunan (edisi ketiga) yang digelar sejak era walikota Hidayat dan wakilnya, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu memimpin pemerintahan di Palu.

Acara ini rencananya dipusatkkan di Sepanjang Pesisir Teluk Palu, dimulai dari ujung Hotel Wina Pantai sampai ujung menuju belokan menuju Swiss Bell Hotel.

Bagi Pemkot Palu, hajatan Palu Nomoni ini untuk mengungkap kembali kearifan budaya masa lalu yang sudah ratusan tahun tenggelam.

Target utamanya adalah mempromosikan pariwisata Sulteng, khususnya Palu hingga ke mancanegara.

Beragam kegiatan sudah disiapkan untuk meramaikan FPPN ini, dengan konsep acara sesuai namanya, Palu Berbunyi (ramai).

Salah satu sudut kawasan Kebun Kopi yang disebut Uentira dan dipercaya warga Palu merupakan kota jin yang penuh misteri. Foto: Medil/PojokSatu.id

Mulai atraksi tarian, pertunjukan seruling tradisional kolosal lalove dan panggung gimba di sepanjang teluk Palu.

Ada juga, lari maraton, lomba paralayang dan lainnya.

Sebenarnya keinginan Pemkot Palu mempromosikan budaya dan adat setempat ke kancah internasional sudah berada di jalur yang tepat.

Terbukti, acara FPPN sudah mendapat perhatian wisatawan mancanegara.

Bahkan konon ratusan peserta Paralayang dari berbagai negara sudah berdatangan dan menginap di Hotel Roa-roa.

Salah satu hotel yang luluhlantak akibat gempa 7,7 SR akhir September lalu.

Namun yang paling disorot dari Palu Nomoni adalah ritual adat Balia.

Belakangan, pasca-gempa ritual Balia ini yang memicu kemarahan warga karena dianggap sebagai ritual memuja setan atau jin.

Penampakan Petobo, Palu Selatan, yang mengalami likuifaksi usai gempa dan tsunami.

Beberapa hari setelah gempa terjadi di sudut-sudut Kota Palu banyak aksi vandalisme yang menyebut walikota Palu melakukan penyembahan terhadap setan, sehingga menyebabkan bencana alam di Sulteng.

Namun Walikota Palu, Hidayat membantah isu tersebut. Menurutnya, tidak ada ritual pemujaan setan di acara Palu Nomoni.

FPPN hanya diisi pertunjukan seni yang dipadu dengan kebudayaan Sulawesi. Hal itu lazim dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Saya kira semua daerah punya ritual-rituan kan. Sebenarnya ini bukan ritual lagi, tetapi ini pertunjukan semacam seni budaya, sebenarnya begitu,” ucap Hidayat dalam jumpa pers di rumah dinas Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu di Palu, Sulteng, Rabu (10/10).

Sebuah kapal terseret gelombang tsunami usai gempa Sulawesi Tengah. Foto JPG

Adapun ritual Balia yang ditampilkan dalam FPPN tersebut merupakan upacara adat yang dikemas dalam pertunjukan. Tidak ada unsur pemujaan setan.

“Kalau kita mau melakukan ritual kita bikin Balia itu empat hari empat malam. Tetapi ini yang kita tampilkan adalah seni pertunjukan,” ujarnya.

Salah seorang tokoh adat Palu yang ditemui Pojoksatu.id, Bahtiar mengatakan memang ada kekeliruan dalam konsep acara Palu Nomoni yang digelar Pemkot Palu dengan masuknya ritual Balia.

Bahtiar mengakui nenek moyang Suku Kaili (warga asli Palu) memang mengenal ritual Balia. Tapi pelaksanaannya tidak dilakukan dalam suasana keramaian.

Warga menghidangkan sesajen untuk penguasa laut Palu

“Itu ritual nenek moyang Suku Kaili untuk penyembuhan orang yang sudah lama sekali menderita penyakit. Dan dilakukan di tempat sunyi, bukan di tempat terbuka yang ramai seperti di anjungan itu,” jelasnya.

Menurutnya, jika Pemkot Palu ingin mempromosikan kearifan lokal atau budaya Suku Kaili ke tingkat nasional bahkan mancanegara.

Maka seharusnya acara adat seperti tarian Pomonte, Adat Peduta (pesta pernikahan) atau Movunja (pesta panen).

“Saya kira acara-acara adat seperti itu lebih cocok dipromosikan dan bisa mengangkat pariwisata Palu. Tapi kalau Balia, konsepnya sangat bertentangan dengan kebiasaan leluhur kami,” kata Bahtiar.

Belum lagi dalam adat Balia, biasanya ada sesajen yang isinya beragam makanan tradisional, ayam putih, pemotongan kambing atau kerbau dan sebagainya.

Dan, ritual Balia itu sejatinya untuk memanggil ruh atau arwah nenek moyang yang ada di Uentira (Kota Jin) untuk memberikan petunjuk penyembuhan orang yang sakit atau objek dalam ritual tersebut.

“Gambaran kasarnya begini. Balia itu untuk memanggil arwah nenek moyang yang ada di Uentira untuk menyembuhkan orang yang sakit,”

“Masalahnya, mereka (ruh atau arwah nenek moyang) tidak ingin atau tidak suka jika ritual dilakukan dalam keramaian. Mereka pasti akan murka,” tuturnya lagi.

Warga menghidangkan sesajen untuk penguasa laut Palu

Tokoh ada Palu lainnya, Badri Masyut Yutji mengatakan pertanda murkanya arwan nenek moyang Suku Kaili sebenarnya sudah diperlihatkan pada even Palu Nomoni dua edisi sebelumnya.

Pada Palu Nomoni edisi pertama atau tahun 2016, buaya-buaya putih bermunculan di muara sungai dan pesisir teluk Palu.

Bahkan katanya ada warga yang jadi korban dimakan buaya.

Setahun kemudian atau pada 2017 lalu, pada saat diadakan Palu Nomoni, Kota Palu dilanda hujan lebat dan badai yang bagitu kencang.

“Itu kan sudah pertanda, mereka murka,” katanya.

Dan pada acara yang ketiga kalinya ini, bencana dahsyat nan komplit melanda. Gempa, tsunami dan likuifaksi.

“Sebagai umat muslim kami percaya bahwa bencana ini adalah teguran atau cobaan dari Allah SWT,”

“Tapi tak bisa dipungkiri bahwa di sini ada tradisi atau adat yang pelaksanaannya tidak boleh melampaui batas,” pungkasnya.

(Jumaidil Halide)



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...